Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau ” (Yohanes 21:17). Berangkat dari pengalaman hidup dan dibantu lewat permenungan, saya terinspirasi akan dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam dialog itu Yesus ingin melihat dan mendengar jawaban tegas,  penuh tanggungjawab dari Petrus akan suatu tugas yang dipercayakan oleh Yesus kepadanya.

Jika dibaca sekilas, pertanyaan yang disampaikan Yesus kepada Petrus tampaklah sederhana. Akan tetapi jika dipahami dengan baik, pertanyaan tersebut memiliki arti dan makna terdalam.  “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”  Pertanyaan ontologis dari Yesus ini saya jadikan jembatan untuk melihat kembali perjalanan panggilan hidup saya hingga sampai pada titik ini.

Nama saya Andreas Dedi Dores Salamanang. Andreas adalah nama pelindung yang diambil dari salah satu nama ke dua belas Rasul.  Dedi Dores adalah penyanyi yang saat saya lahir lagi ngetop. Salamanang adalah marga saya. Nama salah satu marga dari sekian banyak marga orang Mentawai. Saya lahir di Matobe Sarere (Sikakap-Mentawai), dari keluarga sederhana. Saya bungsu dari empat bersaudara.

Saya tertarik masuk seminari pertama-tama bukan untuk menjadi imam. Saat itu, saya kagum sedikit cemburu terhadap para seminaris dan suster yang memiliki bakat dan kemampuan lebih setelah di seminari dan di biara.  Saat liburan, mereka aktif di Gereja; melatih koor, bermusik, menganimasi perayaan Ekaristi,  dan liturgi lainnya. Saya juga terkagum melihat kemampuan mereka di bidang olahraga. Kemampuan empirik yang mereka tampilkan membuat saya penasaran. Ada apa?   Apa yang mereka makan dan pelajari sehingga hampir semua bidang dikuasai?  Itulah yang menggelitik hati saya.  Saya mau masuk seminari supaya bisa seperti mereka.

Niat itu semakin membara ketika kelas III SMP Yos Sudarso, Paroki  Muara Siberut. Saya tinggal di asrama paroki yang diasuh Imam Misionaris Serikat Xaverian. Para imam Xaverian ini membentuk kelompok panggilan. Saya mendaftarkan diri sebagai anggotanya. Selama tiga tahun saya aktif  dalam berbagai kegiatan,  baik dalam mengolah kemampuan diri di bidang intelektual, bermusik,  dan olahraga. Saya juga merasa beruntung bersekolah di sekolah Katolik yang tidak hanya berfokus pada intelektual, tetapi juga disiplin dalam memanfaatkan waktu, membina moral dan karakter.

Di seminari, mulai dari rhetorika sampai tingkat II (Semester IV) orientasi hidup saya tergantung pada ritme dan formalitas di seminari. Rutinitas harian menjadi jembatan bagi  saya untuk bisa mengimbangi dan menyesuaikan diri dalam formatio (pembinaan). Ada rasa bahagia tertanam dalam hati, karena  bisa tinggal dan hidup bersama di komunitas orang-orang terpanggil. Namun waktu itu saya sadari bahwa kebahagiaan itu belum sampai pada esensi panggilan yang sesungguhnya. Artinya, motivasi awal  masuk seminari untuk mengembangkan bakat dan kemampuan diri masih mendominasi arah dan sikap saya dalam pembinaan diri sebagai calon imam.  Ketidakpuasan saya dalam mengolah bakat ini justru membuat saya percaya bahwa seminari bukanlah tempat khusus untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Bakat itu sebenarnya sudah ada dalam diri, tergantung cara mengolah dan mengembangkannya agar lebih berdayaguna bagi diri dan orang lain.

Kesadaran dan kemauan menjadi imam justru saya rasakan saat tingkat III (setelah rutin berkunjung ke stasi). Kerasulan yang diprogramkan oleh kampus dan rumah sungguh menyadarkan saya betapa umat sungguh-sungguh membutuhkan dan merindukan kehadiran imam. Kegiatan kerasulan membangkitkan gairah saya untuk menjadi imam. Pengalaman perjumpaan dengan umat di stasi-stasi ruang awal bagi saya semakin mengenal rahmat dan panggilan Allah ini.

Kenyataan pastoral yang sesungguhnya saya alami ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Air Molek, Riau. Wilayah pastoral yang berat dengan jumlah 37 stasi dan 9 lingkungan semakin menguatkan dan memotivasi saya untuk tetap menjadi imam. TOP mengajarkan saya banyak hal,  terutama soal tanggungjawab dan makna kehadiran seperti pesan Mgr.  Martinus (Alm.):  “Umat tidak menuntut ilmu filsafatmu, teologi,  dan gelar akademik…yang dibutuhkan umat pertama-tama adalah arti kehadiranmu. Karena kehadiranmu berarti untuk umat, persiapkanlah dirimu…jangan biarkan umat pulang tanpa bawa apa-apa”. Pesan ini bermakna untuk saya,  bukan semata-mata memiliki nilai dan kandungan pastoral dan teologis yang luhur, tetapi Bapa Uskup ingin menekankan bahwa betapa berharga dan bernilainya panggilan. Pengalaman berpastoral sungguh mengubah hidup dan paradigma saya tentang panggilan imam. Menjadi imam berarti berani melibatkan dan ikut ambil bagian dari imamat Kristus. Untuk itu seorang imam harus berupaya semaksimal mungkin menghadirkan Kristus di dunia lewat tutur kata, pola hidup, sikap,  dan praksis hidup yang tampak dalam pelayanan.

Imam adalah pancaran konkret dari wajah kasih Allah di tengah dunia. Dengannya, para imam diharapkan bertindak dan berperilaku seperti Kristus yang berbelas kasih terhadap dunia. Imamat yang diterima oleh para imam merupakan kelanjutan dari Imamat Kristus. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih oleh Allah dari antara seluruh manusia yang berada di muka bumi ini. Mereka berperan sebagai wakil-Nya, menghadirkan Kerajaan Allah dan mewartakan sukacita Injili.

Sebagai pribadi yang dipanggil dan dipilih, para imam tentu tidak terlepas dari unsur kemanusiaannya, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Sakramen Imamat yang diterima tidak menjadikan imam otomatis sebagai manusia yang sempurna, yang tidak terluput dari dosa dan kesalahan. Namun di balik semua itu ada hal yang menarik yakni berkat rahmat tahbisan yang mereka terima menjadikan para imam sebagai manusianya Allah “Man Of God ”. Berkat rahmat tahbisan itu pula, imam dipercaya untuk menguduskan, mengajar,  dan memimpin umat Allah. Untuk itu,  bagi saya,  imam hendaknya menjadi berkat bagi semua orang. Berkat rahmat tahbisan, imam diharapkan menjadi representasi kehadiran Allah,  sehingga umat mampu menjadi jembatan yang menghubungkan umat untuk bertemu dengan Allah. Bukan malah menjadi batu sandungan!

Dari seluruh perjalanan hidup, dengan segala jatuh bangun,  saya menarik kesimpulan panggilan adalah rahmat dan karunia terindah dari Allah. Sehebat apa pun seseorang untuk melarikan diri,  tak akan mungkin bisa bersembunyi dari bisikan dan panggilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Sebab Tuhan memanggil dan memilih kita dengan cara-Nya yang unik dan khas. Maka, dengan pilihan yang bebas: “Saya memutuskan untuk melanjutkan panggilan ini  dengan menjadi imam Diosesan Keuskupan Padang”. Keputusan ini saya ambil dengan sadar, bebas, dan tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan mematahkan panggilan saya,  meskipun sudah terkulai dan tidak akan memudarkan panggilan saya,  kendatipun tawaran dan kenikmatan dunia berusaha meredupkannya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.