“Tidak mudah bagi saya menjadi pendamping (pengawas) asrama putera. Apalagi beda usia saya dengan penghuni sangat tipis. Hanya satu tahun. Agar tugas ini lancar, saya berusaha mengenal dan memahami tindak tanduk para penghuni satu persatu,” ucap Arisman Sugianto Gulo (20).

Di usia remajanya, alumni SMA Negeri 1 Pagai Selatan (2020) ini diminta pastor paroki St. Maria Assumpta-Sikakap sebagai pendamping/pengawas asrama putera. Remaja kelahiran Dusun Lakkau-Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Mentawai 4 April 2001 tidak langsung menerima permintaan tersebut. Ia meminta waktu sebulan untuk mempertimbangkannya. Akhirnya, sulung dua bersaudara dari pasangan Yulius Gulo dan Marsaida Samaloisa (alm.) ini bersedia. “Kalau tamat sekolah, saya tetap di kampung tidak akan Maka, sejak 26 Januari 2021, saya menjadi pengawas bagi 38 penghuni asrama paroki,” katanya.

Penghuni asrama putera St. Vincentius-Sikakap ini beragama; dari peserta didik SD (7 orang), SMP (26), dan SMA (5). Penghuni tertua hanya setahun lebih muda dari dirinya. Setelah enam bulan dijalani, suka duka dialami Aris; berkembang. misalnya penghuni yang tidak mau diatur berdisiplin dan taat tata tertib, malas, menghindar dari tanggung jawab, bahkan ada yang kabur keluar asrama. Walau demikian, sambung Aris, dirinya berupaya mendekatkan diri pada penghuni agar lebih mengenali satu per satu, terutama pada waktu rekreasi/bermain bersama dan membantu mereka yang mengalami kesulitan belajar. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *