Dalam pengertian sederhana, bekerja diartikan sebagai usaha yang dilakukan manusia untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi tujuan tertentu; misalnya gaji. Selain tujuan pokok bekerja tersebut, dalam dunia kerja (work-life), bekerja memiliki tujuan tersendiri dalam mewujudkan rasa kemanusiaannya.

Bagaimana jadinya kalau manusia ‘dikuasai’ pekerjaannya atau popular dengan istilah “kerja-kerja-dan kerja”?  Kerja, pekerjaan, bekerja dalam masa pandemi Covid-19 dapat dilakukan dari rumah (work from home/WFH). Saya memaknai kerja adalah berkarya, mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu, berbuat sesuatu yang ada hasilnya. Dalam konteks istilah “kerja-kerja-dan kerja” bisa dimaknai positif maupun negatif. Kalau kerja terus (tanpa henti) dan melalaikan istirahat serta hal lainnya yang menyangkut diri sendiri – dikenal istilah burnout – juga tidak baik.

Bila mengacu pada piramida Maslow tentang ‘kebutuhan manusia’, setiap orang punya kebutuhan yang semakin meningkat. Mulai dari kebutuhan dasar yakni pemenuhan psikologis/physiological needs (contohnya udara, air, makanan, tempat tinggal, sandang, dan reproduksi) hingga kebutuhan tertinggi yakni aktualisasi diri (self actualization). Artinya, kebutuhan manusia tidak cukup hanya untuk mendapatkan duit/uang/penghasilan dengan kerja dan kerja saja. Pada tingkatan berikutnya, lebih tinggi dari kebutuhan dasar adalah kebutuhan rasa aman dan nyaman (safety needs), contohnya: keamanan/kenyamanan pribadi dan kesehatan.

Maka, kalau hanya kerja dan kerja saja, seseorang telah memenuhi kebutuhan dasarnya (physiological needs) karena mendapatkan uang untuk mendapat pemenuhan kebutuhan pangan-sandang-papan/perumahan. Empat kebutuhan (menurut Abraham Maslow) lainnya belum terpenuhi; yakni kebutuhan keamanan (safety needs), cinta dan rasa memiliki (love and belonging), rasa hormat/respek-status-kebebasan (esteem), dan aktualisasi diri sendiri (self-actualization) – bagian tertinggi.

Ada tiga ciri utama burnout. Pertama, kelelahan aspek mental dan emosional yang sangat terasa. Bisa jadi, karena bekerja terlalu lama. Individu bersangkutan merasa sangat lelah meski telah berada di rumah sehingga merasa tidak bisa melakukan pekerjaan lainnya. Bahkan masih dihubungi rekan kerja maupun pimpinan/bos. Parahnya, pekerjaan yang belum tuntas di kantor dibawa pulang ke rumah. Kedua, invididu bersangkutan merasa tidak efektif saat bekerja dan merasa sangat sedikit yang bisa dikerjakan. Ketiga, munculnya perasaan jenuh – karena merasa tidak punya waktu untuk dirinya sendiri – dan ingin melakukan hal lainnya di luar pekerjaan (rutin).

Burnout menimbulkan dampak/efek, terutama pada relasi atau hubungan dengan anggota keluarga dan pertemanan. Dalam keluarga misalnya, bisa muncul pertengkaran dalam rumah tangga, bahkan kekerasan pada anak dan anggota keluarga lainnya. Karena merasa sangat lelah muncul kekerasan dalam rumah tangga/KDRT. Ada sedikit hal saja yang kurang di rumah dapat memicu emosi ‘pengidap’ burnout.  Begitupun dalam pertemanan: menjadi mudah/gampang tersinggung saat ada salah ucap maupun salah pengertian dari teman, pengidap burnout dipastikan bakal tersinggung. Pengidap ini membawa beban pekerjaannya dalam relasi keluarga dan pertemanan.

Dalam situasi burnout ini, beberapa langkah/tips dapat dilakukan. Pertama, tahu jam kerja dan membatasi diri untuk kerja-kerja terus. Misalnya, bekerja delapan jam sehari dan waktu toleransi untuk tambahan kerja lagi, kecuali bila ada iven tertentu berdasarkan kesepekatan melakukannya. Bahkan, kalau perlu ditunda untuk hari kerja berikutnya. Kedua, bersikap “asertif” ketika tidak kuat lagi dan sudah lelah. Tidak dituruti saja, karena kitalah yang tahu batas kemampuan fisik sendiri. Bila tidak bisa tepar, ambruk, bahkan sakit. Ketiga, ambil waktu jeda di pagi atau sore hari. Di pagi hari misalnya, bisa berdiam diri sejenak dan mendengarkan renungan pagi untuk menyambut hari baru. Di sore hari, lewat aktivitas minum teh atau kopi sejenak disertai cemilan kecil. Ibaratnya bila instrument mesin, ini adalah waktu untuk pendinginan sementara waktu. Lain waktu, individu pekerja bersangkutan dapat mengambil cuti yang menjadi haknya. Cuti diisi dengan aktivitas rekreasi. Aneh juga, bila ada pekerja yang ‘mengganti’ cutinya dengan sejumlah uang pengganti. Kerja terus tanpa henti bagaikan robot. Di Jepang, pemerintah mewajibkan pekerja mengambil cuti, karena menyadari dampak psikologis dan kesehatan bagi pekerja. Banyak kejadian, pekerja tiba-tiba meninggal dunia saat kerja karena telah seminggu tidak pulang ke rumah. Pemerintah Jepang menyadari percuma dan tidak efektif kerja bila telah burnout. Kalau dipaksakan kerja juga, tidak maksimal. Atasan yang peka akan mendorong pekerja/karyawan mengambil cuti. Namun, sedemikian parahnya burnout di Jepang, karyawan burnout tersebut malah merasa ‘diskors’ oleh atasan.

Upaya lain mengatasi burnout adalah dengan memberikan waktu untuk diri sendiri, melaksanakan hal-hal yang disenangi dan tanpa paksaan; misalnya melakukan aktivitas hobi. Selain menjadi ‘obat’ burnout, ini juga merupakan suatu bentuk penghargaan bagi diri sendiri, kenyamanan dan rasa terima kasih pada diri sendiri – yang telah dipakai sehari-hari untuk bekerja dan melakukan kewajiban. Bermain dengan anak sepulang kerja pun menjadi suatu ‘obat’ burnout. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *