Punya pasangan yang pencemburu menciptakan ketegangan dan stress dalam pernikahan. Bahkan, perlahan bakal mengancam keselamatan pernikahan. Rasa percaya menjadi bagian penting dalam pernikahan. Suami-isteri bisa mengembangkan rasa saling percaya dengan upaya berikut: konsisten, tepat waktu, lakukan yang dikatakan, jujur/tidak berbohong, bersikap adil (fair) meski saat berargumen atau menyampaikan pendapat, sensitif pada perasaan pasangan, menelepon bila berjanji akan menelepon, hubungi pasangan bila akan pulang terlambat. Juga, jangan bereaksi berlebihan bila ada masalah, tidak membuka kembali borok luka lama, hormati batasan pasangan, dan jadilah pendengar yang baik. Suami-isteri hendaklah bisa mengelola rasa cemburu dalam hidup berumah tangga.

Hal sama diutarakan seorang umat Paroki St. Damian-Saibi Samukop, Mentawai, Riki Wisam. “Salah satu upaya dan cara yang saya tempuh saat mengelola rasa cemburu adalah tetap mengedepankan cara berpikir positif. Saya fokus pada tujuan dan target pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak bisa dipungkiri, dalam suatu hubungan suami-isteri, rasa cemburu pasti ada. Ketika rasa cemburu datang, sama halnya dengan energi negatif yang memengaruhi pemikiran. Dengan berpikir positif, oleh salah satu pasangan, setidaknya bisa mentransfer energi positif agar pasangan tidak terbuai dengan pemikiran negatifnya,” ucap Riki.

Ayah satu bocah perempuan ini melanjutkan, “Selain itu, komunikasi menjadi hal mendasar dalam suatu hubungan. Membina komunikasi yang baik dan terus-menerus akan membuat pasangan lebih diperhatikan dan dihargai. Selama proses komunikasi, banyak hal dibicarakan suami-isteri secara terbuka dan apa adanya. Setiap pasangan bisa mengalihkan pikiran negatif dengan kegiatan positif dan rohaniah. Baca Alkitab dan buku inspirasi, bahkan mengenang kembali masa-masa indah bersama menjadi ‘obat mujarab’. Ini sering saya lakukan bersama Ami – isteri. Saat pacaran dan menikah.”

Riki tidak memungkiri, rasa cemburu muncul karena ada orang lain yang mendekati pasangan, baik kepada pihak isteri maupun suami. “Maka, sebagai suami yang telah mempunyai satu anak gadis, saya tidak membuka ruang pada yang lainnya. Jika harus berpartner dalam pekerjaan, saya mesti mengedepankan dan mengutamakan sikap professional!” tandasnya mengakhiri.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, seorang guru sekolah dasar negeri di Saumanganya’-Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, Herlika Panjaitan (34) mengaku punya cara mengelola rasa cemburu dalam hidup berumah tangga yang telah dijalani selama sembilan tahun. “Selama ini, saya dan suami menjalin hubungan jarak jauh (long distance relation/LDR) dua tahun terakhir. Pertama, saling percaya satu dengan lainnya serta saling mendoakan. Biasanya lewat telepon kami sering berdoa bersama di malam hari agar bisa saling menjaga ikatan perkawinan. Kedua, menjalin komunikasi. Kalau jaringan telepon bagus, dua kali sehari ‘wajib’ telepon untuk menyampaikan situasi di tempat kami masing-masing (kabar, kesehatan, kegembiraan, kesulitan). Bahkan, teleponan bisa lebih dari tiga kali sehari tatkala kami berdua tidak sedang sibuk. Kami saling terbuka. Kalau ada yang tidak disukai, disampaikan, saling menjaga dan menghargai perbedaan pendapat. Ketiga, selalu mengucapkan ‘I Love You’ agar cinta bisa menghilangkan rasa cemburu dan curiga,” tuturnya.

Biasanya, saat libur, Herlika pulang ke Saibi Samukop-Siberut Tengah, Mentawai tempat suaminya, Netto Gultom (37) dan anak pertamanya yang berumur delapan tahun berada. Anak keduanya, berusia enam tahun bersama Herlika. Ia mengaku pernah cemburu, namun suaminya selalu mengukuhkan dan memberikan penjelasan. Jika ada penjelasan, dirinya percaya. Begitupun sebaliknya bila suaminya mengaku cemburu, Herlikalah yang memberikan penjelasan.  “Kami tidak pernah bertengkar gara-gara cemburu! Saya dan suami berusaha menjaga kepercayaan pasangan. Dengan komunikasi dan keterbukaan, kami saling percaya,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *