“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu bagi mereka yang mencintai-Nya’“(Roma 8, 28). Berangkat dari ayat ini, saya melukiskan perjalanan panggilan sebagai pelayan di kebun anggur Tuhan.  Saya meyakini semua ada campur tangan Tuhan dalam setiap pergumulan dan proses yang saya alami.

Nama saya Marselinus Yerisko. Marselinus adalah nama keluarga dari kakek. Yerisko nama yang diberikan oleh orangtua saya. Nama ini terinspirasi dari nama kota Yerikho yang artinya kota bulan dan dikaitkan dengan zodaik aries mengggambarkan pribadi yang ceria, antusias dan optimis. Jadi dari nama dan tanggal lahir bisa ditebak kepribadian saya. Saya lahir di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari keluarga sederhana. Ayah saya penjual ikan, ibu pedagang kelontong. Saya sulung dari 4 bersaudara.

Benih-benih panggilan saya tumbuh berkat teladan hidup doa ibu yang menjadi dasar iman sejak saya kecil. Ketertarikan saya menjadi imam berawal dari perjumpaan dengan para biarawan-biarawati yang seminggu,  tiga atau empat kali mengunjungi rumah kami. Kebetulan rumah saya dikelilingi susteran dan biara Frater Karmelit. Rasa kagum saya terhadap para biarawan-biarawati terletak pada caranya bersikap saat melayani dan mengunjungi rumah-rumah umat. Taman SMP,  saya masuk ke seminari menengah San Dominggo Hokeng, NTT.  Pengalaman empat tahun di seminari menengah ini mendewasakan dan menguatkan motivasi saya menjadi imam. Selain itu, saya belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dan belajar menanamkan hidup persaudaraan dalam komunitas.

Di tahun ketiga di seminari, untuk pertama kalinya saya mengenal Kongregasi Misionaris Serikat Xaverian (SX) melalui buletin dan majalah yang dikirimkan tiga bulan sekali ke seminari. Kesaksian hidup dua frater yang saya baca di buletin memotivasi saya untuk lebih mengenal kongregasi ini. Tulisan itu berisi pengalaman hidup dan kerasulan para frater filsafat di tengah kaum miskin dan terpinggirkan di Jakarta dan dialog antaragama. Saya juga tergelitik dengan semboyannya:  “Menjadikan Dunia Satu Keluarga“.

Tahun 2010,  saya masuk bergabung ke Serikat Xaverian. Saya memulai tahap formasi dari postulan, novisiat, hingga studi filsafat. Tahun 2014 saya mengucapkan kaul pertama. Pengalaman para senior yang pernah saya baca, saya rasakan sendiri ketika melakukan hal yang sama. Saya mengalami perjumpaan dengan orang-orang miskin di Stasiun Senen,  pelayanan sosial di Cilincing, dan berdialog dengan umat beragama lain. Semua ini memperkaya dan menguatkan saya untuk terus setia dan taat dalam jalan panggilan ini.

Tahun 2016,  saya melanjutkan studi teologi internasional di Meksiko.  Di tempat inilah,  tahun 2020 saya mengucapkan kaul kekal dan menerima tahbisan diakon. Pengalaman hidup dalam komunitas teologi internasional semakin meyakinkan saya akan mimpi dari pendiri SX Santo Confroti untuk “Menjadikan Dunia Satu Keluarga’. Perbedaan budaya dan ras tidak menjadi penghalang untuk terus melangkah jauh ke depan menjadi imam misionaris. Semua itu justru  menginspirasi saya bahwa berbeda itu indah. Dari perbedaan inilah kita diperkaya dan saling melengkapi.

Saya menyadari bahwa panggilan adalah rahmat dari Tuhan.  Rahmat itu harus dibagikan kepada yang lain. Bapa Suci Paus Fransiskus mengatakan: “Suatu pemberian tidak dapat disimpan untuk diri sendiri, tetapi harus dibagikan. Jika kita ingin menyimpannya hanya untuk diri kita sendiri, kita menjadi orang Kristen yang terisolasi, mandul, dan sakit. Oleh karena itu, saya mengajak orang muda untuk membuka hati agar mampu menjawab pangggilan Tuhan dengan sadar dan penuh sukacita. Gereja dan dunia membutuhkan kalian untuk menjadi saksi-saksi dalam mewartakan Suka Cita kepada sesama dan mereka yang belum mengenal-Nya. Dengan demikian, semakin banyak orang yang hidup dalam cinta, kasih,  dan pengharapan sehingga nama Kristus semakin dikenal dan dicintai semua orang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *