Kisah dan sejarah Paroki Santo Yosef Sioban, Sipora Selatan, Kep. Mentawai  bisa didapatkan dari Salatiel Samangilailai (65).  Ayah empat anak dan kakek enam cucu kelahiran Sioban-Sipora Selatan, Mentawai 20 Februari 1956 ini adalah putera dari menjadi perintis sekaligus  umat perdana paroki ini.  Ia mengaku tahu asal-usul sukunya – dari orangtua – sebagai keturunan ke-14 suku Samangilailai, sehingga untuk anak dan cucu merupakan keturunan ke-15 dan 16. Mengikuti jejak ayahnya, Salatiel juga menjadi aktivis umat, sekaligus penerus pelaku sejarah paroki ini. “Saya bangga punya orangtua yang ikut serta melahirkan paroki ini. Selain bangga, ada rasa tanggung jawab saya sebagai anaknya adalah  menjaga nama baik Suku Samangilailai,” ucapnya.

Paroki Sioban diresmikan  tahun 1961. Orangtuanya mengisahkan tahun itu belum ada bangunan gereja dan sekolah (SD St. Yosef).  Lokasi  kompleks pastoran saat itu masih tanah lapang (kosong). SD Santo Yosef dibuka 1964.   Sewaktu masih muda, Saletiel menjadi katekis suka rela (1983) dan Ketua Stasi St. Yosef-Sioban tiga periode (sembilan tahun) sejak tahun 1983.  Suami Martina Kristiana Samoiri (64) ini termasuk salah satu dari 96 utusan Keuskupan Padang saat kunjungan Bapa Suci Yohanes Paulus II ke Medan (1990).  Sebagai saksi mata perjalanan dan pergerakan paroki ini dari masa lalu hingga kini, Salatiel

memandang pentingnya keterbukaan dan kejujuran para pengurus Gereja agar dipercaya umat dan masyarakat.  “Saya prihatin, entah kenapa, kini cukup banyak berstatus ‘umat duduk’ (pasif menggereja). Mereka sekedar beragama di kartu tanda penduduk (KTP)!” tandasnya.

Anak pasangan Yosef Samangilailai (alm) dan Noni Katarina Samalinggai (alm) ini selalu mengingat dan melaksanakan petuah (wejangan) orangtunya.  Salatiel  mengingat jelas masa lalu orangtuanya, yang sebelum menjadi Katolik, menganut ‘agama asli’  Mentawai  arat sabulungan  bersama 20-an  warga masyarakat.  Ayahnya  juga sikerei (dukun Mentawai), ketua adat, dan kepala suku Samangilailai.

Awalnya, ayah Salatiel  dibaptis sebagai penganut Protestan,  namun kemudian memilih Katolik sebagai agama anutan hingga akhir hayatnya. Menjaga nama baik keluarga dan orangtua dipegang teguh Salatiel.

Ia akan terus melaksanakan amanat orangtua untuk menjaga nama baik keluarga, orangtua,  dan suku dengan menghindari tingkah laku atau perbuatan tidak terpuji.  “Saya yakin, ketika nama saya disebutk atau dibilang, otomatis ‘tersambung’ dengan nama orangtua, apalagi ditokohkan umat atau warga masyarakat kami,” ungkapnya.

Berkat didikan, nasihat, dan petuah orangtuanya, Salatiel mampu bergaul dengan semua kalangan hingga melintasi perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dalam hidupnya, Salatiel memegang prinsip  belajar ‘tahu diri’. Setelah tiga periode berturut-turut sebagai baja’ Gereja (ketua stasi), Salatiel tidak bersedia lagi pada periode keempat. Tujuannya, agar berlangsung regenerasi pada yang lebih muda usianya. Setelah tidak lagi sebagai pengurus, Salatiel sebagai penasihat tidak resmi di stasi dan paroki. Umat setempat menempatkannya sebagai tokoh yang dituakan.  (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *