Nikolas Bachtian Otmo (64) sempat dianggap ‘orang gila’ karena meninggalkan  (sering) toko, sumber penghasilannya  untuk menolong orang sakit dan menguburkan orang meninggal.  Bachtian tidak menghiraukan anggapan orang. Saat prosesi pemakaman, sesaat sebelum mulai  Bachtian selalu memimpin tim pemakaman PSKP Santu Yusuf  berdoa secara Katolik. Terobosan ini menjadi ciri khas yang membedakan dengan tim pemakaman lain.  Soal anggapan orang,  suami Yanti Sali ini  menanggapi enteng. “Yang pasti, hingga kini saya tidak pernah cekcok gara-gara pelayanan itu. Isteri saya mendukung. Orang yang beranggapan seperti itu belum pernah merasakan, memikul dan mengantar jenazah hingga pemakaman atau krematorium,”  katanya.

Bachtian tidak merasa rugi berbuat sosial.  Diakuinya, usaha toko pun berlangsung seperti biasa. Selalu ada rezeki yang diberikan Tuhan. Ia dan keluarganya tidak mereka kekurangan, masih bisa makan.  Keterlibatan ayah dua anak lelaki ini dalam pelayanan orang sakit keras dan meninggal,  telah lebih dari setengah dari usianya. Mulanya, ia anggota tim pemakaman (tektauw) Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Pusat Padang (1983). “Saya merasa pelayanan ini mirip dengan Tuhan Yesus yang memanggul salib hingga ke Golgota. Yesus datang untuk melayani, memberikan nyawa-Nya demi penebusan dosa manusia. Sebagai pengikut-Nya, kita  pun mesti meneladani, dengan peduli dan ikut merasakan penderitaan sesama. Kita pun memanggul salib untuk membantu sesama dari kemalangan,” tambah pria kelahiran Medan 28 Juni 1957 ini.

Ketua Bidang Pemakaman dan Kerohanian Badan Pengurus Pusat (BPP) PSKP Santu Yusuf Keuskupan Padang ini menganut prinsip:  “Jangan berharap dari yang telah diberikan!”   Dari prinsip itulah, Bachtian menjalakan i pelayanan dengan ringan, enteng, gembira karena tidak diembel-embeli pamrih tertentu. Itulah kepuasan batinnya  yang tidak tergantikan oleh apa pun. Baginya, totalitas dalam pelayanan sangat penting.

Bachtian bercerita,  suatu ketika, anaknya berujar kepadanya, “Dalam masa pandemi ini, Papi istirahatlah!” Bachtian menanggapi, “Papi akan beristirahat kalau sudah masuk dalam peti yang telah dipaku. Kalau sekarang, Papi masih kuat dan bisa bantu orang lain, akan bantu hingga titik terakhir!”   (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *