Sudah ditemukan beberapa varian baru Covid-19 seperti Alpha (B.1.17), Beta (B.1.351), dan Delta (B.1.617.2). Diantara kedua varian lainnya, varian Delta menyumbang kasus terbanyak disertai dengan penularan virus yang cepat serta risiko yang lebih tinggi.

Virus Corona varian Delta (B.1.617.2) adalah mutasi dari virus Covid-19 yang selama ini mewabah (SARS-CoV.2 B.1.617). Varian Delta pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020, saat awal negeri itu dilanda gelombang kedua pandemi. WHO (World Health Organization) melabeli varian delta sebagai variant of concern (VOC) atau varian yang perlu diwaspadai pada 11 Mei 2021. Sejak 14 Juni 2021, varian ini telah menyebar ke 74 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil dari proses Whole Genome Sequencing (WGS) per 20 Juni 2021, Kementerian Kesehatan RI mencatat 211 kasus dari 2.242 sampel yang harus diwaspadai, 160 kasus (76%) di antaranya adalah varian Delta. Itu berarti varian Delta mendominasi di Indonesia dan bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah.

Sebagai variant of concerns, Delta tentulah berbahaya. Sebab, untuk dapat dikategorikan sebagai varian yang mengkhawatirkan, suatu virus harus lebih mudah menular daripada virus asli, sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah, mengurangi netralisasi oleh antibodi secara signifikan, dan mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin, atau diagnosis. Hal ini bukan tanpa bukti. Seperti kita tahu, varian Delta telah memicu kenaikan kasus positif di Inggris serta kasus positif dan kematian akibat Covid-19 di India. Studi lainnya dari Skotlandia juga menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi varian Delta dua kali lebih mungkin membutuhkan perawatan rumah sakit daripada orang yang terinfeksi varian Alpha. Apa benar anak-anak lebih rentan terkena varian Delta? Sebuah studi di Inggris menyatakan, jumlah anak-anak dan dewasa muda yang positif Covid-19 varian Delta lebih banyak daripada pra-lansia dan lansia berusia 50 tahun ke atas. Meskipun begitu, tidak disimpulkan apakah varian ini lebih mudah menginfeksi anak-anak daripada orang dewasa atau tidak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menemukan kecenderungan varian Delta menyerang anak di bawah usia 18 tahun. Berdasarkan riset Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), setidaknya 1 dari 8 kasus Covid-19 terjadi pada anak-anak. Terlepas dari kelompok usia mana yang paling rentan tertular varian Delta, perlu kita sadari bahwa semua kelompok usia dapat terinfeksi virus varian ini, sehingga kita harus lebih berhati-hati.

Gejala Terjangkit Varian Delta

Pada dasarnya, virus Corona dalam tubuh orang yang terjangkit akan menunjukkan beberapa gejala seperti demam, batuk kering, napas pendek, mudah lelah, menggigil, atau tak dapat merasakan bau dan rasa. Sebagian gejala ini mungkin masih dialami penderita Covid-19 varian Delta. Namun, ada beberapa gejala yang biasanya dialami penderita varian ini, yakni nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, diare, sakit perut, kehilangan nafsu makan, gangguan pendengaran, pembekuan darah, serta gangrene (matinya jaringan tubuh).

Sama seperti bila terinfeksi Covid-19 varian lain, ada beberapa hal yang harus Smartcitizen lakukan bila terkonfirmasi positif Covid-19 varian Delta. Segeralah lakukan isolasi mandiri. Jika kamu tidak memiliki gejala apapun, kamu dapat melakukan isolasi mandiri di rumah ataupun fasilitas isolasi pemerintah. Jika memiliki gejala ringan, kamu bisa melakukan isolasi mandiri di fasilitas isolasi pemerintah ataupun di rumah bagi yang memiliki syarat. Kemenkes menetapkan bahwa tempat isolasi mandiri haruslah memiliki ventilasi yang baik dengan mobilitas yang terbatas. Jika merasakan gejala sedang, kamu bisa menjalani isolasi dan perawatan di RS Lapangan, RS Darurat Covid-19, RS Non Rujukan, dan RS Rujukan. Bagi kamu yang mengalami gejala berat-kritis, kamu akan menjalani perawatan di HCU/ICU RS Rujukan. Selama melakukan isolasi mandiri atau mendapatkan perawatan, seseorang yang positif Covid-19 harus selalu memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun, memakai peralatan makan terpisah, rutin membersihkan ruangan, dan menghindari kontak dengan barang-barang yang kemungkinan terkontaminasi.

jangan lupa untuk mengabarkan hasil tesmu kepada orang-orang yang pernah berkontak erat  denganmu selama setidaknya dua minggu terakhir. Tak perlu merasa malu, sebab hal ini bukan suatu aib. Justru dengan memberitahu hasil tes, orang-orang yang pernah berkontak erat denganmu dapat memastikan kondisi kesehatannya dengan melakukan tes Covid-19 dan isolasi mandiri.

Hal terakhir yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah menjaga kesehatan fisik dan mental. Selama isolasi mandiri, pastikan kamu istirahat yang cukup, makan dan minum dengan teratur, serta berolahraga ringan setiap hari. Agar kesehatan mental terjaga, kamu juga perlu melakukan hal-hal yang kamu senangi. Hindari membaca berita yang membuat stres. Dengan menjaga kesehatan fisik dan mental, imunitasmu akan meningkat, sehingga kamu akan lebih cepat pulih.

Seiring dengan tingkat penularan varian Delta yang lebih tinggi, maka diperlukan protokol kesehatan yang lebih ketat untuk melindungi diri. Salah satu yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan adalah dengan double-masking atau memakai dua masker. Memakai masker medis dan melapisinya dengan masker kain. Memakai dua masker akan memberikan perlindungan yang lebih optimal dari virus Corona sebesar 85%. Tak cukup hanya dengan double-masking, Smartcitizen juga masih harus menerapkan 5M; memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Penting pula untuk kamu melakukan vaksinasi, agar imunitas meningkat dan risiko terinfeksi virus Corona berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *