Perjumpaan saya dengan Frater Vitus Rubianto Solichin pada tahun 1993, yang kini menjadi Uskup Padang hanya sesaat, tetapi sangat  berkesan.  Tahun 1997, kami bertemu  lagi saat beliau sebagai diakon di Paroki Santa Maria Auxilium Christianorum-Sikabaluan. Tahun 1993, saat masih berstatus frater, menjalani Tahun Oritentasi Misioner (TOM) di Muara Siberut, beliau hadir di Muara Sikabaluan.

Saat tahun 1993, saya sebagai pengawas asrama putera tingkat sekolah menengah pertama (SMP) sehingga tidak bisa meninggalkan mereka untuk keperluan kunjungan ke stasi-stasi, sehingga perjumpaan dan kebersamaan itu banyak terjadi di pusat paroki. Saya sebagai pengawas asrama Paroki Sikabaluan dari 1990-1994. Hubungan lebih dekat tatkala Frater Rubi melakukan pembinaan asrama, misalnya rekoleksi dan pembahasan Kitab Suci.

Perjumpaan sekali lagi terjadi pada 1997. Saat itu, beliau telah menjadi diakon. Saat itu, saya di Simatalu, Paipajet Hulu (1995-2001) berstatus guru pegawai negeri sipil (PNS). Diakon Rubi bersama tim pastoral yang dipimpin parokus kala itu (P. Pio Framarin, SX) berkunjung ke Stasi Paipajet. Selain sebagai guru, saya juga membantu aktivitas kegerejaan stasi setempat. Sebagaimana kunjungan pastoral ke stasi lainnya, Diakon membantu parokus dan tim pastoral melayani umat.

Pada saat inilah, sekali lagi saya melihat kedekatannya  dengan umat. Diakon Rubi pun tidak mengeluh menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan.  Sebagaimana diketahui, rute perjalanan Betaet – Sinindiu bukanlah perjalanan mudah pada waktu itu. Beda dengan sekarang, karena telah ada fasilitas pompon dan sepeda motor. Kala itu, perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki dan mendayung sampan.

Kesan dan ingatan saya yang membekas adalah tipikal orangnya: sangat sederhana, suka bergaul dengan umat, rendah hati, dan ramah. Saya lebih terkesan lagi keinginannya  yang menggebu-gebu untuk belajar bahasa Mentawai. Untuk hal yang terakhir ini, terlihat dari keinginan dan kemauannya untuk coba berkomunikasi langsung dengan umat dan setiap orang yang dijumpai. Dari teman saya yang pernah bersama-sama saat kunjungan ke stasi di pedalaman, Diakon Rubi selalu berupaya berbicara dalam bahasa Mentawai.

Seingat saya, Diakon Rubi – panggilan akrab saat itu – terlihat cepat belajar dan menyesuaikan diri. Kemampuannya  melukis pun tidak diragukan. Setidaknya terlihat kemampuannya melukis wajah penderitaan salib Yesus, mulai peristiwa pertama hingga akhir dengan cepat dan tepat. Dalam pelayanan pastoral, saya yakin Uskup Vitus bakal dapat melanjutkan dan menjalankan karya kerasulan dan pelayanannya tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, almarhum Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap.

 

Jop Sirirui
Mantan Pengawas Asrama Putera Tingkat SMP Paroki St. Maria Auxilium
Christianorum-Sikabaluan. Kini Camat Siberut Barat-Kepulauan Mentawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *