Hari Minggu Biasa XXXI (31 Oktober 2021)
Ul 6:2-6;  Mzm 18:2-3a. 3bc–4, 47, 51ab;
Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang menjawab dengan tepat pertanyaan dari seorang ahli Taurat tentang hukum yang paling utama. Sebelumnya, Yesus tiga kali ditanyai oleh imam, orang Farisi, dan orang Saduki tentang hal yang sama. Pertanyaan keempat itu ternyata dengan motivasi yang tulus, bukan untuk mencobai atau menjebak Yesus.

Pertanyaan tentang hukum utama merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para ahli Taurat pada zaman Yesus. Pada waktu itu orang-orang Yahudi harus menghafalkan ratusan hukum tambahan yang berasal dari adat nenek moyangnya. Karena sekedar menghafal, mereka tidak bisa membedakan antara hukum yang penting (utama) dan hukum yang kurang penting. Pertanyaan itu sesungguhnya sudah dijawab oleh beberapa ahli Taurat dan pemimpin agama Yahudi. Tetapi jawaban mereka umumnya menyangkut hukum-hukum tertentu, yang darinya dapat dilekatkan hukum-hukum yang lain, sehingga mereka berhasil menyusun berbagai kelompok hukum.

Jawaban Yesus atas pertanyaan penting tersebut sangat memuaskan ahli Taurat. Dilihat dari “kacamata” masyarakat Yahudi jawaban tersebut asli dan tegas. Perintah untuk mencintai Allah dengan seluruh pribadi dan perintah untuk mencintai sesama sudah ada dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Hanya saja, kedua perintah itu disebutkan secara terpisah, amat berjauhan satu dengan yang lain. Lihat dan baca Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan kitab Imamat (Im 19:18). Orisinalitas jawaban Yesus terletak pada makna “sesama” yang harus  dicintai. Dalam pandangan Yahudi waktu itu, sesama yag pantas dicintai hanyalah mereka yang beragama Yahudi. Pandangan Yesus tentang sesama adalah siapa saja yang paling membutuhkan cinta kita.

Hal lain yang penting diperhatikan dari rumusan hukum yang utama itu ialah motivasi dari cinta kepada Allah. Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa itu bukan sekedar kepercayaan rasional teoritis yang berarti kepercayaan tentang Allah, melainkan juga dasar dari praktek ibadah kepada-Nya, bahkan dasar moral untuk mengasihi-Nya dengan seluruh kepribadian kita. Hal ketiga yang dapat digali dari Injil hari ini adalah bahwa pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama yang lebih penting dari semua korban bakaran dan korban sembelihan yang menjadi ibadat penting  bagi orang Yahudi pada zaman Yesus itu. Bila ajaran itu diterapkan pada diri kita sekarang, dapat berarti bahwa pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama lebih penting daripada ibadat-ibadat lahiriah. Tentu saja, ajaran itu tidak dapat ditafsirkan secara ekstrim, seolah-olah ibadat lahir itu tidak penting sehingga mengabaikan pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama.

Di samping tema pokok tentang kasih, Gereja menyediakan tema lain melalui bacaan kedua hari ini, yakni dari Surat Ibrani. Tema itu menyangkut soal Imamat Tuhan Yesus Kristus. Berbeda dengan imamat para imam Yahudi pada zaman-Nya, Yesus memiliki imamat yang lain, yang jauh lebih luhur dan lebih tahan uji, yang sudah dilambangkan oleh imamat dari tokoh Perjanjian Lama, yakni Imam Melkisedek. Selain itu, keunggulan Imamat Yesus juga ditegaskan dengan menunjukkan kebesaran-Nya sebagai Imam Besar yang saleh, tanpa salah, dan  tanpa noda.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.