Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman (2 Nopember 2021)
2 Mak 12:43-56; Mzm. 130:1-2,3-4, 5-6a. 6-7, 8;
1 Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40

 

Mengapa orang meningggal kita doakan? Mendoakan arwah orang yang meninggal berarti mempercayakan mereka kepada Tuhan. Orang yang sudah meninggal kembali bersama Allah di dalam sorga. Namun, belum tentu semua orang yang meninggal langsung masuk sorga. Mereka berada di api pencucian. Maka sering orang berpikir bahwa mendoakan arwah, berarti memohon supaya arwah itu dikeluarkan dari api pencucian. Maka, tanpa sadar kita berpikir bahwa api pencucian adalah tempat membersihkan arwah dari dosa-dosanya. Ada yang menggambarkan api pencucian itu seperti neraka untuk dosa kecil. Api pencucian dimengerti sebagai tempat hukuman sehingga mendoakan arwah dianggap sebagai upaya untuk memohonkan keringanan atas hukuman atau bahkan pembebasan.

Pandangan di atas kurang tepat. Api penyucian adalah tempat untuk membuat orang menjadi lebih suci. Naik ke surga adalah menghadap dan bersatu dengan Allah. Maka bila manusia diperkenankan menghadap Allah, menjadi satu dengan Allah, orang itu pun disucikan. Bagi manusia ini adalah suatu perubahan total bagi manusia yang mengarahkan hidupnya kepada Allah. Boleh diharapkan, orang beriman sudah terarah kepada Allah, tetapi mungkin belum cukup. Allah masih menuntut penyerahan total. Doa yang kita panjatkan itu untuk mendukung penyerahan orang yang meninggal itu untuk menghadap Allah.  Kita menghadap Allah bersama mereka, dan mempercayakannya  kepada cinta dan belas kasihan Tuhan. Maka, mendoakan arwah berarti menghadap Tuhan bersama dengan mereka dan mengalami kesatuan dengan mereka.

Yang paling pahit dalam kematian adalah keterpisahan. Orang yang sudah meninggal secara ragawi (kasat mata) tidak ada. Semua ikatan lahiriah diputuskan oleh kematian. Segala kontak kita dengannnya seakan tenggelam dalam kehampaan, tidak ada tanggapan. Apakah itu berarti musnah juga cinta kita kepada mereka atau sebaliknya? Kita percaya, orang masih bisa berkomunikasi, hanya saja kita tidak bisa mendengarkan jawabannya secara lisan. Salah satu sarana berkomunikasi dengan mereka sudah meninggal melalui doa.  Melalui dan di dalam doa kita bersama mereka menghadap Allah. Kita berdoa dalam kesadaran bahwa kita sama-sama dicintai Allah. Kita masuk dalam persekutuan orang kudus, sebab sama-sama dicintai oleh Yang Kudus. Doa kita untuk para arwah adalah penghayatan dan pengungkapan iman dalam kesatuan dengan mereka di hadapan Tuhan.

Kita merasa diri bersatu dalam iman dengan mereka yang telah meninggal. Maka kita tidak hanya berdoa bersama mereka, tetapi juga berani memohon bantuan dari mereka. Mereka tetap hidup, namun tidak secara ragawi.

Hari ini mendoakan arwah semua orang beriman. Kita memperluas perhatian, jauh di luar lingkungan sendiri, mendoakan mereka yang terlupakan;  yang tidak punya orang yang bisa diajak menghadap Tuhan bersama. Dengan mendoakan arwah orang yang sudah meninggal, sekaligus kita merenungkan hidup sendiri dan ikut menyerahkan diri kepada Alah. Peringatan arwah semua orang beriman ini hendaknya menjadi jalan perenungan mengenai misteri maut dalam kehidupan kita pribadi. Kita pun suatu waktu seperti mereka yang sudah meninggal. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *