Hari Minggu Biasa XXX (24 Oktober 2021)
Yer 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab, 2dc-3, 4-5, 6;
Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52

 

Kebingungan generasi sekarang ini diwarnai oleh ketidakpastian akan kebenaran suatu berita, terutama hoax. Kebenaran suatu berita mutlak diperlukan, agar orang dapat bersikap secara benar pula. Demikian juga dengan nenek moyang kita, sejak dulu mereka membutuhkan nabi-nabi sejati yang mampu memberitakan kebenaran suatu peristiwa yang menuntut sikap yang benar terhadap kenyataan peristiwa tersebut.

Salah satu nabi utusan Allah adalah Yeremia  yang hidup sekitar tahun 650-586 SM. Pada masa itu Kerajaan Israel di Utara sudah mengalami kehancuran dan kerajaan Yehuda di Selatan juga menjelang kehancuran dan pengasingan ke Babilonia. Semua peristiwa itu akan terjadi, tetapi Nabi Yeremia menubuatkan suatu kenyataan bahwa Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya; dan menunjukkan sikap  umat yang sepantasnya terhadap Tuhan, yaitu memuji syukur kepada-Nya. Karena dosa, umat Allah akan mengalami penderitaan dan bahkan kehancuran dalam segala bidang. Namun demikian Nabi Yeremia tetap melihat bahwa Allah akan menolong umat-Nya dari segala penindasan yang membawa penderitaan dan kesengsaraan. Kepercayaan Nabi Yeremia begitu kuat, sehingga mampu berkata,  “Allah telah menyelamatkan umat-Nya”.

Penyelamatan telah terjadi, sedang terjadi,  dan akan terus terjadi dalam kehidupan manusia. Tuhan selalu menyelamatkan umat- Nya. Keyakinan iman akan Tuhan yang selalu menyelamatkan inilah keyakinan yang berdasarkan pada kenyataan sejarah. Kembalinya umat Allah dari Mesir, dari penindasan bangsa  kafir adalah bukti tindakan tangan Allah dalam menyelamatkan umat-Nya. Tema pembebasan adalah tema pokok penyelamatan Allah yang nyata, dimulai dari pembebasan Abraham dari lingkungan kafir, pembebasan  Israel dari Mesir, dari Syria, dari Babilonia, dan akhirnya pembebasan umat manusia. Umat manusia diselamatkan  bukan hanya dari penindasan sesamanya, tetapi juga dari kuasa dan perbudakan dosa.

Yesus Kristuslah  pengantara keselamatan Allah bagi manusia digambarkan dalam Surat Kepada Orang Ibrani. Yesus digambarkan sebagai Sang Imam Agung Sejati yang tidak mencari penghormatan bagi diri-Nya sendiri. Di dalam pribadi Yesus, Allah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban penebusan dosa umat manusia. Persembahan diri yang hidup dan berkenan bagi Allah dalam persatuan dengan Imam Agung Yesus Kristus adalah sikap dan usaha untuk semakin bersatu dengan Yesus Kristus.

Injil hari ini mengungkapkan kepekaan dan keterlibatan pribadi Yesus akan keluhan dan permohonan seorang pengemis yang buta. Pengemis ini mewakili golongan lemah, miskin, dan tertindas. Golongan ini tidak mempunyai tempat terhormat di masyarakat, tetapi Yesus menyapa dan menempatkannya sebagai sahabat yang berhak dilayani. Yesus pun mengabulkan permohonannya, sehingga pada saat itu juga orang buta itu bisa melihat.

Tuhan Yesus Kristus sebagai raja keselamatan bagi manusia tidak memerintah dengan kuasa demi kemuliaan-Nya, tetapi melayani manusia dengan kepekaan sempurna. Tuhan Yesus terut merasakan dan mengalami penderitaan manusia. Namun karya penyelamatan Allah ini menuntut sikap iman,  yaitu: mengakui kuasa pribadi Yesus yang mampu membebaskan segala penderitaan manusia dan mengakui diri sendiri sebagai orang yang sungguh membutuhkan kerahiman Allah. Pengalaman akan karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus, membuat si buta yang tadinya hanya duduk di pinggir jalan, menjadi berinisiatif dan aktif mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Akhir perjalanan Yesus adalah Kalvari, Gunung Tengkorak, alias penderitaan dan maut. Kita telah menerima karunia keselamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus sehingga kita pun semakin erat bersatu dengan-Nya. Hal itu dapat kita lakukan dengan sikap serta tindakan nyata terhadap sesama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.