Hari Minggu Biasa XXIX (17 Oktober 2021)
Hari Minggu Misi Sedunia
Yes 53:10-11; Mzm. 33:4-5, 18-19, 20,22;
Ibr 4:14-16; Mrk 10:35-45

 

Untuk memahami maksud bacaan hari ini, memerlukan tiga ayat yang mendahuluinya. Dalam ayat sebelumnya, untuk ketiga kalinya Yesus berbicara mengenai sengsara yang akan menimpa-Nya. Tetapi para rasul tidak mengerti perkataan itu. Hal itu kentara dari sikap Petrus yang menarik Yesus ke samping dan menegur Dia. Sikap lebih tegas lagi ditunjukkan Petrus saat Yohanes dan Yakobus memohon supaya dalam kemuliaan Yesus nanti boleh “duduk di sebelah kanan dan kiri-Nya.” Dengan tegas Yesus menjawab, “Kamu tidak tahu yang kamu minta”. Selanjutnya Yesus mulai berbicara mengenai sengsara-Nya, bukan sebagai nubuat atau ramalan, tetapi sebagai pokok kehidupan.

Jawaban Yesus kepada Yakobus dan Yohanes singkat tetapi padat. Yesus mengatakan bahwa mereka harus minum dari piala penderitaan dan ditenggelamkan dalam sengsara. Lagi-lagi, mereka tidak memahami hal itu. Dengan mudah saja mereka menjawab, “Kami dapat”. Mungkin mereka mengira bahwa sengsara itu hanya semacam tes atau syarat untuk masuk ke dalam kemuliaan. Yesus menjawab bahwa dengan penderitaan semacam itu, kemuliaan tidak terjamin. Kemuliaan akan diberikan oleh Bapa dengan sukarela kepada orang yang dipilih-Nya. Orang  yang menyatakan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan-Nya, boleh berharap menjadi satu dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Yesus telah menyerahkan diri dalam ketaatan mutlak kepada Bapa-Nya waktu tergantung pada salib, begitu juga para murid dan pengikut-Nya dituntut juga setia dalam penderitaannya.

Setelah berbicara mengenai sengsara dan perderitaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa sikap yang dituntut adalah kerendahan yang dinyatakan dalam pelayanan. Kondisi kehidupan sosial dan politik waktu itu,  pihak yang di atas menindas yang di bawah. Yesus tidak mau hal yang sama terjadi di antara para murid. Menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan, orang terkemuka pada dasarnya adalah hamba. Pemimpin adalah orang yang siap dan rela meninggalkan segala keinginan akan kehormatan,  pujian, dan kemuliaan. Inilah jawaban yang jelas dan tegas kepada Yakobus dan Yohanes. Dalam hal kepemimpinan, Yesus memberikan diri-Nya sebagai contoh. Yesus datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Pelayanan-Nya tidak sekedar membantu orang lain, tetapi kalau perlu juga mempertaruhkan jiwa bagi mereka.

Yesus adalah teladan.  Hal ini menjadi amat jelas dari bacaan kedua. Imam besar kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (lih. Ibr 4:15). Yesus menjadi senasib dengan kita, bukan hanya secara lahiriah dengan menerima penderitaan manusia, tetapi juga mengalami kegelapan dan diperlakukan secara jahat oleh pihak-pihak yang tidak menyenangi-Nya. Ia juga mengalami “dicobai” oleh setan sampai tiga kali.  Setan mencobai supaya Yesus memanfaatkan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah demi keuntungan-Nya sendiri. Yesus menolak godaan setan itu. Ia hanya mau taat secara penuh kepada Bapa-Nya seperti terjadi di Taman Getsemani.  “Jangan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mrk 14:36).  Konsekwensi dari semua sikap itu adalah salib.

Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang sengsara Sang Penebus. Pada bacaan hari ini hanya dikutip ayat-ayat terakhir yang berbicara mengenai hasil penderitaan itu. Dalam bacaan ini, sengsara dilihat dari kepenuhan ketaatan sampai mati, bahkan mati di salib. Dalam  Kitab Yesaya juga dikatakan, “Sebagai orang benar, hamba-Ku akan membenarkan banyak orang dan memikul kejahatan mereka.” Ia tidak hanya taat kepada Allah, tetapi Ia juga menjadi senasib dengan orang-orang lain. Karena kesetiaan   Yesus dengan manusia, kita juga bersatu dengan Bapa. Yesus yang menjadi perantara antara Allah dengan manusia. Maka dengan mengambil bagian dalam penderitaan Yesus, kita pun diperbolehkan menempuh jalan kepada Bapa dan bersatu dalam kemuliaan Tuhan Yesus. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.