Nasionalisme atau cinta tanah air dan bangsa selalu menjadi ‘refleksi’ pada momen 17 Agustusan. Ada suara-suara bernada miring seakan nasionalisme warga negara masa kini meluntur ketimbang generasi sebelumnya. Suara miring tersebut menguatkan alasannya dengan sejumlah ‘fenomena’ dewasa ini berupa gerakan radikalisme, intoleransi, separatisme atau pemisahan diri, diagung-agungkannya ideologi lain selain Pancasila. Kadar nasionalisme warga negara ini mesti ‘ditakar’ lagi.

Salah satu warga Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Klara, Paroki St. Fransiskus Xaverius-Dumai, Riau, Paulus Suryo Utomo (21) menyatakan, generasi muda tetap cinta tanah air dan tidak meluntur. “Hanya saja, saat ini dan era baru ini perjuangan generasi muda amat sangat jauh berbeda. Dulunya, perjuangan fisik angkat senjata melawan penjajah. Kini, orang muda berjuang dengan belajar, bersekolah. Tujuannya membangkitkan dan mengangkat nama harum Indonesia agar tidak ditindas seperti masa silam,” ucapnya.

Paulus juga mengakui generasi muda juga sangat rentan disusupi dan terpapar ideologi/paham yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Informasi yang beredar di media sosial menunjukkan generasi muda dapat menjadi ‘sasaran’ atau target berbagai aliran/paham pemikiran yang mengarah pada radikalisme dan intoleransi, khususnya yang berkembang akhir-akhir ini di tingkat nasional. “Hal ini tidak luput dari sifat orang muda yang ingin tahu banyak hal dan masih belum memahami, serta kurang pengetahuan dan pengalaman. Jiwa orang muda ingin serba instan, mudah teriming-imingi hal duniawi, sangat cepat mengambil kesimpulan dan percaya begitu saja,” tandasnya.

Sebagai langkah antisipatif agar orang muda tidak terpapar ideologi anti Pancasila dan semakin cinta tanah air, warga Desa Pancur Jaya, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis-Riau ini menuturkan perlunya dukungan dan pantauan orangtua/lebih dewasa. “Juga, perlunya pendidikan di sekolah dan masyarakat mengenai ideologi bangsa Pancasila. Disampaikan tentang ideologi, aliran, ajaran yang tidak sesuai. Kalau tidak, hal keliru terus tertanam dan tertancap, akhirnya dianggap benar dan diikuti,” tukasnya.

Pada lain kesempatan, Ketua Pemuda Katolik Cabang Bukittinggi, Petrus Dimas Saputra mengamini ujaran Paulus. Bahkan, menurutnya, kesadaran bertanah air, berbangsa, dan berbahasa telah tertanam dalam sanubari kaum muda sebelum negara ini terbentuk, yakni peristiwa Sumpah Pemuda (Oktober 1928). Dengan Sumpah Pemuda, para pemuda-pemudi cikal bakal negara ini menyatukan hati dan pikiran menuju Indonesia Merdeka. “Sumpah Pemuda menjadi kobaran api semangat juang kaum muda pada wilayah yang masih dijajah. Tidak hanya di kalangan orang muda, rakyat dari berbagai tingkatan usia pun kala itu ikut ‘terbakar’ api Sumpah Pemuda. Fokus perhatian yakni perjuangan membebaskan diri dari penjajahan,” ucap Dimas.

Pada masa kini, sambung Dimas, semangat cinta tanah setiap orang punya aneka bentuk/wujud. “Dapat dilihat dan dinilai dari tindakan yang dilakukan, terkhusus di kalangan kaum muda. Sangat beragam arah tujuannya. Tidak luput dari pengaruh budaya serta prinsip yang dianut orang muda. Inilah yang menentukan upaya, tindakan, dan konsep perjuangan cinta tanah air kalangan muda. Dalam arus zaman yang penuh tantangan dan modernisasi, orang muda masa kini dan mendatang dituntut berinovasi. Berkembangnya aneka paham/aliran/ideologi serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), warga negara ini – termasuk kaum muda – mesti teguh dalam semangat Bninneka Tunggal Ika, bersikap obyektif dan rasional, tanpa ego dan pembenaran sepihak,” tandas Dimas.

Lain lagi ungkapan salah satu warga OMK Paroki St. Fransiskus Xaverius-Dumai, Riau, Egi Andani Fransiscus Pinem (28), menyatakan contoh konkrit wujud cinta tanah air dimulai dari lingkup kecil terlebih dulu dan bisa dilakukan oleh siapa pun, misalnya buang sampah pada tempatnya di mana pun dan kapan pun sebagai wujud kepedulian cinta lingkungan. Beda zaman, beda pula wujud nasionalisme warganya. Kalau ada gerakan radikalisme, intoleran, dan gerakan pemisahan diri dari NKRI ini, sambung Egi, bukanlah pertanda melunturnya semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

Apa yang dapat dilakukan untuk menguatkan sikap dan semangat cinta tanah air, khususnya generasi muda yang merupakan generasi harapan dan masa depan bangsa? “Langkah kecil, sederhana, dan dapat dilakukan! Saya ikut membagikan informasi yang berkaitan dengan berita positif tentang Indonesia pada media sosial yang dimiliki, sebagai upaya melawan hal-hal radikal. Singkat kata, berani bersuara di media. Menurut saya, di media sosial (medsos)-lah, kita bisa ikut ‘berperang’ melawan ideologi-ideologi yang berusaha memecah serta ikut terus berperan dalam kehidupan nyata, semisal mematuhi peraturan perundangan yang berlaku,” ujarnya.

Salah satu tokoh pemuda Suku Talang Mamak-Riau asal Desa Siambul, Zulkarnaen (25) mengatakan kepada GEMA, “Generasi muda masa kini dituntut berpikir kreatif, aktif, inovatif, kritis, serta bertindak positif untuk memajukan bangsa dan negara ini, khususnya di tingkat lokal/daerah. Generasi mudalah penerima tongkat estafet perjuangan bangsa di waktu mendatang. Dalam masa pandemi Covid-19 ini misalnya, apa yang dapat dilakukan untuk membantu warga masyarakat? Itulah bentuk nasionalisme masa kini. Beda dengan masa lalu berupa perjuangan fisik dan angkat senjata. Bahkan, keikutsertaan dalam pemilihan kepala desa pun dapat menjadi ‘jalan’ menjadi berarti bagi orang banyak.”

Perjuangan melalui organisasi kemasyarakat pemuda (OKP) dilakukan Zul melalui wadah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia/AMPI, sebuah organisasi sayap sebuah partai politik. Ia dipercaya sebagai Ketua AMPI Kecamatan Batang Ganzal dan Sekretaris Jenderal/Sekjen AMPI Kabupaten Indragiri Hulu-Riau. Semangat kecintaaan tanah air tidak melulu pada bidang politik, namun juga dalam bidang pendidikan, sebagaimana telah dilakukan wadah AMPI yang dikomandaninya sejak setahun silam. Disadarinya, tanpa adanya pendidikan, maka tiada pula pemikiran kreatif, aktif, inovatif. “Kami membuka Sekolah Internal guna membantu peserta didik dan guru suka relanya. Ada andil AMPI meski dalam bentuk sederhana dan terbatas,” ujarnya.\

Seksi Kepemudaan DPP St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus-Air Molek, Riau, Ignatius Hardi Sinaga (43) mengungkap cinta tanah air pun bisa diwujudnyatakan dalam tindakan mendukung dan melaksanakan Protokol Kesehatan (Prokes) dengan konsekuen dalam masa pandemi Covid-19 ini. “Langkah ini dapat dimulai dari diri sendiri. Perjuangan untuk memajukan bangsa dan tanah air, atau menjaga keselamatan bersama lewat Prokes juga merupakan bentuk nasionalisme baru. Kecintaan warga masyarakat terhadap negara sendiri juga dapat berupa turut serta menjaga keamanan dan ketertiban bersama, menaati peraturan, sehingga tidak ada kekacauan di tengah kehidupan bersama serta terbina toleransi antarumat beragama. Di sini, Paroki Air Molek tidak ada aksi-aksi saling caci atau semacam perusakan rumah ibadah,” katanya.

Sinaga prihatin dengan berbagai peristiwa yang terjadi dan diekspos di media massa dan media sosial, termasuk adanya kelompok tertentu yang menghendaki perubahan dasar dan ideologi negara ini. “Harus ditindak, apalagi telah bertindak anarkis! Banyak penyebabnya, misalnya karena sakit hati, ingin merebut kekuasaan. Saya prihatin melihat gerakan mahasiswa yang ditunggangi berbagai kepentingan lewat aksi-aksi demo yang mengarah perubahan haluan negara. Berbeda dengan gerakan Reformasi 1998 yang bertujuan jelas menurunkan rezim Orde Baru. Rezim yang telah berkuasa empat windu tersebut membawa penderitaan bagi rakyat,” ungkapnya lagi.

Sebagai bagian umat Katolik, Sinaga menyatakan bangga atas semangat nasionalisme umat Katolik Paroki Air Molek. “Walau sederhana, namun telah tertanam dalam sanubari umat. Terlihat dari berbaurnya umat dalam kehidupan masyarakat sekitarnya, ikut menjaga ketertiban dan keamanan, taat aturan – terutama dalam masa pandemi ini. Secara pribadi maupun kelompok, generasi muda di Air Molek terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan, berupa gotong royong bersama. Untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air, Seksi Kepemudaan pernah menyelenggarakan peringatan Sumpah Pemuda sebelum pandemi,” ucapnya mengakhiri. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *