Perjalanan panggilan ini, saya tidak pernah mengira akan sampai sejauh ini. Saya mengenal Serikat Misionaris Xaverian tatkala di Seminari Merto yudan. Saat itu, Pastor Silvano Lau renzi, SX hadir di seminari mem promisikan panggilan imam dengan sangat pintar dan menarik. Sosok dan gaya Pastor Laurenzi mengobarkan semangat misioner anak muda.

Tetapi… kalau mau lebih jauh lagi ke belakang, saya baru mengenal hal ikhwal tentang seminari – sebagai tempat pendidikan calon imam (pastor), saat saya di tahun terakhir di SMP Kanisius Muntilan. Aneh…karena sejak kecil sampai mulai tumbuh remaja di Semarang, saya tidak pernah membayangkan akan pindah ke Muntilan apalagi menjadi imam.

Sejak kecil saya sudah terlibat untuk melayani altar sebagai misdinar. Saya ingin sekali bertugas membawa wirug (tempat dupa). Karena badan saya kecil, tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk itu. Baru saat dia konat di Paroki Sikabaluan, saya berkesempatan memegang wirug dalam perayaan liturgi.

Saya juga sempat tertarik menjadi bruder, karena kedekatan dengan Br. Vitus Degger, FIC yang saya anggap sebagai “kakek” saya sendiri. Bruder Misionaris asal Belanda ini sempat menjadi pengasuh papa saya saat bersekolah di sekolah Santo Louis, Ambarawa. Namun, papa dan mama saya sendiri tidak pernah bertanya pada saya, “Apa mau menjadi imam?”

Di Muntilan, saya tinggal di bawah asuhan kakek nenek – dari pihak ibu, yang beragama Buddha. Kakek saya termasuk tokoh dalam pengembangan agama Buddha di Muntilan dan Mendut. Kakek saya dikenal dengan nama Romo Pandita Dhamma Chatta yang lazim disingkat UP (Upasaka Pandita). Waktu itu, rumah keluarga besar saya di Muntilan menjadi tempat persinggahan para bikkhu dari Thailand, sampai vihara di Mendut selesai dibangun. Di rumah kakek, ada satu kamar khusus untuk meditasi yang penuh warna kuning. Di tempat ini saya kadang merenungkan masa depan. Saya tidak mungkin menjadi bikkhu. Saya bukan Buddhis. Saya terus merenung, apa yang saya bisa perbuat untuk mewarisi cara hidup dibaktikan yang berbuah dalam ketenangan seperti kakek.

Akhirnya, ketika hampir lulus SMP di Muntilan, seorang bruder Yesuit yang tugasnya memancing panggilan dari anak-anak Sekolah Kanisius yang terkenal menjadi ladang panggilan itu, “menangkap” saya. Waktu itu saya menjadi ketua kelas. Saya diminta mencatat nama-nama teman yang mau mendaftar ke seminari. Ternyata tidak satu pun teman yang mendaftar. Gara gara inilah saya merelakan nama saya dicatat. Siapa yang mengira kalau saya diterima? Yaa…. mulailah saya menjalani panggilan itu. Saya terus mencari dan menemukan rencana Tuhan di balik semua kejadian itu.

Di Seminari Mertoyudan saya semakin mengenal Yesus yang memanggil saya. Bangkit dari krisis panggilan di awal tahun di seminari, semangat saya dikobarkan oleh kisah hidup Santo Fransiskus Xaverius dan mulai belajar mengenal Serikat Xaverian. Meskipun begitu, saya tidak mendaftar sebagai Imam Xaverian, tetapi justru menco ba masuk Serikat Yesus, seperti niat awal saya mulai tertarik dengan panggilan ini di Muntilan yang romo-romonya memang berasal dari Yesuit. Saya tidak diterima dalam tes masuk ke Serikat Yesuit.

Inilah jalan panggilan yang mesti saya tapaki dengan jatuh bangun. Cinta pertama saya pada Misionaris Xaverian berkobar kembali, meskipun sebenar nya saya takut karena kongregasi ini baru membuka seminari. “Apa saya tidak bakalan menjadi kelinci per cobaan nanti?” inilah pergulatan batin saya. Akhirnya saya membulatkan tekad dan menyerahkan diri pada rencana dan kuasa Tuhan, meskipun yang ada pada saya “hanya lima roti dan dua ikan” (Mat 14:17). Saya pun berangkat ke Jakarta untuk melamar ke Serikat Xaverian, sekalipun saat itu masa solisitasi (penerimaan panggilan) sudah usai.

Rupanya begitulah… jalan ini yang mesti saya lalui. Saya diterima tetapi dengan syarat tertentu. Rupanya saya sanggup bertahan. Sampai akhir masa orientasi pastoral, saya mendapati diri sendirian. Satu demi satu rekan seperjalanan panggilan meninggalkan biara. Saya tetap teguh!

Pada waktu menyelesaikan studi teologi di Kentungan, Yogyakarta, saya menerima rahmat begitu besar dan luar biasa sebagai seorang frater Xaverian. Istimewa lagi, saya diizinkan mengucapkan kaul kekal saat beatifi kasi Bapa Pendiri Misionaris Xaverian, Guido Maria Conforti, di Roma (1996). Lima belas tahun kemudian, saya masih tidak mengira, sebagai imam boleh berdiri, sebagai wakil dari Indonesia, bersama para imam yang berkonsele brasi dengan Paus Benediktus pada saat Bapa Pendiri Xaverian diresmikan sebagai Santo di Basilika Santo Petrus – Roma (2011).

Rahmat Tuhan yang saya rasakan tidak sebatas sampai di situ saja. Tepat sesudah Serikat Xaverian merayakan penutupan tahun Yubileum satu abad Konstitusi Serikat Xaverian dan Surat Wasiat dari Bapa Pendiri (2 Juli 1921 – 2 Juli 2021), Bapa Suci Paus Fransis kus mengumumkan pengangkatan saya yang sesungguhnya tidak pantas ini, menjadi Uskup Padang menggantikan Mgr. Martinus Dogma Situmorang (alm) pada 3 Juli 2021. Pada tahun ini juga, 2021, Serikat Xaverian Provinsi Indonesia sedang merayakan 70 tahun kehadiran para misionarisnya di Indonesia. Sebagaimana ucapan syukur yang dirumuskan oleh Santo Guido Maria Conforti dan terus dikuman dangkan dalam adorasi para misionarisnya sepanjang tahun yubileum ini, “Memang, Tuhan tidak mungkin lebih bermurah hati lagi pada kita.” (Surat Wasiat no.1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *