(Refleksi Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX)

 

Pengalaman menjadi formator di rumah pembinaan para frater Xaverian praktis mewarnai hampir seluruh kehidupan saya sebagai imam. Periode pertama (2002-2006) saya ditugaskan mendampingi para frater – sebagai wakil rektor, sambil mengajar sebagai dosen di STF Driyarkara. Sejak Juli 2015 sampai Agustus 2021 saya ditugaskan menjadi Rektor Skolastikat menggantikan Pastor Matteo Rebecchi, SX yang dipanggil kembali bertugas di Mentawai, setelah bertahun-tahun menjadi pembina para frater di Jakarta.

Setiap periode itu membawa kesan tersendiri, seperti setiap tahun frater yang datang dan pergi memberi warna yang unik pada kehidupan komunitas Skolastikat. Tentunya saya bahagia dan senang tinggal di rumah pendidikan ini. Sesudah sempat dua setengah tahun tinggal di Paroki Toasebio – dengan segala aktivitasnya, harus diakui saya sangat berterima kasih kepada komunitas pembinaan yang membantu untuk menata hidup lebih sesuai dengan cita-cita dan program bersama.

Kesan saya, secara umum, kehidupan di komunitas pembinaan yang memberi peluang kebebasan pribadi dan tanggung jawab bersama ini sungguh melatih semua anggota untuk semakin mengembangkan rasa cinta dan sikap memiliki keluarga Xaverian. Sejak semula, dari kaul pertama para frater, sudah ditanamkan sikap dan kesadaran dalam diri mereka untuk menjadi misionaris Xaverian.

Rasanya kebanggaan itulah yang tetap menjadi kesan positif dari tahun ke tahun atas para frater yang datang, mulai beradaptasi dengan kehidupan skolastikat, kemudian ikut berkiprah dalam proses pelaksanaan Program Hidup Bersama, sampai tiba saatnya mengalami sendiri perutusan dan perpisahan sebelum berangkat ke luar negeri.

Dinamika hidup bersama itu sendiri menjadi warna yang khas Skolastikat Xaverian, dengan rapat-rapat keluarga dan program serta evaluasi kebidelan, tuntutan perkuliahan dan usaha saling mendukung, khususnya bagi mereka yang baru datang atau masih lemah dalam studi.

Kesan lain yang lebih khusus adalah fraternitas atau persaudaraan Xaverian yang ditandai oleh dua hal ini: (1) perhatian pada yang sakit dan lanjut usia, (2) serta kemampuan untuk mengampuni dan mulai relasi yang baru. Saya kira, komunitas pembinaan para frater Xaverian yang amat beragam dari sudut usia dan asal-usul, memungkinkan dua hal yang menandai persaudaraan khas Xaverian yang terus menerus harus diwujudkan.

Hasilnya cukup nyata, para Konfrater sendiri semakin merasa bahwa senioritas, meskipun tetap ada, tidak harus menjadi batas dan penghalang persaudaraan. Terlebih lagi, pengalaman konflik yang tidak terhindarkan tidak disimpan sebagai beban atau malahan dendam berkepanjangan.

Memang mengenang semua ini, sesudah dua puluh empat tahun tahun imamat, saya tetap merasa rahmat Tuhan terlalu besar bagi saya yang tidak pantas ini. Akhirnya saya hanya bisa “bersyukur pada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku” (1 Tim.1:12).

Saya memang tidak pernah menolak tugas-tugas yang diberikan pada saya karena percaya saja pada sabda-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap…” (Yoh. 15:16). Saya berterima kasih kepada sanak keluarga yang selalu memberi peneguhan, khususnya ibu saya, dan kepada Anda sekalian yang ikut mendukung saya dalam doa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *