Saya menjadi katekis Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut, Kepulauan Mentawai sejak Januari 1989 hingga Januari 2019. Saya mengenal Mgr. Vitus saat beliau masih Frater menjalani masa Tahun Orientasi Misioner (TOM),  pada Juli 1993 hingga Juli 1994.

Setibanya  di Paroki Siberut, Frater Rubi – panggilan akrabnya saat itu  segera mempelajari bahasa Mentawai. Guru bahasanya adalah Elyzeus Sakeletuk dan anak-anak penghuni asrama. Frater Rubi juga langsung terjun ke tengah umat mempraktekkan kemampuannya  berbahasa Mentawai.  Saya mengenal Frater Ruby pandai melukis. Lukisannya  gambar Yesus ada di beberapa gereja stasi, antara lain Stasi Saliguma dan Wilayah Sarereiket. Selain itu, ada gambar/lukisan almarhum Uskup Martinus D. Situmorang, OFMCap yang masih terpajang di kantor sekretariat paroki.

Selama masa TOM ini, Frater Rubi dengan berbahasa Mentawai memimpin ibadat, pelayanan baptis, mengajar calon baptis, kunjungan ke stasi, menjadi saksi resmi Gereja saat penerimaan Sakramen Pernikahan umat.  Saya menangkap kesan, Frater Ruby orang yang pandai dan cepat belajar, bahkan terasa pas tatkala memimpin ibadat sabda, berkhotbah, dan berbicara dengan umat. Saat jumpa pertama,  saya melihat sosoknya sangat cerdas, ramah, berwibawa, dan bijaksana. Saya pun senang tatkala diminta pastor untuk mendampinginya berkunjung ke stasi-stasi. Frater Rubi termasuk individu yang “nrimo” dan sabar. Suatu ketika, tatkala melukis di gereja stasi, ternyata umat tidak memberinya makan. Frater Ruby tidak mengeluh, tetap meneruskan ‘perjuangan’ untuk melukis hingga selesai.

Sebuah pengalaman sangat membekas bersamanya adalah pada tahun 1994. Saat itu, rombongan Bapa Uskup Situmorang (empat orang) berkunjung ke Stasi Salapa’ kurang mendapatkan  perhatian umat setempat. Hanya beberapa anak kecil, usia SD yang menyambut rombongan itu. Umat dan pengurus stasi tidak menyambut kedatangan rombongan Uskup ini. Setibanya di stasi itu, rombongan makan di rumah guru SD Santa Maria Filial Salapa’.

Ternyata, malam harinya ada acara malam gembira.  Muncullah celetukan umat yang menurut saya kurang pantas dan menprihatinkan.  Mungkin, saat itu almarhum Mgr. Martinus lupa atau memang tidak membawa gula-gula dan rokok. Muncullah ungkapan:  “Uskup pelit/kikir!”. Pastor Ottorino Monaci, SX salah satu anggota rombongan, meninggalkan arena malam gembira itu. Saya pun menyusul. Sebelum beranjak saya guyon pada Frater Rubi, “Ter, bantu Bapa Uskup sampai selesai ya! Jaga Bapa Uskup!”   Ternyata Frater Ruby setia menemani Bapa Uskup hingga acara selesai. Esok harinya, kami berkomentar, “Ah, ternyata Frater Rubi tahan juga mendengar ‘hal-hal yang menyedihkan’ itu dan ocehan umat yang sedemikian itu!”

Setahun bergaul dengan Frater Rubi, tentunya serba sedikit bafi saya untuk mengenal  ‘profil’ dirinya. Soal latar belakang, saya hanya tahu  Frater Ruby orang Tionghoa kelahiran Semarang, Jawa Tengah. Soal panggilan imamat, Frater Rubi pernah bercerita tentang keinginannya menjadi imam Yesuit namun ditolak, yang akhirnya menjadi Misionaris Xaverian.

Saya mencermati, pada usianya yang masih muda kala itu, Frater Rubi tampak matang berpikir dan bertindak. Menurut saya, pertama-tama hal itu disebabkan tempaan pengalaman hidup di dalam keluarganya dan tidak luput ‘didikan’ dari Serikat Misionaris Xaverian. Maka, tatkala mendapat kabar dipilih Bapa Suci Sri Paus sebagai Uskup Padang, saya punya harapan besar mampu dan sanggup menjadi uskup di Keuskupan Padang yang penuh keruwetan dan kerumitan ini. Kalau melihat dari caranya sewaktu TOM, saya yakin Keuskupan Padang akan lebih baik dan maju, termasuk memberikan perhatian pada umat Katolik di Kepulauan Mentawai.

 

 

Petrus Marjuni
Katekis Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut,
Mentawai periode 1989-2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *