Siapa  Uskup  baru  Keuskupan Padang?
Pastor  Dr. Vitus Rubianto Solichin, SX.
Uskup baru ini cucu dari Upasaka-Romo Pandita Buddha

Bapa Suci Paus Fransiskus, Sabtu, 3 Juli 2021 telah mengangkat uskup baru untuk Keuskupan Padang. Pengumuman atas pengangkatan itu dilakukan Administrator Diosesan Keuskupan Padang P.Alex Irwan Suwandi,Pr. dengan membacakan surat  Nunsius (Duta Besar Vatikan) tentang  pengangkatan uskup baru itu di Gereja Katedral, Sabtu, 3 Juli 2021. Pemakluman tanpa kehadiran umat ini disiarkan live melalui chanel youtube Komisi Komsos Keuskupan Padang.

Selama masa cede vacante (takhta lowong) – sejak wafatnya Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap, 19 November 2019,  aneka pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi uskup baru Keuskupan Padang menggelayuti benak para pihak yang punya kepentingan dan perhatian dengan keuskupan ini.

Pertanyaan tentang sosok yang menggantikan Mgr.Martinus tentu saja menarik.  Tentang siapa orangnya, tentu saja selain para imam yang dicalonkan, ada pihak-pihak (lingkup terbatas) kaum tertahbis yang tahu sosok calon uskup baru.  Setelah uskup baru terpilih pun di kalangan umat umumnya, tidak mengetahui secara pasti siapa saja imam yang dicalonkan.  Mereka hanya menduga-duga. Tidak tahu pasti! Karena memang tidak pernah diumumkan atau diberitahukan secara terbuka.  Yang pasti, sebelum ditetapkan sebagai calon uskup tentu sudah melalui proses seleksi, terkait kualifikasi syarat yang bersifat obyektif dan subjektif. Para imam yang dicalonkan tentu saja bukan orang sembarangan.

Seiring dengan itu, aneka spekulasi atau andai-andai di kalangan  klerus, biarawan-biarawati, dan awam pun muncul. Sebelum menyebut nama pastor yang dicalonkan, ada yang memetakan dari ordo/kongregasinya. Imam (pastor) yang berkarya melayani di Keuskupan Padang, yaitu: Imam Diosesan (Projo) Padang, Serikat Xaverian (SX),   Kapusin (OFMCap), Hati Kudus Yesus (SCJ), Karmelit (OCarm), Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria (SSCC).

Dalam alam bebas pikiran dan harapan, terutama  umat, juga mungkin di kalangan imam muncul harapan-harapan akan sosok  uskup baru.  Setelah memetakan asal ordo/kongregasi, masuklah pada pemetaan sosok imam (pastor) yang diharapkan menjadi uskup baru.  Ada yang secara terbuka menyatakan:  “Semoga dia, bukan dia!”

Soal waktu, Kapan  waktunya keuskupan yang cede vacante mendapatkan uskup baru sampai sekarang menjadi tanya besar.  Para calon uskup sendiri pun tidak tahu kapan waktunya akan diangkat!  Hanya Tuhan dan Takhta Suci Vatikan yang tahu.  Untuk hal ini, umat Keuskupan Padang hanya berserah dalam iman, harapan, cinta sembari dengan setia terus mendoakan permohonan Uskup Baru. Melihat pengalaman keuskupan-keuskupan lain, Keuskupan Padang termasuk cepat mendapatkan uskup baru dibandingkan Keuskupan Sibolga  sejak wafatnya Mgr. Ludovikus Simanullang, OFMCap. pada 20 September 2018.

Menerima Penuh iman

Kini, siapa dan kapan waktu menerima uskup baru terjawab sudah! Pastor Vitus Rubianto Solichin, SX. Imam dari Kongregasi Misionaris Serikat Xaverian (SX) ini barangkali tidak banyak dikenal umat Keuskupan Padang. Umat Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Muara Siberut yang dilayaninya saat menjalani Tahun Orientasi Misioner (TOM) dan Paroki Paroki Santa Maria Auxilium Christianorum Sikabaluan yang dilayani saat Masa Diakonatnya, barangkali tidak mengingatnya lagi. Setelah menjadi uskup, kenangan dan ingatan akan sosoknya baru akan diputar kembali.

Siapa pun yang menjadi uskupnya, komunitas Keuskupan Padang menerima saja dan tunduk dengan Takhta Suci Vatikan. Umat dengan penuh iman menerima gembala baru mereka. Jabatan uskup bukanlah jabatan politi tetapi jabatan pelayanan sehingga tidak menimbulkan gejolak. Gereja meyakini dan menerima semua itu kehendak Allah yang bekerja melalui Takhta Suci Vatikan. Bagi sebagian orang (imam dan awam), terpilihnya Mgr. Vitus sebagai uskup baru tentu saja melegakan.

Dari sisi asal kongregasi, terpilihnya Mgr. Vitus merupakan estafet penggembalaan bagi Keuskupan Padang.  Kongregasi  Xaverianlah yang membidani berdirinya keuskupan ini,  Mgr. Raimundo Cesare Bergamin, SX sebagai uskup pertama (16 Oktober 1961 – 11 Juni 1983).  Sebelumnya Mgr. Pasquale. De Martino, SX  sebagai Prefektur Apostolik Padang (27 Juni 1952 – 3 Januari 1961) setelah wilayah keuskupan ini dipisahkan dari wilayah Vikariat Apostolik Medan.  Mgr. De Martino diberi julukan Raksasa berhati lembut.

Kini plong!  Keuskupan  Padang telah memiliki uskup baru. Cede Vacante berakhir. Ada sejumlah agenda besar untuk menyambut dan merayakan Tahbisan Episkopat ini.  Dua perayaan besar yaitu:
(1) Ibadat Salve Agung dan Pemberkatan Insigna,
Rabu, 25 Agustus 2021 (sore) di Gereja Katedral Santa Theresia Kanak-anak Yesus, Padang.
(2) Tahbisan Episkopat,
Kamis, 26 Agustus 2021, di Gereja Katedral Padang, Sumatera Barat. Sebagai penahbis Nunsius(Duta Besar Vatikan untuk Indonesia) Mgr. Piero Pioppo.

Suasana luar biasa! Kini masa pandemi Covid-19. Umat tidak bisa secara leluasa menghadiri moment-moment penting dan sakral ini. Kehadiran umat akan sangat dibatasi jumlahnya. Informasi sementara, kehadiran (imam dan umat) sesuai protokol kesehatan, yaitu: 50 persen dari kapasitas ruang Gereja Katedral Meskipun demikian umat tetap bisa mengikutinya secara virtual melalui channel youtube Komisi Komsos Keuskupan Padang yang juga direlai Seksi Komsos Paroki. Keterlibatan umat secara virtual (online) tidaklah mengurangi makna dan nilai spiritual akan moment sakral dan berahmat ini.

Sebagai bentuk nyata dukungan, umat diberi kesempatan memberikan kado doa dan matiraga – “Kembang Rohani” berupa: misa, doa (Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Rosario, Koronka), doa pendek, Novena, Jalan Salib, matiraga, devosi Orang Kudus, dan bentuk-bentuk lain. Umat bebas memilih bentuknya dan menentukan banyaknya doa atau matiraga. Kado umat ini dikumpulkan di paroki-paroki, selanjutnya dirangkum oleh Panitia Tahbisan Uskup, lalu diserahkan kepada Uskup Baru. Kita dukung juga Uskup Baru dengan karya-karya kita.

Selamat Datang Mgr. Vitus! Selamat menggembalakan dan melayani umat Keuskupan Padang yang tersebar dan terpencil dari Samudera Indonesia hingga Selat Malaka, dari Rimbo Panti (Pasaman) hingga khaki Gunung Kerinci, Kayuaro, Kerinci, Jambi. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *