Siapakah Mgr.Vitus?

Nama saya Vitus Rubianto Solichin. Saya lahir 15 November 1968 sebagai anak kedua dari empat bersaudara, dua perempuan dan dua laki-laki. Nama Papa saya bernama Michael Mustomo Solichin (alm.) dan mama Lidwina Dwiyani.

Proses Pembinaan yang KulaluiĀ 

Saya berasal dari Paroki Katedral Randusari, Keuskupan Agung Semarang (KAS). Pendidikan dasar, saya jalani di SD Marsudirini, dulu bernama Regina Pacis, asuhan Para Suster

Fransiskanes Semarang (OSF). Setelah lulus SD (1981), saya melanjutkan ke SMP Domenico Savio, Semarang, yang dikelola para Bruder FIC. Di sekolah ini saya hanya setahun. Saya pindah ke Muntilan masuk SMP Kanisius, Muntilan, lulus 1984.

Saya mulai menjawab pang gilan Tuhan dan masuk ke SMA Seminari Mertoyudan (1984 1988). Kemudian, saya bergabung dalam keluarga imam misionaris Serikat Xaverian yang berpusat di Padang, Sumatera Barat. Perjalanan panggilan saya di kongregasi ini termasuk unik. Tuhan punya cara tersendiri untuk memilih dan memanggil saya. Saya adalah imam Xaverian pribumi (asli Indonesia) ketiga dalam kongregasi misionaris yang kebanyakan pastornya berasal dari Italia. Baru pada tahun 1986 Serikat Xaverian Indonesia membuka pendidikan calon imam untuk orang orang Indonesia. Saya masuk novisiat SX tahun 1988 di Jakarta bersama sebelas pemuda lain dari berbagai tempat, suku (etnis), dan seminari di Indonesia.

Saya mengucapkan kaul pertama 9 Juli 1989 di Gereja Paroki Pulomas, Jakarta, dan menjalani pendidikan skolastikat filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta (1989-1993). Setelah itu, saya mengalami setahun masa orientasi pastoral di Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Muara Siberut, Kep. Mentawai. Sesudah itu saya melan jutkan studi teologi di Kentungan, Yogyakarta (1994-1996).

Sesudah menerima tahbisan diakon di Padang dari tangan Mgr. Martinus D. Situmorang (alm.), pada 16 Januari 1996, saya kembali ke Mentawai untuk menjalani masa diakonat selama enam bulan di Paroki St. Maria Auxillium Christianorum – Sikabaluan, Mentawai. Saya ditahbiskan imam bersama dengan dua romo projo Keuskupan Agung Semarang di Kapel Seminari Kentungan pada 7 Juli 1997.

Saya segera mendapatkan tugas studi ke Roma setelah tahbisan imamat itu. Menjelang akhir tahun 2001, saya menyelesaikan studi spesialisasi dalam bidang Kitab Suci dari Institut Kitab Suci Kepausan Biblikum, Roma.

Saya pulang ke Indonesia untuk mulai mengajar di almamater STF Driyarkara Jakarta mulai tahun 2002, sambil menjadi pembina para frater Xaverian. Setelah lima tahun menjadi dosen dan pembina para frater, pada tahun 2006, saya berangkat bersama dua pastor SX lainnya mewakili Xave rian Provinsi Indonesia pada kongres spiritualitas Xaverian di Italia. Saat dua pastor SX pulang ke Indonesia, saya ‘ditahan’ di Roma untuk melanjutkan studi di bidang Teologi Kitab Suci di Universitas Gregoriana.

Sesudah perjuangan panjang, saya berhasil mempertahankan disertasi doktoral dengan tesis tentang Perum pamaan dalam Injil Markus, pada Juni 2012. Sepulang Italia, saya ditugaskan menjadi pastor rekan di Paroki Santa Maria de Fatima, Toasebio – sebuah wilayah pecinan di tengah kota Jakarta – mulai tahun 2012, sembari tetap melaksanakan tugas sebagai dosen Kitab Suci di STF Driyarkara. Hanya dua tahun lebih sedikit saya menikmati kehidupan di tengah umat paroki, karena pada pertengahan 2015, saya ditarik kembali ke rumah pembinaan para frater, menjadi pemimpin Skolastikat Filsafat Xaverian di Cempaka Putih Raya, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *