Hari Raya Semua Orang Kudus (1 Nopember 2021)
Why 7:2-4, 9-14; Mzm. 24:1-2, 3-4ab, 5-6;
1Yoh 3:1-3. Mat 5:1-12a

 

Apakah Anda ingin hidup sukses? Ada banyak tawaran melalui brosur, buku, seminar, internet, dan aneka penawaran lain sebagai jalan sukses.  Sukses juga menjadi kata kunci dalam setiap kegiatan dan perjuangan manusia. Setiap orang ingin sukses dalam karier, studi, bisnis, percintaan, keluarga, dan sukses dalam banyak hal lain.  Sukses tidaknya seseorang kadang hanya diukur dari penampilan luarnya. Orang yang berdasi, bermobil pribadi ke kantor sering dipandang sukses dalam kariernya. Orang yang tinggal di perumahan mewah pandang sukses hidupnya. Sukses tidaknya seorang murid kadang diukur dari prestasinya; misa menjuarai aneka lomba akademis dan non akademis. Pada saat level inilah kesuksesan seseorang diukur dari prestasi, kekayaan, kehormatan, jabatan, status sosial, gaji dan harta yang melimpah.

Lalu siapakah yang disebut sukses menurut Injil? Injil hari ini tidak secara langsung berbicara  tentang kesuksesan. Makna kesuksesan menurut bacaan Injil ini tersirat dalam sabda bahagia Yesus. Sabda bahagia ini harus ditempatkan dalam konteks keseluruhan pewartaan Yesus, terutama khotbah Yesus di bukit. Dalam khotbah di bukit Yesus mewartakan Kerajaan Allah – Allah yang memerintah dan berkuasa. Kuasa Allah ini bekerja di tengah-tengah kehidupan manusia. Di mana dan kapan Kerajaan Allah itu bekerja dan berdaya guna? Kerajaan Allah hadir, bekerja dan berdaya guna pada orang miskin, orang yang berdukacita, orang yang lembut hati, orang yang haus akan kebenaran, orang yang berbelaskasih pada orang  lain, orang yang suci hatinya, orang yang mengusahakan perdamaian, dan  murid-murid Kristus yang rela menderita demi nama-Nya. Sebab mereka yang hidup miskin, terhina, tertindas, menderita merupakan orang-orang yang paling mudah  membuka diri kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mudah merasa bergantung pada Allah. Mereka yakin bahwa dirinya sendiri tidak mampu berbuat apa  pun demi keselamatan dan kebahagiaannya.

Sikap yang sama ditujunjukkan oleh Yesus dengan contoh dan perumpamaan tentang anak kecil, “Biarkanlah anak-anak itu…. sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Anak kecil adalah pribadi yang paling bergantung pada orang lain, paling terbuka bagi dominasi dan kekuasaan orang lain. Demikianlah hendaknya manusia di hadapan Allah. Manusia seperti inilah yang merasa bergantung dan bisa menyandarkan diri kepada Allah. Bagi merekalah Kerajaan Surga. Kalau begitu sukses menurut Injil bukan terletak pada kekayaan, kehormatan, kedudukan, atau status sosial seseorang, melainkan pada sikap sejauh orang itu rela dan membuka diri untuk dipimpin dan dikuasai oleh Allah.

Hari Raya Semua Orang Kudus mengingatkan kita akan identitas dan tujuan hidup manusia. Hidup dan perjuangan manusia tidak memiliki tujuan pada dirinya sendiri, tetapi hanya pada Allah. Kapan manusia mencapai kesuksesan dan keberhasilan hidupnya secara sempurna? Kesuksesan dan keberhasilan hidup menjadi sempurna  tatkala manusia sudah masuk dalam himpunan besar umat Allah di kerajaan-Nya. Kebahagiaan sejati terwujud ketika seseorang sepenuhnya menaruh harapan kepada Kristus, seperti dikatakan pada bacaan kedua. Ketika karier dan kekayaan kita terhambat, karena kita adalah murid-murid Kristus, saat itulah kita mulai menjejakkan kaki dalam barisan orang kudus. Bukankah ini memenuhi sabda Tuhan, “Berbahagialah kamu, kalau diejek, dianiaya dan difitnah karena Aku; bersukacita dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di Surga” (Mat 5:11-12a).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *