Lambang Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX adalah Perisai yang terbagi menjadi tiga bagian: dua bagian di atas, kiri dan kanan, dan satu bagian besar di bawah.

 

Di bagian atas sebelah kiri, dengan latar belakang merah adalah Kitab Suci, bidang minat studi Beliau. Mewartakan kabar gembira dan membina kehidupan umat beriman berdasar pada Sabda Allah senantiasa menjadi perhatian beliau.

 

 

 

Di bagian atas sebelah kanan, dengan latar belakang kuning adalah Seekor kepiting berwarna Merah dan sebuah Salib berwarna Coklat. Cerita mengenai kepiting dan salib ini merupakan bagian dari kisah perjalanan misi Santo Franciscus Xaverius di Maluku. Bapa Uskup Vitus adalah seorang misionaris dari Serikat Xaverian.

 

Di bagian bawah perisai, dengan latar belakang biru, ada beberapa simbol. Di kiri atas ada Bintang bersudut enam berwarna kuning, yang bersama dengan laut biru di bawahnya adalah Stella Maris atau Bintang Samudra, salah satu gelar Bunda Maria. Di kanan atas ada Dua Untai Buah Andalas berwarna ungu, melambangkan Pulau Sumatera.

Di tengah bawah, ada 3 Ombak, melambangkan lautan yang menghubungkan Sumatera dengan pulau-pulau di sekitarnya. Di atas ombak ini ada sebuah Perahu Mentawai, yang mengingatkan Bapa Uskup akan pulau indah tempat Beliau untuk pertama kalinya menjalankan tugas misionernya. Di atas perahu ini ada seekor induk Pelikan dengan tiga anaknya yang masih kecil. Induk Pelikan ini terlihat berdarah, setelah ia memberikan daging dan darahnya sendiri untuk makanan bagi anak-anaknya. Pelikan ini adalah lambang Kristus.

 

Di atas perisai ditempatkan sebuah Galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan 6 jumbai pada masing-masing sisinya. Di bagian tengah belakang perisai adalah sebuah Salib pancang berwarna kuning keemasan. Galero hijau dengan 6 jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang Uskup.

Akhirnya, di bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan motto penggembalaan Uskup Vitus dalam Bahasa Latin: “Misericordia Motus”, artinya “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 15:20). Demikianlah, Gereja diundang untuk menampilkan wajah Bapa yang berbelas kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *