Di akhir pertemuan anggota Wanita Katolik RI di parokinya, Romo Kebet membacakan kisah berikut:

Ibu guru kelas VI SD memberikan tugas kepada peserta didiknya untuk membuat karangan pendek, berjudul: “Seandainya Aku Jadi…”

Setelah menyeleksi dan menilai hasil karya peserta didiknya, Ibu Guru itu membawa satu tulisan untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah suaminya bertanya, “Hei, ada apa?”

“Ini ada essay menarik dari salah satu anak di kelasku tadi. Bacalah ini!” jawabnya.

Lalu suaminya membaca perlahan: ” Tuhan, jika engkau mengabulkan, aku ingin menjadi sebuah televisi. Aku ingin hidup menggantikan televisi yang ada di rumahku. Punya tempat spesial yang dikelilingi semua anggota keluarga, diperhatikan saat berbicara, dan menjadi pusat perhatian di rumah.

Aku ingin diperlakukan seperti televisi yang ditemani oleh ayahku meski lelah seusai kerja, dicari oleh ibuku ketika sedih, dan diperebutkan oleh kakak-kakakku. Aku ingin merasakan sebuah keluarga yang memperhatikan dan rela menghabiskan waktunya denganku.

Yang terakhir aku juga ingin bisa menghibur mereka dengan kata-kataku. Aku tidak ingin meminta hal yang sulit Tuhan. Aku hanya ingin menjadi televisi.”

“Kasihan sekali anak ini yaa…!” kata suaminya.

Lalu Ibu Guru itu menjawab, “Yaa…kasihan! Itu tulisan anak kita.”

Romo Kebet tidak membahas cerita itu, hanya memberikan pesan pendek. “Ibu-ibu, bawalah pulang cerita ini.  Berikan kepada suami Anda masing-masing.” katanya.  (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *