Tatkala ditahbiskan sebagai seorang imam (7 Juli 1997), kami dari keluarga besar Michael Mustomo Solichin tidak pernah punya perasaan seolah-olah ada anggota keluarga yang ‘diambil’. Saat masuk Seminari Mertoyudan, adik Vitus memang jadi lebih jarang pulang ke rumah, namun ia selalu ada di dalam hati kami. Tidak pernah terbersit sekalipun perasaan seakan diambil dari keluarga besar kami. Saat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga, hubungan kami tetap akrab. Adik Vitus tetap bersahaja dan tidak ada yang berubah pada dirinya.

Memang, sedari kecil, kami berempat bersaudara punya hubungan yang erat dan dekat satu dengan lainya, begitupun dengan orangtua. Sejak kecil, kami sering berdoa bersama. Saat adik Vitus berkesempatan mendapat penugasan dan belajar di Roma (Italia), sebelumnya kami bertemu dan bersatu dalam doa. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi warisan iman yang begitu indah kepada kami sekeluarga. Memang, bagaimana pun juga tetap ada perasaan bertanggung jawab membimbing tiga adik selain adanya bimbingan orangtua.

Saya masih mengingat kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga kami. Sejak kami masih kecil, papi suka menempel banyak gambar ‘places’ Bunda Maria, Tuhan Yesus yang masih kecil, dan Santo Yosef. Papi sering bercerita tentang Bunda Maria sebagai Bunda Penolong Abadi. Papi dan mami memang dekat dengan kehidupan agama. Sewaktu muda, mami pernah menjadi penghuni asrama puteri Susteran dan papi penghuni asrama putera Bruderan. Papi juga sering mengajak teman-teman asramanya berdoa bersama ketika kami masih kecil di asrama St. Louis-Ambarawa.

Sewaktu masih murid SD Regina Pacis (kini bernama Marsudirini) -Semarang, setelah menerima Komuni Pertama, adik Vitus rajin bertugas sebagai putera altar/misdinar di gereja Katedral Semarang. Mungkin ada yang beranggapan keluarga kami keluarga religius dan penanaman nilai keagamaan telah dilakukan sedari masih berusia dini. Itu semua tidak luput dari pengaruh didikan papi dan mami kepada kami berempat (saya, adik Vitus Rubianto Solichin, Bernadet Sandra Trisanti Solichin, dan Petrus Donny Solichin)

Memang, papi dan mami mengajar kami agar dapat menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan namun tidak menjadi fanatik. Mereka mengajarkan semangat toleransi pada sesama yang berbeda keyakinan/iman. Papi dan mami punya banyak sahabat dari agama lain (Kristen, Islam, Buddha). Bahkan, kakek nenek kami juga penganut Buddha yang taat. Selain bertoleransi, kami juga dididik peduli pada sesama yang miskin. Mami termasuk tidak sungkan memberi makan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) – yang lebih dikenal dengan sebutan orang gila.

Namun, kebersamaan kami dengan papi tidak berlangsung lama. Saat saya masih berusia 15 tahun – saat masih kelas VIII SMP – dan adik Vitus berumur 13 tahun, papi dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa pada tanggal 19 April 1981. Papi meninggal akibat sakit gagal ginjal yang dialaminya. Mami menjadi orangtua tunggal (single parent) yang mengurus kami anak-anaknya. Sewaktu masih hidup, papi – dibantu mami – punya warung sembako yang cukup lengkap. Papi memperbolehkan pegawai atau guru-guru di depan rumah sekolah untuk mengambil kebutuhan sembakonya terlebih dulu. Pembayaran setelah gajian. Tentu saja, kepergian papi membuat kami kehilangan figur/sosok seorang ayah.

Sepeninggal papi, mami masih tetap menekuni usaha warung sembako sembari berjualan kue, es cincau, nasi untuk murid sekolah dasar (SD). Adik saya, Sandra, masih kelas IV SD. Bungsu, Donny masih berumur empat tahun. Rencana masuk sekolah terpaksa diurungkan. Tahun berikutnya (1982), barulah Donny masuk sekolah. Memang, itu adalah saat-saat berat bagi mami mengurus empat anak yang masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang ayah. Saya sebagai sulung pun ikut merasakan hal ini, terutama untuk ikut bantu mengurus tiga adik. Sempat muncul pemikiran mami untuk menjual rumah di Semarang dan kembali ke Muntilan, bersama kakek-nenek. Akhirnya, saya dan adik Vituslah yang bersekolah di Muntilan. Mami tetap di Semarang mengurus adik Sandra dan adik Donny. Tidak jadi pindah.

Karena kondisi ekonomi saat itu, sewaktu masih SMA di Muntilan, sepulang sekolah, saya membantu jaga toko sembako milik kakek. Tugas jaga toko berakhir bila saya menutup toko. Walau jarak dengan adik Vitus berjauhan, sejak masuk Seminari Mertoyudan, tetapi kami selalu bertemu dan bersatu dalam doa. Saya remaja Legio Maria kala itu. Kini ikut terlibat dalam aktivitas Kerabat Kerja Ibu Teresa, ikut serta di lingkungan dan gereja; bahkan sebagai prodiakon Paroki Kumetiran-Yogyakarta.

Selesai SMA, saya bekerja pada sebuah bank swasta. Di tempat ini, saya selalu pulang hingga sore bahkan petang hari. Saya berusaha mengikuti perkuliahan sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka (UT) pada pertengahan tahun 1985 hingga 1987. Namun, hanya bertahan selama dua tahun atau empat semester.  Adik Vitus tetap menjalani pendidikannya. Semua adik saya berkesempatan mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi dan menyelesaikannya. Mereka menyandang gelar sarjana.

Walau sejak kecil terlibat aktivitas putera altar/misdinar atau kerap berdoa Rosario bersama-sama, namun kepada saya sebagai kakak tertua, adik Vitus belum pernah membicarakan niatnya masuk seminari atau keinginan menjadi seorang imam/pastor. Saat masih SD, kami bertiga saudara (saya, adik Vitus, adik Sandra) kerap berdoa Rosario di sore hari. Namun, tahu-tahu, adik Vitus masuk seminari, setamat SMP. Meski sempat bingung, namun saya senang juga saat adik Vitus memutuskan masuk Seminari Menengah St. Petrus Kanisius di Mertoyudan (1984). Saya senang punya adik-adik yang tidak bandel ataupun nakal. Mereka adik yang penurut, taat, patuh, dan tidak pernah membantah. Saya dan adik-adik tahu diri dengan situasi keluarga kami.

Adik Vitus terlibat sebagai putera altar. Namun, karena tidak boleh misdinar perempuan di Katedral Semarang – padahal sudah latihan lama akhirnya saya tidak jadi bertugas. Saya masih melibatkan diri dalam aktivitas kegerejaan sebagai legioner Legio Maria saat remaja. Kini ikut dalam Kerabat Kerja Ibu Teresa. Sewaktu pindah sekolah di Muntilan, adik Vitus masih ikut melibatkan diri di gereja Muntilan sebagai misdinar. Memang kesukaan dia. Suasana Katolik sangat terasa kental di Muntilan. Misa pagi hari pasti dipenuhi umat. Saat itu, jam lima pagi, banyak umat berjalan kaki menuju gereja setempat. Sepulang Misa Kudus, kami sarapan pagi dan seterusnya berangkat ke sekolah. Masa lalu yang penuh kenangan. Dari pengalaman keluarga kami, saya merasakan kemurahan dan kerahiman Allah. Orangtua yang menyayangi kami. Begitupun kami sebagai anak yang patuh dan rajin bersekolah. Kami saling bantu dan kompak sedari kecil.

 

diadaptasikan dan disarikan dari perbincangan GEMA
Ibu Elisabeth Lisatiningsih Solichin
Kakak perempuan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX/hrd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *