(Pekerjaan Rumah  yang Belum Selesai)  – Sebuah Kesan Sudarto)

 

Secara pribadi saya sudah mengenal nama Mgr.  DR.  Vitus Rubianto Solichin,  SX,  namun belum terjadi komunikasi intensif.   Suatu ketika sahabat senior saya, Mas Budhy Munawar Rahman – dosen Universitas Driyarkara, memberitahu bahwa Romo Rubi terpilih menjadi Uskup Padang – menggantikan almarhum Mgr.  Martinus Dogma Situmorang,  OFM.Cap yang telah dipanggil Tuhan (2019). Ingatan saya menerawang. Yang manakah Romo Rubi.

Tidak lama berselang,  saya ketemu teman baik saya, Yosep Bejo Prakoso. Kami berbincang-bincang soal terpilihnya Romo Rubi sebagai Uskup Padang.  “Mas Darto kan pernah ketemu  Romo Rubi di Biara Xaverian Cempaka Putih Jakarta! Saat itu Xaverian mengundang Ulil Abshar Abdalla dalam diskusi bertema Memahami Keilahian Yesus dalam Perspektif Agama-Agama.”  kata Pak Yosef.  Barulah saya ngeh tentang sosok Romo Rubi.

Kemudian saya beberapa kali saya japri  Mgr. Vitus untuk mengundang minum kopi sore di sekretariat PUSAKA Jalan Veteran Padang.  Tapi sayang,  batal karena hujan deras dan cukup lama hingga akhirnya terjadi genangan air di banyak titik di Kota Padang.

Kesan pertama saya terhadap Mgr. Rubi, meminjam iklan produk:  Sudah menggoda, selanjutnya terserah Anda!”    Uskup Rubi terlihat supel,  ramah,  dan suka ketawa.  Saya membayangkan sosoknya juga suka guyon dan joke-jokean lintas iman yang menggelitik, lucu tetapi tidak kehilangan substansi.

Pertemuan perdana saya dengan Mgr. Vitus sehari setelah Tahbisan Episkopalnya, usai misa perdana di Biara Serikat Xaverian, Padang.  Sebelumnya, saya sudah japri beliau untuk menyampaikan ucapan selamat setelah penahbisan menjadi uskup dan bapa utama bagi umat Katolik di Keuskupan Padang. Saat perjumpaan perdana tersebut, saya selipkan ucapan selamat menjalankan tugas berat mengurus umat yang banyak, dengan wilayah yang tidak dekat, dan tentu agak sulit untuk bisa bertemu ngopi yang tertunda.  Beliaupun tertawa.  Ternyata tidak meleset dugaan saya.  Mgr. Rubi murah senyum, bahkan ketawa. Saya pun tidak merasa formal lagi, tentunya tanpa kehilangan rasa hormat kepada beliau.

Masih terus terngiang dan terus segar dalam ingatan saya pernyataan Uskup  Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap kepada saya di ruang kerjanya.  “Kita tidak bisa mampu berbuat segalanya dan tidak elok merasa bahwa kita paling berjasa dan bisa menyelesaikan sendirian! Kita butuh orang lain dan butuh saling menguatkan serta subsidiaritas untuk persoalan kemanusiaan bersama.” tutur Mgr. Martinus.  Sungguh benar pernyataan almarhum Mgr. Martinus.  Kami menyadari untuk mewujudkan dialog karya, belum mampu kami ejawantahkan bersama. Kami baru pada tahap dialog antar iman sembari membangun kepercayaan (trust building) secara lebih luas. Hal itu pun mengalami ‘pasang naik dan turun’.

Saya mendengar Mgr. Vitus aktif dan concern pada upaya-upaya dialog lintas iman. Tentu saja hal ini menjadi “gayung bersambut” untuk menuju dialog yang lebih substantif antariman menuju dialog kerja hingga akhirnya dialog pengalaman rohani dan spiritualitas. Suatu hal yang saya rasakan bersama almarhum Mgr.  Martinus yakni masih menjadi Pekerjaan Rumah Bersama (PRB); yakni rumah kita Indonesia tercinta.

Selamat mengemban tugas penggembalaan di Keuskupan Padang Mgr. Rubi yang sholeh (Solichin).  Nama ini berakar kata yang sama dengan kata aslah artinya kebaikan dalam bingkai: 1) mengambil yang lama – yang baik,  dan mengambil yang baru – yang lebih baik (al muhafazah ‘ala qadimi shalih wa al ahzu bila jadidin aslah). 2) Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa bukan dalam dosa dan bukan kejahatan (taawanu a’la al birri wa taqwa,  wala taawanu a’la ismi wal’udwan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *