Sepengetahuan saya, saat belajar  (lisensiat dan doctoral) di Roma-Italia, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX telah mengenal dan terlibat dalam aktivitas Komunitas Sant’ Egidio (KSE).  Bahkan, kala itu, beliau terlibat sangat intens dan mendedikasikan dirinya dalam aktivitas KSE. Setiap Minggu, beliau memberikan pelayanan liturgi untuk teman-teman yang kami layani di pinggiran Kota Roma. Saat itu, beliau ikut aktif pada aktivitas pembagian makanan bagi kalangan miskin di jalan dan terminal.

Boleh dikatakan, pengalaman dan persahabatannya  dalam KSE tidak bisa tergantikan dan telah mendarahdaging. Ketika kembali ke Indonesia, beliau juga membantu KSE di Jakarta; terkhusus dalam pelayanan liturgi. Saya harus katakan, KSE sangat terbantu dengan keikutsertaan Pastor Vitus kala itu. Saat itu, beliau turun tangan langsung dalam pelayanan bagi opa-oma di panti jompo. Saat pertemuan dua tahunan KSE dengan para rohaniwan, Pastor Vitus membantu sebagai penerjemah bahasa. Boleh dikatakan, keterlibatan Pastor Vitus (kini Uskup) intens di KSE.

Tidak mengherankan, tatkala pengumuman uskup baru Keuskupan Padang, 3 Juli 2021, disebutkan namanya, pikiran banyak pihak terarah sebagai Konfrater Xaverian. Ketika tahu ada “aktivis” KSE Jakarta terpilih sebagai uskup, warga KSE di Padang, Pekanbaru, dan Duri bersuka cita, gembira, dan bahagia. Kami sangat bergembira karena seorang pastor yang membantu KSE terpilih sebagai Uskup Padang. Apalagi dalam catatan sejarah, KSE pertama kali hadir di Indonesia bermula dari Kota Padang (1990). Boleh dikatakan, Tuhan mengutus seorang uskup untuk membantu dan merawat ‘warisan’ Sant’ Egidio yang ada di Keuskupan Padang.

Dengan terpilihnya Pastor Rubi sebagai Uskup Padang, kami warga KSE menjadi lebih bersemangat. Semoga kami bisa membantu Bapa Uskup dalam menampilkan wajah Gereja yang lebih manusiawi dan berbelas kasih. Kami merasa mottonya Misericordia Motus, sangat dekat dengan spiritualitas KSE. Secara pribadi, saya berharap warga KSE dapat menjadi pembawa ‘virus belas kasih’ di Keuskupan Padang. Idealnya, belas kasih pun bisa diviralkan dalam doa dan pelayanan. Semoga ‘virus-virus’ ini bisa menyebar ke segenap pelosok Keuskupan Padang.

 

Ignatius Respati Teguh Budiono
Penanggung Jawab Komunitas Sant’ Egidio Wilayah Indonesia dan Filipina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *