Tim Laskar Kristus, nama itu dilontarkan Koordinator Seksi Kepemudaan Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut, Kepulauan Mentawai, Sudiro Simamora, S.Ag. (34) saat penutupan acara Pembinaan Orang Muda Katolik Wilayah Sarereiket dan Sila’Oinan, di Stasi Madobag (14/5) silam. Saat itu, di depan 200-an OMK dari 7 stasi di wilayah tersebut, ia mencuatkan istilah ‘Laskar Kristus’.

Saat terpisah dihubungi GEMA, ayah tiga anak ini mengatakan, “Ungkapan bahasa tersebut saya munculkan, karena memang pada dasarnya, saya dan umat Katolik adalah ‘pasukan Kristus’, yang tidak mengenal rintangan hujan, panas terik, hutan, gunung, sungai, laut, rawa. Kalaupun ada kelompok kecil yang dinamai Tim Laskar Kristus (TLK), berarti dalam pelayanannya, anggota tim bersiap kokoh.”

Lelaki kelahiran Pakkat (Sumatera Utara) 12 Juni 1987 ini mengakui TLK terbentuk sebagai tanggapan atas banyak terjadinya kejadian ‘pihak lain’ merekrut umat Katolik di pelosok pindah agama/keyakinan. “Saya berharap, ‘pihak tetangga’ tersebut tidak sembarangan dan asal rekrut umat Katolik di pelosok Paroki Siberut. Maka, perlu upaya pemantapan aspek kepemudaan paroki, sebagai ujung tombak perkembangan gereja di masa mendatang. Kaum muda adalah ‘pasukan tempur iman’ di waktu mendatang,” suami Franciska Yeni N. Simarmata ini berujar.

Alumni Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura, Deliserdang (Sumatera Utara) tahun 2009 ini mengisahkan sekilas pencetus terbentuknya TLK. Tatkala mulai terlibat sebagai Seksi Kepemudaan Paroki (2016), dirinya melihat banyak tantangan di dalam maupun luar lingkungan gereja. “Kalau kita menyerah, berarti belum merdeka. Maka, kami selalu berjuang agar tidak dijajah; sehingga muncul istilah laskar. Sebab, dalam dunia kepemudaan, bukan hanya memiliki ilmu teologi, namun diperkaya berbagai macam kemampuan dalam pembinaan. Yang utama, semangat tim yang kuat bagaikan laskar (pasukan) Kristus!”

Sebenarnya, Simamora mengungkap istilah TLK telah mantap digunakan sejak tahun 2018, setelah berhasil mengumpulkan sejumlah relawan sebagai anggota tim. Namun, secara resmi disampaikan pada sambutan penutupan pembinaan OMK silam. Simamora mengakui pihaknya belum pernah membahas hal kepada parokus, karena TLK merupakan gerak spontanitas dari kalangan umat yang peduli dengan situasi yang terjadi di lapangan. Tim terdiri dari orang-orang yang mau dan rela berkorban waktu dan tenaga dalam berkarya.

Guru Agama Katolik di salah satu sekolah dasar negeri Muara Siberut, Siberut Selatan ini berujar, “Tidak ada kriteria khusus sebagai relawan TLK. Kini terdapat 14 relawan dari berbagai profesi, misalnya berlatar pendidikan dan kesehatan. TLK menjadi andalan saya selama ini. Bahkan, saya berharap bila memungkinkan di tiap wilayah dan stasi juga terdapat semacam TLK. Saya berharap gerakan relawan semacam TLK ini mendapat sokongan dari paroki dan umat. Kalau ada di antara umat yang mau bergabung, tentu akan semakin memperkuat TLK di waktu mendatang.” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *