Kami berdua (Moerdani Taporuk  dan Bartolomeus Terang Enung Tapondhadhai) utusan awam Paroki Stella Maris-Betaet, Siberut Barat, Mentawai,  sangat kecewa tidak bisa mengikuti  perayaan iman yang besar dan bersejarah ini. Kami  terlambat datang.  Kami tiba di gereja Katedral sekitar jam satu siang, karena terkendala cuaca, kapal yang kami tumpangi terlambat berangkat (delay).  Beruntung parokus kami, Rm. Abel de Deus Maia, Pr. karena mengurus berbagai keperluan dan urusan berangkat menuju Padang terlebih dahulu.

Kami menyiapkan diri agar dapat ikut serta menjadi saksi peristiwa bersejarah Keuskupan Padang ini. Kami mempelajari jadwal kapal yang melayani rute Betaet (Siberut Barat), dermaga Pokai (Siberut Utara), dan dermaga pelabuhan Muara atau Bungus-Kota Padang.  Kami menentukan waktu keberangkatan ke Padang dengan memperhitungkan jadwal kapal dan kondisi cuaca. Kami sepakat berangkat antara 28 September 2021 agar dapat berangkat ke Padang pada 2 Oktober 2021 dengan kapal cepat “Mentawai Fast”.

Sayangnya, rencana tersebut terhalang kondisi alam. Badai dan laut bergelora, sehingga tidak memungkinkan pelayaran di laut; terutama di pantai barat Pulau Siberut. Kami berkoordinasi dengan pemilik speedboat untuk menumpang, pada 5 Oktober 2021 karena masih pas waktunya ‘mengejar’ keberangkatan kapal cepat. Namun, muncul kendala baru, speedboat pun tidak bisa berangkat pada tanggal tersebut.

Urung menumpang kapal cepat “Mentawai Fast”, kami cari alterntif lain. Ada jadwal kapal penyeberangan “Gambolo”, dari Pokai (Sikabaluan) menuju Bungus-Padang pada Rabu (6/10) malam. Kalau semua lancar, masih memungkinkan, karena kapal berangkat jam sembilan malam tiba di Padang diperkirakan pukul tujuh pagi. Masih memungkinkan mengikuti Perayaan Tahbisan Uskup (7/10) yang dimulai pukul sepuluh pagi. Kami selalu berkonsultasi dengan pastor yang telah terlebih dahulu ada di Padang. Kalaupun agak terlambat tiba di lokasi, tidak jadi persoalan. Pastor juga telah mengkonsultasikan kepada panitia tentang pelaksanaan tes antigen sebagai syarat masuk ke lokasi perayaan.

Hanya saja, yang terjadi, karena sejumlah kendala di dermaga Pokai, kapal “Gambolo” terlambat berlayar. Kapal yang seharusnya mulai berlayar pukul sembilan malam, delay  menjadi jam dua dini hari. Terlambat lima jam dari jadwal semula akibat lamanya waktu buruh memuat hasil bumi dan terjadi insiden kecil yang menimpa truk pengangkut barang – tersangkut di gerbang kapal. Malam itu kami berpikir dan mempertimbangkan untuk membatalkan keberangkatan saja.  Akhirnya, kami sepakat tetap berangkat dan berharap bisa ikut serta dalam perayaan tahbisan uskup. Malam itu, kami benar-benar tidak bisa menikmati pelayaran. Kami tiba di Pelabuhan Bungus-Padang tengah hari (7/10), pukul dua belas siang.  Kami tiba di kompleks gereja Katedral Padang pukul satu siang. Perayaan tahbisan telah berakhir. Yang tampak hanya sejumlah umat saja. Suatu hal yang sungguh mengecewakan, namun kami tidak mau menyalahkan siapa-siapa.

Dari pengalaman ini, saya berharap Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX mengobati kekecewaan kami,  dan agar memberikan perhatian kepada Paroki Betaet yang baru berumur tiga tahun. Dilihat dari segi fasilitas pendukung operasional paroki – baik untuk pelayanan bagi umat maupun pengurusan ke luar paroki – masih sangat minim. Di paroki kami, juga kekurangan sumber daya manusia, militansi umat, sarana dan prasarana penunjang pastoral. Dari 15 stasi di paroki kami, selain pusat paroki, lebih dari setengahnya bangunan gereja sudah lapuk. Untuk membangun gereja baru bukanlah hal mudah bagi umat, karena keterbatasan kemampuan ekonomi untuk berswadaya. Karena kurangnya militansi dan semangat,  umat cenderung menunjukkan sifat acuh-tak acuh terhadap pelayanan imam dan Gereja. Sebagai informasi, 99 persen umat Katolik Paroki Betaet berdiam di sebelas stasi yang ada di Wilayah Simatalu (mayoritas Katolik). Sementara di Wilayah Simalegi, masyarakatnya heterogan (Katolik, Protestan, dan Islam). Dengan kondisi ini, bagaimana agar umat di stasi Wilayah Simatalu tetap teguh, bertekun, dan bertahan  dengan agama dan iman Katolik. Mereka tidak mudah pindah agama hanya karena bujukan atau rayuan pihak lain.

Untuk mengatasi hal ini,  salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dukungan pada program paroki untuk  memperbanyak kegiatan rohani dan peningkatan fasilitas peribadatan bagi umat stasi. Kami mengharapkan kunjungan pastoral Uskup setidaknya sekali setahun. Dengan kedudukan Paroki Stella Maris-Betaet yang tidak memiliki akses jalan darat saat pengurusan ke luar paroki, maka sudah sepantasnyalah paroki memiliki alat transportasi laut.

 

Moerdani Taporuk
Umat dan tenaga sekretariat Paroki Stella Maris, Betaet,
Siberut Barat, Kepulauan Mentawai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *