Mulanya, pada tahun 2017, Kristina Sakodobat, S.IP (46) hanya menemani Sr. Marselina Nainggolan, KSSY pergi pelayanan ke stasi-stasi pulau dan beberapa stasi daratan di Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai. Dirinya diajak karena terlihat ‘menguasai’ topik Tata Perayaan Sabda (TPS) dan pendampingan misdinar.

Saat kunjungan stasi, kerap muncul pertanyaan umat mengenai TPS. Permintaan Sr. Marselina agar Kris menjadi teman seperjalanan ke stasi disetujui parokus. Anak ketiga 5 bersaudara dari pasangan Petrus Sakodobat (alm) dan Tatat Sakacilak ini punya bekal berbagai pelatihan TPS.  Maka, bila dibutuhkan ketua stasi, Kris dan Sr. Marselina menyediakan diri dalam ‘rute’ pelayanan stasi. “Hingga kini, masih ada dua stasi belum pernah menerapkan TPS. Selain pembekalan TPS, saya juga mendampingi misdinar stasi. Saat latihan, para misdinar terkait dengan TPS. Pelayanan berkeliling stasi, dari pulau ke pulau, hingga pertengahan tahun 2020. Setelah itu tidak ada kunjungan karena pertimbangan situasi Covid-19,” ucapnya.

Pelayanan penyuluh agama Katolik non-PNS pada Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Kementerian Agama Provinsi Riau ini tetap berlanjut meskipun rekan seperjalanan, Sr. Marselina, mendapat penugasan di paroki lain. Melihat situasi di stasi-stasi tersebut, perempuan kelahiran Saliguma, Siberut Tengah, Mentawai 16 Februari 1975 ini merasa terpanggil melayani apalagi melihat sendiri kondisi serba terbatas,  terutama pengetahuan dan pemahaman umat stasi setempat.  Alumna Jurusan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Kelompok Belajar Pekanbaru – Universitas Terbuka ini melakukan pelayanan ke Stasi Kudap, Sungaidua, Rupat, Bengkalis, dan Sungaipakning. Ia pun melayani Stasi Selatpanjang, tempat dirinya berdomisili. Sewaktu masih bersama Sr. Marselina, tim ini melayani umat di Stasi Mampu Jaya, Bukit ketikil, Duri 13, dan Simpang Bangko.

“Kalaupun ada kendala, saya tidak segan bertanya kepada sejumlah pihak yang dipandang lebih paham; misalnya para pastor dan suster maupun Komisi Kateketik Keuskupan Padang. Pelayanan ke stasi terkendala karena kapal tidak berlayar akibat pandemi. Saya beranikan diri bersepeda motor menuju lokasi stasi daratan. Lumayan jauh letaknya. Saya berharap umat stasi memahami hidup sebagai orang Katolik yang setia dalam iman di tengah segala keterbatasan,” ujarnya mengakhiri. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *