Prosesi Perayaan Liturgi Tahbisan Uskup, Kamis pagi (7/10) diawali pembacaan curriculum vitae (CV) uskup terpilih oleh P. Benediktus Manulang, Pr. Selanjutnya, ritus pembuka diawali dengan perarakan para pela­yan, uskup tertahbis didampingi Administrator Diosesan P. Alex I. Suwandi, Pr. dan mantan Provinsisial Serikat Xaverian Indonesia P. Fer­nando Abiz, SX, 17 uskup dan vikaris jenderal dua keuskupan, dua uskup pendamping penah­bis utama, kardinal, dan nunsius – sebagai penahbis utama. Perayaan tahbisan uskup ini diikuti 300-an orang baik para imam, biarawan-biarawati, kaum awam perwakilan paroki, dan undangan dari luar Keuskupan Padang. Peraya­an ini juga diikuti langsung oleh ribuan pasang mata pemirsa lewat siaran langsung (live streaming) YouTube Komisi Komsos Keuskup­an Padang dan pendengar Radio BOOS 104,2 FM.

Sebagai Penahbis Utama Nunsius Apostolik Mgr. Piero Pioppo. Uskup penahbis pendamping Uskup Agung Keuskupan Medan (Mgr. Korne­lius Sipayung, OFMCap.) dan Uskup Pangkal­pinang (Mgr. Adrianus Sunarko, OFM) – yang sekaligus memberikan homili. Dengan penah­bisan ini, sebagaimana disampaikan dalam doa kolekta, Pastor Vitus Rubianto Solichin, SX ambil bagian dalam kolegium para Uskup dan menjadi pemimpin Gereja di Keuskupan Padang, sembari memohon bimbingan Allah dalam segala segala sesuatu agar dalam perkataan dan teladan hidup, uskup baru dapat memimpin umat yang dipercayakan kepada uskup -seturut teladan Yesus Kristus.

Saat liturgi tahbisan uskup, dimohonkan kehadiran Roh Kudus, pendahuluan menuju Doa Pengudusan. Inti ritus ini, saat mana Roh Kudus dicurahkan atas Uskup Terpilih. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengajuan calon dan pembacaan Surat Apostolik (mandate Paus) – yang mengesahkan penahbisan uskup baru dan sebagai tanda kesatuan dengan takhta Petrus dan Gereja Universal. Sekretaris Nunsius memperlihatkan surat yang dimaksud kepada semua yang hadir, kemudian dibacakan. Surat Apostolik diterbitkan di Roma, pada 3 Juli 2021, di tahun kesembilan masa kepausan Paus Fransiskus. Setelah dibaca oleh Sekretaris Nunsius Apostolik, Surat Apostolik selanjutnya diserahkan kepada uskup terpilih.

Pemuka Agama yang Berbela Rasa

Mgr. Sunarko, mengawali homilinya menyatakan bahwa hingga kini, kerap ada informasi tentang orang-orang yang mengaku beragama bahkan menganggap diri saleh, namun dalam perilaku menampilkan wajah agama yang mengkhawatirkan, menakutkan, dan mengancam kehidupan bersama. Yang tidak luput dari hal demikian adalah mereka yang dianggap tokoh dan pemuka agama. Dari tokoh dan pemuka agama sering muncul ujaran-ujaran kebencian yang memprovokasi orang untuk melakukan kekerasan. Menurut Mgr. Sunarko, dalam konteks kehidupan menggereja, Paus Fransiskus dalam berbagai kesempatan, kerap berbicara tentang ‘keduniawian rohani’. Yang dimaksudkan Paus adalah orang-orang yang bersembunyi di balik kesalehan, bahkan kasih. “Yang dicari bukan kemuliaan Allah, melainkan kemuliaan dan kesejahteraan pribadi, seperti orang Farisi yang memusatkan perhatian pada peraturan-peraturan dan ritus-ritus yang rumit. Tokoh atau pemuka agama model seperti ini lebih percaya pada kekuatan diri sendiri dan merasa lebih unggul ketimbang yang lain.” katanya.

Lebih lanjut, Uskup Sunarko menyatakan bahwa mereka yang model itu cenderung menjadi kelompok elit otoritarian. Bukannya membuka pintu kepada rahmat Allah, melainkan menguras energinya untuk mengawasi dan memeriksa orang lain. Pemuka agama model ini menetapkan banyak syarat terhadap belas kasih dan mengosongkannya dari makna yang konkrit, hukum bagaikan batu yang siap dibe­bankan dan dilemparkan kepada umat. Mereka lebih bertindak sebagai pengontrol ketimbang fasilitator rahmat. Bukan mempermudah, malah menjadi penghalang bagi umat yang hendak bertemu dengan Kristus.

Menghadapi demikian, Uskup Sunarko menyatakan umat Katolik Keuskupan Padang tidak perlu gelisah dan khawatir. Mengapa? Karena, pemuka agama yang baru dan ditah­biskan sebagai uskup, Pastor Vitus Rubianto, tidak seperti itu atau tidak ingin seperti itu. Sesuai dengan motonya Misericordia Motus, Mgr. Vitus ingin menjadi pemuka agama yang berbela rasa, tergerak hatinya oleh belas kasihan. Gereja yang mau ditampilkan bukanlah pabean, melainkan rumah Bapa, tempat bagi setiap orang dengan segala permasalahannya.

Gereja, imbuh Mgr. Sunarko sembari mengutip Paus Fransiskus, ibarat rumah sakit di medan perang. Yang bersedia menerima siapa saja yang datang. Gembala Gereja Keuskupan Padang ini ingin menggembalakan domba-dombanya tidak dengan terpaksa, melainkan dengan suka rela, tidak mau mencari keuntungan, melainkan pengabdian diri. Tidak terutama sebagai perintah, melainkan dengan menjadi teladan. Gembala Keuskupan Padang ini ingin meniru Yesus Kristus menjadi gembala yang baik, mengenal domba-dombanya, dan sebaliknya dikenal oleh domba-dombanya. Menjadi gembala yang berbau domba, seba­gai­mana ungkapan Paus Fransiskus. “Kalau di keuskupan saya, ungkapan gembala berbau domba bisa menjadi gembala yang berbau ikan asin – karena tidak ada domba di Pangkal­pi­nang, kalau di Keuskupan Padang “gembala yang berbau rumah makan Padang.” katanya.

Usai homili, berlangsung pengucapan janji uskup terpilih. Pada saat ini, uskup terpilih meng­hadap Penahbis Utama dan menjawab sembilan pertanyaan tentang kesediaan meme­lihara iman dan pelaksanaan tugasnya hingga meninggal dunia. Upacara dilanjutkan Litani Orang Kudus. Liturgi Tahbisan terdiri dari tiga bagian, yaitu: Penumpangan Tangan, Doa Penah­bisan, dan Penumpangan buku Injil (evangeliarium).
Berikutnya penyerahkan insignia episkopal yaitu: Minyak Krisma, buku Injil (Evange­lia­rium), Cincin Uskup, Mitra, Tongkat Kegemba­laan dan Salib Uskup kepada uskup tertahbis.

Saat Pengurapan Minya Krisma, Penahbis Utama mengurapi kepala Uskup Baru sembari berucap, “Semoga Allah yang memberimu ambil bagian dalam Imamat Agung Kristus, mencurahkan rahmat berlimpah dan memenuhi hatimu dengan berkat rohani yang berlimpah ruah.” Selanjutnya, selaku Penahbis Utama, Nunsius Mgr. Piero Pioppo menyerahkan uskup tertahbis sembari berucap, “Terimalah Kitab Injil ini dan wartakanlah Sabda Allah dengan kesabaran, ketekunan, dan kebijaksanaan!” Penahbis Utama juga mengenakan cincin pada jari tangan kanan uskup baru sambal berkata, “Terimalah cincin ini lambang kesetiaan dan kesatuan dengan umat yang dipercayakan kepada Bapa Uskup. Jaga dan peliharalah mempelai Kristus, yaitu Gereja Kudus, dengan utuh dan murni!”
Rangkaian selanjutnya, pada bagian penyerahan mitra, uskup pendamping Penahbis Utama mengenakan pilleolus (zucheto) di kepala uskup baru sebelum pemasangan mitra. Penahbis Utama mengenakan mitra kepada uskup baru sembari berkata, “Terimalah mitra ini, semoga bersinarlah cahaya kesucian dalam dirimu, supaya engkau, sebagai gembala utama, pantas menerima mahkota kemuliaan abadi!”

Akhirnya, diserahkan tongkat kegembalaan sebagai simbol penuntun domba-domba. Penahbis Utama menyerahkan tongkat kegembalaan seraya berkata, “Terimalah tongkat ini, lambang tugas kegembalaan. Gembalakanlah seluruh kawanan dengan tekun dan tegas serta penuh pengertian. Sebab di tengah-tengah mereka, engkau telah dilantik oleh Roh Kudus, serta ditempatkan sebagai Uskup dalam memimpin Gereja Allah di wilayah Keuskupan Padang ini!”
Bagian akhir, pendudukan uskup. Sebelum masuk Liturgi Ekaristi, uskup baru menjadi bagian Kolegial Episkopal. Penahbis Utama, Nunsius mengundang uskup baru mengambil tempat utama yang telah disediakan sembari berkata, “Saudara Vitus, tempatilah Katedra Keuskupan Padang ini dan gembalakanlah umat tercinta ini. Semoga Tuhan senantiasa menyertai engkau!” Uskup baru diantar oleh tiga uskup penahbis ke takhtanya. Uskup baru duduk di atas katedra dan disambut tempuk tangan meriah umat yang hadir pada kesem­patan bersejarah ini.

Pada akhir Liturgi Tahbisan, uskup baru menerima salam dan pelukan damai kepada uskup pertanda kolegialitas episkopal – perpanjangan dari kolegialitas para Rasul. Selanjutnya, berlangsung Liturgi Ekaristi yang dipersembahkan uskup baru, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX beserta sejumlah uskup. Pada bagian akhir, Ritus Penutup, dengan mengenakan mitra dan tongkat kegembalaan, uskup baru berkeliling memberikan berkat.

Sebelum berkat meriah, beberapa tokoh menyampaikan sambutan. Berturut-turut disampaikan oleh Ketua Panitia Tahbisan Uskup (RP. Robledo Sanchez JG, SX), Administrator Diosesan Keuskupan Padang (RD. Alexander Irwan Suwandi), Ketua KWI (Kardinal Ignatius Suharyo dan Uskup Agung Jakarta), Nunsius (Mgr. Piero Pioppo), dan Uskup Padang (Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX).-hrd-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *