Homeschooling menjadi salah satu model pendidikan alternatif. Homeschooling disebut pula dengan home education atau home-based learning. Depdiknas menggunakan istilah “sekolah rumah” atau “sekolah mandiri”. Homeschooling model pendidikan alternatif selain sekolah yang diselenggarakan oleh keluarga, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi dirinya masing-masing. Homeschooling pertama berkembang di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Di Indonesia tahun-tahun belakangan ini baru tren.

Metode homeschooling ada tiga jenis : Pertama, homeschooling tunggal, homeschooling majemuk yang terdiri dari dua keluarga, dan homeschooling komunitas.

  1. Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orangtua dalam keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Orangtua langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya. Jika pun ada guru yang didatangkan secara privat hanya untuk membimbing dan mengarahkan minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru bisa berasal dari lembaga-lembaga khusus menyelengarakan program homeschooling. Lembaga ini mempunyai tim tutorial yang terdiri dari berbagai jenis profesi pendidikan.
  2. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.
  3. Homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan komunitas.

Kegiatan homeschooling perlu dilaporkan ke Dinas Pendidikan setempat agar peserta homeschooling mendapat ijazah resmi dari pemerintah. Untuk ijazah SD adalah Paket A, SMP Paket B, dan SMA Paket C. Sistem ujiannya adalah melalui ujian nasional kesetaraan.

Keunggulan Homeschooling

Metode pembelajaran tematik dan konseptual serta aplikatif menjadi poin keunggulan. Proses belajar mengajar memberi keleluasaan bagi anak, tanpa harus merasa tertekan dengan beban target kurikulum. Setiap anak terjun langsung mempelajari materi, tidak melulu membahas teori. Anak diajak mengevaluasi langsung materi yang dibahas. Bahkan siswa yang memiliki ketertarikan di bidang tertentu, misalnya fisika atau ilmu alam, diberi kesempatan mengadakan observasi dan penelitian sendiri.

Beberapa keunggulan lain homeschooling sebagai pendidikan alternatif, yaitu sistem ini menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, lingkungan sosial dan suasana belajar yang lebih baik, menyediakan waktu belajar yang lebih fleksibel. Juga memberikan kehangatan dan proteksi dalam pembelajaran terutama bagi anak yang sakit atau cacat, menghindari penyakit sosial yang dianggap orangtua dapat terjadi di sekolah seperti tawuran, kenakalan remaja (bullying), narkoba dan pelecehan. Sistem ini juga memberikan keterampilan khusus yang menuntut pembelajaran dalam waktu yang lama seperti pertanian, seni, olahraga, dan sejenisnya, memberikan pembelajaran langsung yang kontekstual, tematik, dan nonscholastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.

Juga memberikan metode pembelajaran yang lebih bebas, anak didik tidak harus bersekolah di sekolah, bebas menggunakan sarana pembelajaran sendiri. Yang terpenting adalah penanaman sikap mental belajar sehingga anak bisa belajar dengan caranya sendiri, belajar dari siapa saja dan tentang apa saja. Jumlah peserta didik yang terbatas membuat tutor bisa langsung fokus pada potensi anak.

Kekurangan homeschooling terutama kurangnya interaksi anak dengan teman sebaya, kurang bersosialisasi yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup. Anak didik bisa terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga kurang siap nantinya menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian. Kekurangan lain adalah tidak ada kompetisi atau bersaing. Selain itu, anak belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orangtua sendiri, apalagi orangtua yang tidak punya pengalaman mengajar. Homeschooling perlu biaya tinggi, dibanding mengikuti sekolah umum. Ibaratnya, orangtua membuat sekolah sendiri di rumahnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *