“Pendidikan bukan cuma urusan memperbanyak isi memori otak atau mencari tahu sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Namun lebih dari itu adalah upaya menghubungkan semua yang sudah diketahui dengan hal-hal yang masih menjadi misteri.”
(Anatole France, 1817-1895 Pemenang Nobel Sastra, Prancis)

 

Sering kita mendengar istilah “Pendidikan Alternatif”. Istilah ini secara dipahami sebagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya bersifat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.

Pemikiran tentang pendidikan alternatif ini bermula dari kritik-kritik Romo Mangun terhadap bentuk pendidikan yang sejak berlakunya kurikulum 1974, berkembang hingga kurikulum 1994. Pendidikan alternatif tidak diartikan sebagai pengganti sekolah formal, melainkan mencari materi dan metode dedaktik baru sampai kurikulum baru.

Menurut Nunuk Murniati, pendidikan seharusnya bersifat kontekstual, harus disesuaikan dengan lingkungan. Pendidikan untuk kaum marjinal pun demikian. Dalam proses ini, konsep link and macth yang digembar-gemborkan oleh pemerintah orde baru dalam pendidikan hanya menghasilkan sekrup-sekrup kapitalis yang dibuat hanya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja dalam mesin industri.

Menurut Jery Mintz (1994, xi) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu: 1) Sekolah publik pilihan (public choice); 2) Sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk); 3) Sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent dan 3) Pendidikan di rumah (homeschooling).

Bentuk pendidikan alternatif tertua yang dikelola masyarakat untuk masyarakat adalah model pesantren yang diperkirakan dimulai pada abad XV. Model pendidikan yang dikembangkan Taman Siswa (1922) juga model pendidikan alternatif. Mohammad Syafei membuka sekolah di Kayutaman, Padangpariaman juga merupakan model pendidikan alternatif. Sekolah dengan semboyan, “Carilah sendiri dan kerjakanlah sendiri” memberikan kesempatan pada siswa untuk berkreasi membuat keterampilan seperti membuat meja dan kursi yang digunakan bagi mereka belajar.

Semangat Alternatif
Kini sekolah-sekolah alternatif semakin tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Hal yang patut dibanggakan karena masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik untuk anak-anaknya. Pendidikan alternatif bisa menjadi bagian yang menarik untuk membangun sumber daya manusia Indonesia di masa depan yang lebih baik.

Sekolah alternatif mampu memberikan dimensi lain dalam dunia pendidikan Indonesia. Sekolah alternatif berani keluar dari pakem-pakem pembelajaran yang begitu-begitu saja. Anak pasif dan guru ceramah seharian. Walaupun semangat ini juga sudah hadir dalam perencanaan pendidikan di kurikulum tetapi kenyataannya jauh panggang dari api. Dulu pernah ada sistem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), tetapi apa yang terjadi, justru menjadi catat buku sampai abis (cbsa).

Sekolah-sekolah yang konvensional masih kesulitan menerapkan hal-hal yang menarik dalam menyampaikan pembelajarannya. Alokasi dana pelatihan sudah dikeluarkan banyak sekali tetapi alih-alih memperbaiki sistem pendidikan yang ada hanya pemborosan anggaran. Guru di kelas akan kembali mengambil jalan teraman, cari di internet, copy paste kemudian sebarkan di kelas. Lebih parah lagi, jual LKS kemudian suruh anak mengerjakan sendiri. Sebuah potret buruk pendidikan yang sudah sangat akut. Di sekolah alternatif, guru mesti berjibaku mencari bentuk-bentuk menarik dalam menghantarkan pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak lewat berbagai macam kegiatan yang variatif. Guru mengolah semua materi berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi inti untuk disampaikan kepada anak didiknya. Pendidikan yang kreatif, pendidikan yang menyenangkan, mendidik kreatif adalah semangat yang harus muncul dalam setiap diri pendidik di seluruh Indonesia. Semoga saja semakin banyak sekolah-sekolah alternatif yang mampu memberikan kontribusi positif dalam membangun manusia Indonesia yang merdeka, mandiri, kreatif, dan berdaya! (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *