Salam belas kasih,

Sau­­dari dan saudara yang budiman, umat sekeuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan. Kesan dan pesan dari pesta penahbisan uskup pada tanggal 7 Oktober lalu masih terasa gemanya. Satu hal yang saya kira menarik untuk dibagirasakan adalah pengalaman mempersiapkan logo dan motto Uskup. Memilih dan menen­tukan gambar dan simbol yang akan menjadi logo uskup itu ternyata merupakan satu proses yang kreatif.

Lambang Pribadi yang Misioner

Dari sumber terpercaya di mana saya belajar detil-detil di sekitar penahbisan uskup, mulai dari tata cara liturgi, busana uskup, sampai lambang dan deskripsinya, nampak bahwa banyak hal menarik yang terus terang semula tidak pernah saya perhatikan. Misalnya, logo uskup itu adalah lambang pribadi Uskup! Dulu saya selalu berpikir bahwa itu logo itu sama saja dengan lambang keuskupan yang mau menampilkan kekhasan lokal dan kontekstualnya. Tetapi ternyata lambang itu pertama-tama terkait pada pribadi uskupnya.

Mgr. Piero Pioppo, Duta Besar Vatikan, yang mottonya berbunyi “Seperti pohon yang ditanam di tepi air” (Yer.17:8), memakai lambang pohon karena namanya menunjuk pada sejenis pohon besar di daerah Italia Utara yang tingginya bisa sampai 30 meter. Mgr. Guido Fili­pazzi, mantan Dubes Vatikan yang sekarang bertugas di Nigeria, mema­kai lambang kuda karena nama keluarganya berarti penggemar kuda.

Dalam logo Uskup Padang, saya memilih buku dengan huruf alfa dan omega yang melambangkan Kitab Suci sesuai dengan minat pribadi dan passion saya selama ini sebagai dosen Kitab Suci. Namun, ada juga lambang kepiting karena saya berasal dari keluarga misionaris Xaverian. Lam­bang itu mau meng­ingatkan orang pada kisah terkenal tentang seekor kepiting yang mem­bawa pulang kembali salib Santo Fransiskus Xaverius sesudah kapal­nya terkena badai dan terdampar di Ambon. Pesta Santo Pelindung Misi yang pernah sampai ke Indonesia ini kita rayakan pada 3 Desember.

Akan tetapi, aspek misioner dalam lambang yang saya pilih juga ditunjukkan dengan gambar perahu yang ada di bawah gambar burung pelikan. Gambar kapal dalam tradisi Gereja selalu melambangkan perutusan. Boleh dikatakan, apabila dalam Perjanjian Lama “gunung” merupakan tempat utama yang menunjuk relasi antara Allah dan umat-Nya, dalam Perjanjian Baru, “laut”lah yang terutama menjadi ajang perluasan karya keselamatan Allah “sampai ke ujung bumi” (Kis.1:8). Bila “tongkat gembala” menjadi satu lambang kepemimpinan yang menyatukan umat Allah dalam Perjanjian Lama, “perahu nelayan” dalam Perjanjian Baru menjadi sarana perjumpaan yang menyatukan umat Kristen Perdana dari Asia Kecil sampai ke Eropa. “Perahu” di atas “ombak” lautan atau samudera yang seolah-olah mau menyatukan pulau yang satu dengan yang lain, kiranya menampilkan satu gambaran perutusan yang jelas, untuk menjumpai sebanyak mungkin orang, juga di pulau-pulau yang jauh di Keuskupan Padang ini.

Perahu Mentawai

Mengapa memilih “perahu” dan bukan lambang “kapal” layar yang lebih lazim dipakai? Pengalaman misioner langsung yang pertama kali boleh saya alami di Keuskupan Padang ini adalah tugas pastoral sebagai frater di Muara Siberut pada tahun 1993-1994. Orang dapat mengatakan bahwa pengalaman selama satu tahun saja masih relatif terlalu singkat untuk dapat mengerti segala permasalahan umat yang kompleks di sana, sekalipun dengan perjuangan untuk mempelajari bahasa dan budaya setempat, mengikuti kaderisasi kaum muda dan bahkan ikut serta dalam Rapat Wilayah. Masih tetap belum bisa dikatakan cukup pula, dengan 6 bulan masa diakonat yang saya jalankan kemudian di paroki Sikabaluan pada tahun 1997. Akan tetapi, semua itu tetap merupakan satu pengalaman misioner yang membekas dan sulit hilang dalam kenangan saya. Pengalaman itu menorehkan sesuatu dalam diri saya, satu kerja keras yang tampaknya mustahil pada awalnya karena selalu harus mulai dari nol, dari satu ketidaktahuan sama sekali.

Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman pertama kali belajar naik sampan Mentawai, yang sempat saya alami di desa Saliguma, jauh sebelumnya lagi, pada tahun 1989. Sesudah saya menyelesaikan tahun novisiat, sebagai frater neo-profesan bersama kedelapan rekan frater Xave­rian yang lain, kami boleh berkunjung ke daerah-daerah di mana para misio­naris Xaverian berkarya di Sumatera Barat dan Pekanbaru. Dalam kesem­patan beberapa hari berkunjung ke paroki Siberut itulah kami sampai di Saliguma. Itulah pertama kalinya saya belajar merasakan sulitnya naik abak atau perahu Mentawai yang unik itu karena dibuat dari satu pohon utuh yang dilubangi pada bagian tengahnya di dalam, bukan dirakit dari belahan-belahan kayu yang direkatkan seperti perahu pada umumnya. Bayangkan saja, ketika sampan terbalik dan saya jatuh ke dalam air, naik kembali ke atas sampan yang bulat dan licin tanpa pegangan dari posisi di dalam air, tanpa menginjak dasar sungai, itu satu usaha yang hampir sia-sia. Sulit sekali menjaga keseimbangan perahunya di atas permukaan air. Hanya dengan kesabaran dan keyakinan saja… itu kuncinya untuk lanjut ke tahap berikutnya, mendayung dengan cara tertentu, agar sampan bisa maju dan tidak berputar-putar di tempat.

Pengalaman itu membekas dalam kenangan saya seperti orang yang belajar berenang, atau belajar naik sepeda, begitu seseorang mampu menguasai ketrampilannya, tidak akan lupa lagi. Empat tahun kemudian sesudah kunjungan pertama itu, saya ditugaskan untuk tahun pastoral misioner ke paroki Santa Maria Diangkat ke Surga, di Muara Siberut. Saya mendapat hadiah satu dayung (laki-laki) yang biasa saya gantung di atas kamar mandi. Meminjam sampan anak asrama, saya bangga pernah melewati “Terusan Monaci” sampai ke desa Tiop, mendayung sendirian. Ketika tiba di kampung, seorang baja gereja bertanya: “Kapan sampai di sini Frater, karena kami tidak mendengar suara mesin boat.” Memang, saya tidak naik boat, jawab saya waktu itu.

Barangkali memang itulah seninya… Kabar Gembira Injil memang tidak datang dengan suara dentuman meriam “kapal kolonial”, atau dengan suara pesawat helikopter atau “burung besi” yang memekakkan telinga, tetapi melalui sampan dan kereta pedati, perlahan tapi pasti. Siapa yang mengira kalau warta Paskah Kebangkitan Tuhan diwartakan pertama kalinya oleh rasul wanita, seperti Maria Magdalena, bukan dengan “terompet tahun baru”, tetapi dengan bisikan dan air mata. Saya yakin, setiap perutusan sejati harus belajar dengan rendah hati untuk masuk dalam misteri-Nya, karena bukan kekuatan manusiawi yang menentukan hasilnya, melainkan rahmat ilahi sendiri.

Abak dan Lulak

Saya mau berterima kasih secara khusus, kepada seorang sahabat dari Mentawai, saya lupa namanya, bekas anak asrama yang pernah meng­hadiahkan kepada saya sebuah miniatur sampan dari kayu kakkadut pada waktu misa perdana saya di Muara Siberut pada bulan Juli 1997, dua puluh empat tahun yang lalu. Boleh percaya atau tidak. Saya bawa ke mana pun saya pergi “mainan perahu” itu, menemani saya dua kali dari Jakarta ke Roma, lalu kembali lagi ke Jakarta, sampai sekarang saya akhirnya pulang lagi ke Padang. Kini, perahu itu masih menghiasi meja kerja saya, mengingatkan saya terus menerus akan nilai satu perjuangan dalam perutusan, satu pengorbanan misioner yang dilambangkan juga dalam logo Uskup itu dengan pemberian diri induk burung pelikan yang memberi makan anak-anaknya dengan darahnya sendiri di atas sebuah sampan Mentawai.

Burung pelikan yang mematuki dirinya sendiri demi anak-anaknya itu lambang Kristus yang memberikan diri bagi kita di atas altar. Umat yang akrab dengan perlambangan ini akan dapat memahami bahwa bentuk sampan itu mirip dengan lulak atau tempat untuk perjamuan makan bersama. Perayaan Ekaristi sebagai perjamuan bersama sejatinya berangkat dari pengorbanan diri Kristus yang berbuah dalam perutusan Gereja. Kita memohon rahmat dari Allah agar kita menjadi semakin mampu menghayati spiritualitas yang ekaristis dan misioner ini, yang memampukan kita keluar dari kenyamanan sendiri untuk dapat memberikan diri dengan penuh syukur dan sukacita karena kita telah diselamatkan oleh pemberian diri Yesus Kristus Tuhan kita secara cuma-cuma. ***

 

+Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *