“Bagi Sebuah Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi”

 

Para Ibu dan Bapak, saudari dan saudara yang budiman,
Para Pastor, Suster, Bruder, Frater, kaum muda, remaja dan anak-anak, seluruh umat Keuskupan Padang yang terkasih dalam Kristus.

  1. Bapa Suci, Paus Fransiskus, pada hari Minggu yang lalu tanggal 10 Oktober 2021 telah membuka Sinode Para Uskup di Roma yang akan berlangsung sampai bulan Oktober 2023. Tahapan dan proses Sinode Gereja Universal ini berangkat dari bawah, mulai dari hasil refleksi Gereja Lokal di semua keuskupan yang akan dirangkum di tingkat nasional dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), kemudian dilanjutkan pada tingkat regional/kontinental dalam Federasi Para Uskup se-Asia (FABC), sampai puncaknya pada Sidang Para Uskup di Roma.
  2. Dengan sapaan kegembalaan ini saya mengajak seluruh umat Keuskupan Padang untuk ikut bersinode (dari bahasa yunani, syn: bersama + hodos: jalan), untuk ikut berjalan bersama Yesus Kristus Tuhan kita di dunia yang serba baru pasca pandemi Covid-19. Kita hendak merasakan keprihatinan Gereja sedunia (sentire cum ecclesia) bersama dengan Bapa Suci yang mengundang kita untuk aktif bersatu, berpartisipasi, dan bermisi dalam menghadapi tantangan baru dalam pewartaan Kerajaan Allah bagi dunia yang sedang bangkit dari keterpurukan karena situasi pandemik ini.
  3. Waktunya relatif singkat dan terbatas untuk dapat merangkum sumbangan refleksi umat Keuskupan kita sampai pada bulan Februari 2022. Akan tetapi, kita tidak akan mulai sama sekali dari nol. Tema-tema yang diangkat oleh Sinode ini tidak asing bagi kita yang telah mempersiapkan rumusan hasil refleksi umat untuk Musyawarah Pastoral Keuskupan Padang yang tidak jadi dilaksanakan pada 18-22 November 2019 karena kepergian Bapa Uskup yang tercinta, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, mendahului kita ke rumah Bapa. Kita menyadari bahwa bagaimanapun tugas kita masih belum selesai. Kita masih perlu terus berdoa bersama, menimbang, merefleksikan, dan menindaklanjuti apa yang sudah dirumuskan sebagai hasil Musyawarah Pastoral itu dalam konteks yang serba baru karena situasi pandemik yang telah mengubah cara hidup umat, baik dalam menggereja maupun dalam bermasyarakat.
  4. Hasil survey yang sudah dirangkum oleh Badan Pekerja Muspas menunjukkan bahwa optimalisasi pelaksanaan dalam bidang pewartaan baru mencapai 48,9 %, dalam bidang liturgi 52,6 %, bidang pelayanan 52,4 %, bidang kesaksian 64,6 %, dan bidang persekutuan 51,6 %. Kesadaran ini saja sudah dapat membuat kita berpikir dan mulai menimbang upaya-upaya untuk menjadi lebih baik lagi, terutama dalam kenyataan baru pasca pandemik Covid yang sempat menghentikan perayaan-perayaan liturgis bersama dan semua aktivitas yang terkait dengan pewartaan dan pengajaran, karena protokol kesehatan yang ketat diberlakukan untuk menekan penularan penyakit. Para lansia dan anak-anak yang dipandang rentan terhadap penyakit sempat dibatasi kehadirannya di Gereja. Tentu tidak mudah, untuk membayangkan bangkit kembali dalam keaktifan hidup menggereja seperti sedia kala. Akan tetapi kita tidak mau tinggal berdiam diri saja, dalam situasi new normal ini, kita mau tetap berjalan bersama dalam komitmen untuk tetap menjadi selalu baru, makin mandiri dan berbuah.
  5. Saudari dan saudara yang terkasih, dalam semangat kebersamaan dengan seluruh Gereja Lokal yang menyambut baik ajakan Bapa Suci Paus Fransiskus, kita membuka Sinode Lokal Keuskupan Padang. Bacaan Injil pada hari-hari Minggu ini dapat membantu kita untuk mempersiapkan hati dan menjawab pertanyaan utama yang diusulkan dalam Dokumen Persiapan Sinode: Bagaimana aspek sinodalitas atau “berjalan bersama” kita dapat diwujudkan dalam Gereja saat ini? Bagaimana “perjalanan bersama” yang sedang terjadi di pelbagai tingkatan yang berbeda-beda itu memungkinkan Gereja mewartakan Injil sesuai dengan misi yang dipercayakan kepadanya? Langkah-langkah apa yang diminta oleh Roh Kudus untuk kita tempuh agar berkembang sebagai Gereja sinodal (yang berjalan bersama)?
  6. Bacaan dari Injil Markus 10:35-45 (rumusan panjang) yang dibacakan pada Hari Minggu Biasa ke-29 dan dari Injil Markus 10:46-52 pada Hari Minggu Biasa ke-30 sejatinya harus dipahami dalam kaitan satu sama lain. Barangkali jarang kita membaca dan merenungkannya secara bersama-sama dengan alasan terlalu panjang atau karena tidak melihat kaitannya secara langsung. Yesus sedang dalam perjalanan bersama murid-murid-Nya menuju ke Yerikho, untuk sampai ke Yerusalem, kepada saat yang paling menentukan dalam hidup dan tugas perutusan-Nya. Dalam peziarahan di dunia modern ini pula, Gereja, mereka yang mengaku sebagai murid-murid Tuhan, mau berjalan bersama Yesus yang siap memberikan diri, “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk.10:45). Benarkah demikian? Kita sadar bahwa kadangkala kenyataan tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita.
  7. Harapan dan kerinduan Yakobus dan Yohanes yang sudah lama mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya, rupa-rupanya membutuhkan pemurnian. Kedua anak Zebedeus ini berani mengajukan permintaan yang mungkin hanya dipikirkan oleh “orang-orang dekat pejabat”: “Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan-Mu dan seorang lagi di sebelah kiri-Mu” (Mrk. 10:37). Anehnya, Yesus tidak memarahi mereka. Yesus memurnikan cita-cita kedua murid yang mungkin terlalu duniawi itu dengan mengingatkan mereka akan partisipasi dalam cawan penderitaan dan baptisan yang harus diterima Yesus (bdk. Mrk.10:38-39). Memang benar, kedua murid ini yang dikenal dengan nama “Boanerges yang berarti anak-anak guruh” (Mrk. 3:17) menjawab dengan cara yang berani mati. Akan tetapi, mereka lupa bahwa nanti yang akan “duduk di sebelah kanan dan sebelah kiri” pada akhir hidup Yesus adalah kedua orang penyamun (bdk. Mrk.15:27).
  8. Saudari dan saudara yang terkasih dalam Kristus, ambisi dan kompetisi ternyata bukannya tidak ada di dalam tubuh Gereja yang bertekad untuk berjalan bersama Yesus. Para murid yang lain ternyata sama saja dengan kedua anak Zebedeus yang berambisi di hadapan bayangan tahta kemuliaan. Mereka marah kepada kedua murid yang lancang dengan permintaan itu, tetapi sebenarnya mereka juga sama-sama sulit memahami kata-kata Yesus: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk.10:43).
  9. Persekutuan dan partisipasi dalam perendahan diri Anak Manusia, agar dapat ikut serta dalam perutusan-Nya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang itu, bukan sesuatu yang otomatis langsung dipahami ketika orang dibaptis. Komitmen untuk mengikuti Yesus diperbarui dan diperjuangkan setiap hari dengan doa dan pertobatan, dengan pemurnian dan penyangkalan diri terus menerus. Kita tidak diselamatkan sendirian, tetapi bersama-sama dengan yang lain, untuk merangkul sebanyak mungkin orang yang lain.
  10. Mereka yang merasa “sudah” dan puas diri, cenderung mau “duduk” dan “dilayani” seperti kedua anak Zebedeus. Tetapi pelayan dan hamba itu tidak duduk-duduk saja, melainkan berdiri dan berjalan mengikuti Yesus, seperti si buta Bartimeus (lihat Mrk.10:46-52). Pertanyaan yang ditujukan Yesus pada Yakobus dan Yohanes itu sesungguhnya sama dengan pertanyaan Yesus kepada Bartimeus: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu” (Mrk.10:36, bdk. Mrk.10:51). Namun, jika kedua murid yang sudah lama “berjalan bersama” Yesus itu justru minta “duduk”, si buta yang tadinya hanya bisa “duduk” minta-minta itu ternyata malah mohon supaya dapat “melihat” karena ia mau berjalan mengikuti Yesus. Para murid yang penuh dengan ambisi itu ternyata masih harus belajar untuk mendengarkan jeritan orang buta yang semula mau mereka diamkan (lihat Mrk.10:48). Mereka yang merasa diri dapat melihat jalan justru harus belajar juga dari orang yang dianggap buta dan disingkirkan. Sekali lagi, Injil menunjukkan bahwa orang miskinlah pintunya, merekalah yang membawa kita kepada Kerajaan Allah. Persekutuan kita dengan Yesus untuk dapat berpartisipasi dalam misi-Nya dalam sinodalitas ini harus selalu mulai dari bawah, dengan mendengarkan suara mereka yang mungkin tidak pernah didengar, orang-orang yang miskin dan yang tinggal di tempat yang terpencil. Itulah sebabnya tujuan dari tahap pertama perjalanan sinodal ini adalah untuk menggerakkan sebuah proses konsultasi yang luas, untuk mengumpulkan kekayaan pengalaman “berjalan bersama” yang dihidupi dalam berbagai ekspresi dan aspek yang melibatkan para gembala dan umat beriman Gereja di semua tingkatan yang berbeda, melalui sarana-sarana yang paling memadai seturut kenyataan masing-masing.
  11. Akhirnya, bersama-sama dengan para imam, diakon, dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, adik-adik kaum muda, remaja, dan anak-anak yang dengan beraneka cara terlibat dalam kehidupan menggereja dan perutusannya di tengah masyarakat. Marilah kita menyambut undangan untuk “berjalan bersama” dengan Gereja di seluruh dunia ini dengan bekerja giat menyukseskan proses sinodal yang hari ini kita buka pada tingkat lokal, dari komunitas-komunitas basis dan paroki-paroki di Keuskupan Padang ini. Tuhan Yesus Kristus, Sang Gembala Utama, yang senantiasa memimpin Gereja-Nya akan membimbing kita sampai pada puncak kepenuhan peziarahan bersama kita, “supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor.15:28).

 


+Mrg. Vitus Rubianto Solichin, SX.
Uskup Keuskupan Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *