HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
(9 Januari 2022)
Yes 60:1-6; Mzm 72:1-2.7-8.10-11.12-13; R:11;
Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

 

Ketakutan yang bersumber pada kurangnya kehendak untuk mengenal dan memahami sumber ketakutan itu. Manusia takut kehilangan pijakan karena kehadirannya tersaingi oleh identitas baru. Hal inilah yang dapat kita saksikan pada diri Herodes, sebaliknya terjadi pada ketiga Raja dari Timur. Bacaan Injil menceritakan kepada kita tentang penampakan Tuhan ini dinyatakan sebagai “terang yang telah datang dan kemuliaan Tuhan yang telah terbit”. Berkat kehadiran-Nya, hidup dan masa depan manusia yang diliputi kegelapan karena dosa dan maut, menjadi terang dan penuh pengharapan.

Kita diterangi untuk memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal. Terang Kristus dan penyelamatan yang dikerjakan-Nya ini berlaku untuk seluruh dunia sebagaimana ditegaskan pula oleh St. Paulus dalam bacaan kedua bahwa, “Orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris, menjadi anggota-anggota tubuh serta peserta dalam janji yang diberikan dalam Yesus Kristus” (Ef 3:6). Untuk mengalami terang Tuhan yang membawa keselamatan dan kehidupan, diajak menghayati sikap iman seperti orang-orang “Majus”.

Para Majus dapat berjumpa dengan Yesus karena ada petunjuk yang mengarahkan mereka, yaitu bintang. “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia,” katanya. Di situ dikatakan “bintang-Nya” yang berarti bintang Tuhan. Tuhan sendirilah yang memberikan petunjuk kepada mereka untuk mencari dan menemukan Dia. Kepada kita masing-masing, Tuhan juga selalu memberikan “bintang-Nya”, yaitu petunjuk untuk mencari dan menemukan Tuhan. Namun, seperti yang dialami para Majus tersebut, “bintang” Tuhan itu tidak selalu jelas dan tampak. Maka, kita harus berusaha untuk peka menangkap bimbingan Tuhan: ke arah mana Tuhan membimbing untuk melakukan sesuatu, kemudian melanjutkan perjalanan lagi sesuai dengan bimbingan Tuhan. Kita diajak untuk mengasah kepekaan agar mampu melihat “bintang” yang berhenti di atas keluarga, di atas lingkungan/masyarakat, Gereja, tempat kerja, dan lain sebagainya sehingga di tempat-tempat itu dapat menemukan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya.

Setelah berjumpa dengan Yesus, para Majus sujud menyembah Dia, mempersembahkan persembahan. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Kita pun diajak dengan tekun dan setia datang kepada Tuhan bersujud menyembah dan menghunjukkan persembahan kepada-Nya. Dalam hal ini, Perayaan Ekaristi harus mendapatkan tempat utama dalam hidup. Sebab, di situlah Yesus sendiri hadir dan sujud menyembah serta menghunjukkan persembahan kepada-Nya berupa kolekte dan bahan persembahan lainnya. Secara simbolis, hal ini menegaskan bahwa mereka yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya, tidak akan lagi hanya menapaki jalan hidup yang sama. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu memperbarui dan mengubah. Namun, kehidupan sehari-hari itu harus kita jalani secara lain dan baru, sesuai dengan roh, semangat, dan ispirasi yang didapatkan melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam Ekaristi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.