LUSIA JUWITA, SM (24) tidak menyangka memenangkan lomba pemilihan Siokko Mentawai. Berkat prestasinya ini, gadis kelahiran Puro-Siberut Selatan, Kep. Mentawai, 10 September 1997 ini mewakili daerahnya dalam ajang pemilihan ‘Duta Wisata Uda Uni Sumatera Barat Tahun 2021’ selama empat hari di Padang. “Saya sempat putus asa dan tidak pede (percaya diri) mengikuti ajang ini. Tetapi berkat dukungan banyak pihak, saya membera­nikan diri,” katanya.

Di tengah kegelisahannya, anak kedua 4 bersaudara pasangan Mariyo K. dan Ati Sama­ngilailai ini mengaku berserah kepada Tuhan dalam doa. Lusia selalu menyempatkan berdoa Rosario dan minta pertolongan Bunda Maria agar dikuatkan, dituntun, dan dibimbing dalam perjalanan ini. Ia merasa tidak mampu kalau hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

Pada ajang ini, Lusia sebagai Siokko Menta­wai mendapat penghargaan pada kategori “Uni Social Media 2021”. Temannya, Silainge Menta­wai, mendapatkan selempang “Uda Duta Wisata Sumbar 2021”. Lusia mengisahkan masa karan­tina yang dialami sebelum puncak ajang itu (5/11) tidak bisa bertemu teman, kerabat, terma­suk keluarga. Semua peserta mesti mengikuti proses dan prosedur yang ditetapkan panitia. Saat mulai menjalani karantina Lusia dan pasangan saya dari Mentawai merasa minder, terlebih dirinya sebagai perempuan. Dari 34 finalis perempuan, Lusia satu-satunya yang tidak mengenakan jilbab. “Kami sempat berpikir tidak akan dipedulikan. Ada pihak yang mempertanya­kan saya tidak mengenakan jilbab. Saya katakan saya non Muslim, beragama Katolik. Karena pertanyaan itu, saya memberanikan bertanya kepada sesama finalis, maukah berteman dengan saya beragama Katolik. Mereka menyatakan hal tersebut tidak jadi masalah. Sejak itu rasa pede saya tumbuh,” tambah Lusia.

Selama masa karantina dan empat hari berlaga, alumna Strata Satu (S1) Manajemen Universitas Kristen Immanuel, Yogyakarta (2020) ini mengaku mendapatkan banyak pelajaran terutama tentang disiplin waktu, sikap mandiri dan kerapian, tampil anggun – karen biasanya ia terkesan tomboi. Untuk mengikuti lomba ini Lusia mengaku utusan Kabupaten Kepulauan Mentawailah kurang matang persiapannya. Lusia dan temannya – sebagai Siokko dan Silainge Mentawai – hanya belajar satu hari sebelum berangkat ke Padang. Kurangnya persiapan ini karena selama tiga tahun terakhir, karena ketiadaan anggaran Dinas Pariwisata tidak mengadakan iven pemilihan Silainge Siokko Mentawai. Di tingkat provinsi pun sebenarnya, tahun ini pun (2021), Kabupaten Mentawai tidak ikut serta. Namun berkat dukungan dari istri Gubernur Sumatera Barat, istri Bupati Kepulauan Mentawai, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai akhirnya ada utusan Silainge Siokko Mentawai pada ajang pemilihan “Duta Wisata Uda Uni Sumatera Barat Tahun 2021”.

Atas prestasi yang diraihnya, penggemar aktivitas menari, bernyanyi, dan menonton ini tidak memungkiri adanya pro-kontra dari para netizen di dunia maya. Lusia nyaris putus asa karena banyak pihak menyatakan tidak setuju, bahkan melontarkan kata-kata tidak baik di media sosial. Dengan slogan diri ‘Jangan Berhenti Berharap‘ (Never Lose Hope), Lusia memohon kepada Tuhan tidak terpengaruh dengan dunia luar. Ia malah, semakin bersemangat dan termotivasi untuk fokus mengikuti ajang ini. Buah dari perjuangannya, perwakilan Mentawai masuk sepuluh besar dan mendapat satu penghargaan pada ajang ini. “Tatkala nama Mentawai dipanggil untuk maju, saya meneteskan air mata dan berdoa dalam hati: Terima kasih, Tuhan Yesus! Engkau sungguh baik! Tuhan selalu menyertai dan selalu ada di setiap langkah.” katanya.

Kedekatan hidup rohani Lusia telah dilakoni­nya selama kuliah di Yogyakarta. Ia aktif meng­ikuti paduan suara bersama Orang Muda Katolik (OMK) yang dibentuk di kampus, mengikuti live-in OMK di Biara Santa Clara-Mrican, Yogyakarta. Sebelum kuliah pun, Lusia juga aktif di koor OMK Muara Siberut dan aneka kegiatan doa bersama. Di bidang sosial kemasyarakatan, Lusia pernah sebagai staf lapangan orientasi Cabang Sipora-Mentawai pada Yayasan Sheep Indonesia (YSI) yang mendampingi lima desa (Matobe, Saureinu, Nemnemleleu, Bosua dan Beriulou). Yayasan ini concern mengusung program kemandirian sistim pangan lokal. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *