Sedari kelas III sekolah dasar (SD), saya diajari oleh guru untuk menuliskan cita-cita di tahun depan. Pada tahun-tahun pertama, catatan itu hilang. Karena kurang saya perhatikan bahkan diabaikan. Contohnya, ketika kelas IV diminta menu­liskan kembali, saya pun kewalahan untuk mengingatnya.

Karena tidak terdokumentasikan dengan baik, mau tidak mau, ketika akan menuliskan ulang, saya kesulitan mengingat dan mesti berpikir keras untuk ‘mengecek’ dalam pikiran tentang cita-cita itu. Akhirnya, jadi kebiasaan.
Selanjutnya, setiap malam tahun baru, saya mulai membiasakan untuk menuliskan cita-cita, harapan diiringi doa dan ucapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang akan ditinggalkan. Saya menulis­kan agar Tuhan selalu menyertai jalan saya di tahun depan, target dan harapan tercapai. Kalaupun belum tercapai, semoga Tuhan selalu memberi pelajaran hidup pada saya.

Setelah menjalani jenjang pendidikan lebih tinggi, saya baru tahu dan menyadari, itulah yang disebut upaya resolusi diri sendiri. Hal itu dapat dilakukan secara individual (perorangan), kelompok secara kolektif dalam berbagai hal termasuk dalam kehidupan kerohanian/keagamaan. Dalam dunia pekerjaan/bisnis, Resolusi Diri Sendiri biasanya berlangsung dalam bentuk Analisis SWOT (Analisa Kekuatan-Kelemahan-Kesempatan-Ancaman (SWOT).

Dalam resolusi diri sendiri, ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan. Pertama, berisi target-target tahun mendatang. Sebagai contoh, tahun 2021, seseorang berhasil masuk peringkat saat naik kelas. Apa penyebabnya? Ternyata, saat orang itu kesulitan memahami pelajaran segera bertanya pada gurunya. Keberanian bertanya inilah yang membuatnya mendapatkan jawaban atas kesulitannya. Contoh lain, seorang pekerja mendapatkan kenaikan gaji tahun ini. Penyebabnya, karena kinerjanya baik sehingga pimpinannya memberikan reward (penghargaan) atas pencapaian itu.

Kedua, instrospeksi diri. Dengan resolusi diri seseorang bisa meneliti apa kegagalan sepanjang setahun terakhir. Buatlah catatan hal-hal yang sudah dan tidak (belum) tercapai. Mengapa tercapai? Mengapa tidak tercapai? Dalam resolusi ini, setiap bisa menilik ke waktu belakang/silam, khususnya pada awal – pertengahan – akhir tahun silam. Hal ini menjadi pijakan untuk ‘meneliti’ diri: potensi/kekuatan yang dimiliki sehingga target tercapai.

Sebagai contoh, seseorang gagal memiliki sesuatu yang telah direncanakan. Penyebabnya ternyata karena tanpa sadar melakukan pengeluaran yang tidak perlu, belanja di marketplace, mendadak belanja online, dan sejenisnya. Untuk resolusi diri sendiri di tahun mendatang, perlu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang di luar dari perencanaan, meski penting namun bisa ditunda.

Setelah ‘evaluasi’ kesuksesan dan kegagalan, selanjutnya – langkah Resolusi Diri Sendiri – berbekal kelebihan dan kelemahan, menyusun target yang lebih realistis di waktu berikutnya. Sebagai pedoman, bisa menilik pencapaian: (1) diri sendiri, (2) keluarga, (3) pekerjaan (kelompok). Untuk hal ini, butuh keberanian untuk ‘membongkar’ diri sendiri, terutama hal berkaitan kelemahan/kekurangan yang berujung pada kegagalan. Butuh kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan. Resolusi Diri Sendiri mengandaikan keberanian untuk berefleksi dan berenung. Kita harus berani untuk resolusi tahun mendatang menjadi pribadi/individu yang lebih baik.

Terkait hal ini, dalam realitasnya, akhir tahun kerap lebih terlihat untuk bersenang-senang, cenderung berhura-hura, perayaan old and new yang kentara semangat hedonisnya, daripada instrospeksi dirinya. Belum banyak pihak yang melakukan Resolusi Diri Sendiri pada moment itu. Banyak orang seakan tidak sabar dan ingin cepat-cepat membuka ‘halaman baru’ di tahun mendatang. Padahal, ibarat sebuah perjalanan, kalau tidak punya bekal bakal mengulangi kesalahan/kekeliruan yang sama, penyesalan dalam pengambilan keputusan.

Resolusi diri sendiri untuk tahun mendatang memang penting. Bahkan, kalau perlu, dalam Resolusi Diri Sendiri, seseorang berani memberikan ‘penghargaan dan hukuman’ (reward and punishment) bagi dirinya sendiri. Reward untuk pencapaian. Punishment atas kegagalan dari tekad atau target tahunan tersebut sehingga lebih terpacu/termotivasi menjalani tahun mendatang. Tiga tips untuk reward: harus cepat dilakukan, mudah didapat/dilakukan, sederhana atau tidak ribet. Kiranya, dengan memberikan reward pada diri sendiri dapat memacu kita lebih bersemangat dan lebih baik. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.