Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf,
26 Desember 2021
1Sam. 1:20-22,24-28; Mzm. 84:2-3,5-6,9-10;
1Yoh. 3:1-2,21-24; Luk. 2:41-52)

 

Mendengar kata keluarga, pikiran kita ingat orangtua (ayah dan ibu) dan anak. Keluarga adalah sebuah komunitas kecil tempat tumbuh, hidup, dan berkembangnya pribadi di dalamnya. Bila anggota keluarga (pasangan atau anak-anak) suka untuk saling bertukar cerita, itu tandanya kebahagiaan keluarga sudah mulai tercipta. Namun bila anggota keluarga tidak suka bercerita, maka harus waspada, mesti diwaspdai.

Bacaan Injil hari ini menampilkan Keluarga Kudus dari Nasaret, Yusuf dan Maria yang membawa Yesus ke Bait Allah untuk ditahirkan. Selain itu Yusuf dan Maria juga mempersembahkan korban, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Yusuf dan Maria melakukannya untuk memenuhi hukum Taurat yang saat itu bagi bangsa Yahudi merupakan tuntunan supaya dengan usaha, perbuatan, kekuatannya dapat hidup sesuai dengan hukum Tuhan.

Sebagai keluarga Katolik, layak dan sepantasnya kalau meneladani ketaatan Yusuf dan Maria dalam melaksanakan perintah Allah. Ketaatannya mampu menjadikan keluarga penuh hikmat. Sebagaimana Yusuf dan Maria dahulu menyerahkan Yesus kepada Tuhan, membawanya ke Bait Allah untuk penta­hiran demikianlah seharusnya sebagai orangtua menyerahkan anak-anak dengan tulus hati, kepada Tuhan. Membawa anak-anak berdoa senantiasa sejak awal sampai akhir kehidupannya, supaya mereka melakukan kehendak Tuhan, melayani dan memuliakan Allah dengan pengabdian penuh.

Dalam rangka pendidikan ima, orangtua mesti membawa anak-anaknya untuk menerima sakramen-sakramen (Pembaptisan, Ekaristi/Komuni Pertama, Penguatan/Krisma) tepat pada waktunya. Karena sakramen merupakan sarana kehadiran rahmat Allah. Selalu membawa anak-anak ke Gereja sebagaimana Yusuf dan Maria menyadari sepenuh hati bahwa Bait Allah adalah kediaman Allah yang suci, menyadari sepenuh hati bahwa Gereja adalah tempat yang suci, yang pantas untuk mempersembahkan anak-anak. Keluarga merupakan dasar hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika semua keluarga baik adanya secara otomatis Gereja, masyarakat, bangsa dan negara akan bak, damai, sejahtera, dan aman-tenteram. Hendaknya setiap keluarga menyediakan waktu untuk menghadap Allah bersama-sama, berdoa bersama, saling curhat dan baik juga dibacakan dan direnungkan Sabda Allah.

Keluarga-keluarga kristiani pada umumnya sungguh menghayati kehadiran Allah di dalam keluarga, dan semua anggota keluarga senan­tiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Saya sendiri percaya bahwa para suami-isteri pun meng­ha­yati diri bahwa yang mempertemukan mereka untuk hidup bersama sampai mati juga Allah sendiri, diawali oleh Allah dan hendak­nya juga diakhiri oleh Allah. Hendaknya semua gairah. Semoga kita pun juga dapat seperti Simeon, mampu melihat Yesus Sang Mesias dan menempatkan Yesus dalam setiap langkah hidup sehingga bila saatnya tiba dapat pergi dengan damai. Seperti halnya Yusuf dan Maria, kita mampu membawa keluarga dan anak-anak menuju keluarga-keluarga katolik yang penuh hikmat. Supaya seperti halnya Yesus, anak-anak dapat tumbuh menjadi lebih kuat dan penuh hikmat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *