Dua puluh lima tahun silam, saat berusia 28 tahun, Theresia Yusniati Gea (53) memutuskan hidup mela­jang. Sebuah keputusan penting setelah per­tim­bangan matang. Meski demikian, bukan berarti, Yus, panggilannya, hanya berfokus atau sibuk mengurus dirinya sendiri. Hidup melajang mem­buat perempuan kelahiran Padang 27 Novem­ber 1968 ini menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua keponakannya sejak tujuh tahun terakhir ini.

Perempuan yang berwiraswasta pada perusahaan multi-level (ML) ini mengisah­kan langkah yang ditempuhnya hingga kini. Satu keponakannya telah menye­lesai­kan pendi­dik­an sekolah menengah kejuruan (SMK). Satu lagi, adiknya sedang menempuh pendi­dikan di sekolah menengah pertama (SMP).

Sekitar tujuh silam, istri adik lelakinya (ipar) me­ninggal karena sakit. Pasangan suami-istri ini mempunyai dua anak perem­puan. Saat ditinggalkan ibu kandungnya, anak pertama baru tamat sekolah dasar (SD), adik­nya belum bersekolah. Tidak lama setelah peristiwa duka tersebut, adik lelakinya meni­kah dengan seorang janda yang mem­punyai beberapa anak.

Mendapati situasi seperti ini, warga Kring St. Yohanes Pembaptis Paroki Santo Paulus Pekanbaru ini merasa risau, kasihan, dan ter­gerak hati menolong untuk ‘menyela­matkan’ dua keponakannya tersebut. Terpikir olehnya, “Akan menjadi apa dua keponakan ini kalau tinggal bersama ayah dan ibu tirinya dengan beberapa anak? Bagaimana dengan pendidik­an mereka kelak?” Yus prihatin dan memikir­kan masa depan dua keponakannya ini. Diri­nya yakin, bila mereka berdua tidak dito­­long bakal tidak bersekolah dan terlantar. Reaksi itu muncul sesaat setelah Yus menda­patkan kabar adiknya menikah lagi.

Atas sepersetujuan adiknya, Yus membawa dua keponakannya itu ke Pekanbaru untuk tinggal bersama dan di bawah asuhannnya. Sebelumnya mereka berdomisili di Lubuk­ling­gau, Sumatera Selatan. Terhadap dua keponakan yang menjadi tanggungan­nya ini, Yus menganggap mereka bagaikan anak kandungnya. Yus tidak menutup pintu kontak dan komunikasi dua keponakannya ini dengan ayah mereka. Keduanya bebas berkontak dengan ayahnya.
Beberapa tahun kemundian, Yus menda­pat­kan informasi bahwa adiknya pindah domisili ke kabupaten Kampar, Riau untuk membuka usaha kedai nasi. Malah, kini, adik Yus dan istrinya telah bercucu. Yus mengakui jarang kontak dengan adik lelakinya itu meski lewat telepon sekalipun. “Terakhir, kami berkumpul di Padang, setahun silam, saat ibu kami meninggal!” Terlihat, mereka (dua keponakan) sangat senang berjumpa dengan ayahnya. Namun, tidak demikian halnya tatkala mereka bersua dengan ibu tirinya,” kata Yus.

Meski demikian, Yus tetap mengupayakan tetap terjalinnya silaturahmi dua keponakan­nya dengan ayahnya (kandung) dan ibu tiri. Bagaimana pun juga (adik lelaki Yus) tetap ayah mereka, meski tidak dapat melaksanakan tanggung jawab sebagai ayah. Menurut Yus, pernah sekali waktu, adik lelakinya mem­berikan sedikit uang langsung ke tangan mereka berdua. Yus berharap adik lelaki­nya itu selalu ingat dua anak kandungnya ada dan tinggal bersama dirinya.

Selama ini, sambung Yus, dirinya ber­usaha mendekatkan dua keponakannya itu kepada ayahnya dengan memberi ke­sem­pat­an berkomunikasi dengan ayahnya. Diakuinya, inisiatif untuk kontak atau berkomunikasi hampir selalu datang dari dua anak ini. Hanya saja, kerap terjadi, handphone ayah mereka sering tidak aktif. Yus mengaku tidak tahu penyebabnya dan berpikir positif saja. Yus menduga adik lelakinya itu ‘sibuk’ mengurus usahanya dan sejumlah anak yang dibawa istri baru­nya, dari pernikahan sebelumnya.

Yus mengenang, ada suasana jauh berbeda di rumahnya setelah dua keponakan ini tinggal bersamanya di Pekanbaru. Dari sebelumnya, rumahnya sepi, mulai ramai dengan celoteh, tangisan, bahkan pertengkaran dua keponakan itu. Yus semula merasa kesepian, dengan keha­diran keponakan ini memberi warna ter­sendiri dalam kehidupannya. Kehadiran dua keponakan itu menciptakan kesibukan dan kehidupan baru bagi Yus. “Saya mengurus mereka sama dengan mengurus anak sendiri. Bukan tanpa kendala. Ada suka-dukanya. Namun, di balik itu semua, ada suatu kebahagiaan dan kepuasan batin saya meski tidak melahirkan mereka berdua. Saya merasa kebahagiaan, misalnya saat mengantar mereka ke sekolah dan menjemput meski cukup jauh jaraknya dari rumah atau menyiapkan berbagai kebutuhan mereka. Suatu anugerah tersendiri dan terasa sungguh luar biasa bagi kami, bila kelak mereka bisa mandiri dan berhasil,” ungkap Yus.

Hal yang membahagiakan Yus adalah sikap pengertian keponakannya itu. Menurut Yus, mereka berdua cukup tahu diri dan peka dengan kondisi rumah. Mereka mau membantu dan bertanggung jawab dengan keadaan rumah. Dua keponakannya itu, tidak banyak tuntutan atau kemauannya. Hanya saja ada yang membuat Yus gelisah. Selama hampir tujuh tahun kebersamaan dengan mereka, Yus belum bisa membawanya untuk seiman dengan dirinya. Mereka berdua ikut agama almarhumah ibunya. Yus berharap suatu saat, Tuhan mengabulkan doa-doanya, keponakannya itu seiman dengan dirinya.

Selama ini Yus sudah berusaha, misalnya mengajak dua keponakannya itu dalam aktivitas di paroki. Terkadang, kalau ada Doa Rosario bersama, mereka ikut dan mau mengucapkan doa Salam Maria. Meski demikian, Yus tidak mau memaksakan kehendak pada mereka berdua. “Biarlah mereka menjadi Katolik karena mendapat hidayah, bukan karena tarikan maupun disuruh-suruh!” ucap Yus.

Dari pengalamannya melajang selama ini, seperempat abad, Yus mengakui ada hikmah positif yang dialaminya. Dirinya lebih peduli pada orang lain, menekan egoisme, dan tidak memusatkan perhatian hanya pada diri sendiri. Namun, Yus juga mengakui terdapat suara-suara miring bagi perempuan yang melajang seperti dirinya. Yus prihatin bila perempuan melajang seperti dirinya dianggap tidak laku, tidak ada lelaki yang mau, putus cinta dan patah hati terus-menerus, dan sebagainya. Mendapati hal demikian, Yus tidak mau mempedulikan semua itu. Ketimbang pusing memikirkan hal demikian, Yus merasa lebih baik masa lajang diisi dengan hal yang positif dan berguna bagi orang lain. Yus kini aktif menggereja di kring dan parokinya. “Bagi saya aktif di Gereja bukan pelarian, tetapi sebagai obat ampuh bahkan mujarab untuk menyingkirkan kesepian, karena berjumpa dengan saudara seiman,” katanya.

Setelah memutuskan hidup melajang hingga kini, Yus mengakui tidak berpikir lagi untuk berumah tangga, meski banyak saudaranya yang mencarikan jodoh baginya. Sulung dari 10 bersaudara ini mengaku pernah mengalami kekecewaan dari sang mantan sewaktu berpacaran sekian puluh tahun silam. Yus mengambil sikap dan pilihan untuk melajang sebagai keputusan yang telah dipikirkan secara matang. Ia pun siap dengan segala konsekuensi; misalnya tidak punya suami dan anak atau tidak ada yang mengurusi dirinya tatkala tua. Yus juga tidak berpikir, apalagi berharap dua keponakannya itu kelak tidak melupakan jasanya, yang telah membesarkan dan mendidik mereka. “Saya telah pikirkan semua dan tidak takut. Saya yakin dan percaya Tuhanlah Sang Pengatur Kehidupan.

Saya percaya, kalau kini menanam kebaikan, kelak akan memetik kebaikan pula. Maka, selagi ada waktu dan mampu, saya ingin selalu berbuat kebaikan dan kebajikan bagi mereka berdua dan semua orang,” kata Yus mengakhiri. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *