HARI MINGGU ADVEN IV (19 Desember 2021)
Mil 5:1-4a; Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19;
Ibr 10:5-10; Lukas 1:39-45

 

MARIA DAN ELISABET adalah dua perempuan yang tidak pernah dipandang akan menjadi pembawa perubahan bagi dunia. Eli­sabet adalah seorang perempuan yang sudah lanjut usia dan mandul. Maria adalah seorang perawan sederhana dari sebuah desa yang jauh dari pusat kekuasaan. Mereka hanya akan menjadi bagian dari masyarakat biasa.

Namun apa yang di mata dunia itu dianggap biasa-biasa saja, ternyata mereka dipilih oleh Allah untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. Elisabet melahirkan Yohanes yang berperan mempersiapkan kedatangan Tuhan. Maria melahirkan Yesus, Sang Juru Selamat dunia. Ternyata mereka adalah para wanita yang revolusioner karena membawa pembaharuan bagi dunia. Sungguh ajaib karya Tuhan itu. Keajaiban ini dapat terjadi selain karena kebaikan Allah tapi juga karena Iman dari pihak manusia. Lukas menggarisbawahi peran Iman itu: “Dan berbahagialah ia yang telah percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana”. Perjumpaan Maria dan Elisabet dalam kisah Injil ini merupakan perjumpaan dari dua wanita yang memiliki pengalaman iman yang sama. Mereka adalah orang-orang yang telah mengalami Allah. Mereka ingin saling berbagi sukacita yang telah mereka alami itu. Pengalaman iman Maria dan Elisabet itu mengingatkan kita mengenai apa yang paling penting dalam perayaan natal itu. Kita akan menyambut kelahiran Yesus dan melihat-Nya di palungan. Apakah kehadiran-Nya itu akan membuat kita makin beriman dan menggerak­kan kita juga untuk mau berbagi dengan sukacita? Dari Injil hari ini, kita melihat atau mendengarkan teladan dua orang wanita bijaksana dan sungguh beriman. Perawan Maria dan Elisabet, orang dari kalangan masyarakat biasa ternyata orang-orang yang hebat dan tidak mudah mengeluh. Belajar dari dua wanita tersebut, ternyata kehebatan hidup itu tidak ditentukan oleh status seseorang.

Kehebatan seseorang justru dari iman yang sungguh mereka hayati. Apa yang dihadapi selalu dihayati dari perspektif kehendak Tuhan. Bagi mereka, Tuhan mempunyai rencana dalam setiap manusia. Elisabet harus cukup lama, sampai tua menunggu punya anak. Bahkan orang-orang sudah mengatakan mandul. Bagi orang Israel, mandul (tidak mempunyai anak) itu aib. Tetapi bagi orang beriman, indah pada waktunya. Di usia yang sudah senja, di mana seturut pikiran manusia mustahil, dia dibuat oleh Allah mengandung. Ini karya kasih Allah. Sementara Maria harus mengandung di usia belia. Maria mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Kendati Maria tahu banyak resiko, tidak membuat takut dan mengeluh pada Allah. Mengapa demikian? Karena Maria mempunyai iman yang hidup. Maria percaya dan mengan­dal­kan Allah. Pertanyaannya, apakah kita mudah marah dan mengeluh menjalani hidup dan pekerjaan setiap hari? Bila ya, tentu hidup Anda tidak pernah menemukan keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan. Harapannya, kita menjalani hidup ini dengan iman. Inilah yang membuat hidup menjadi benar; penuh makna, ke­indah­an, damai, dan bahagia. Mari mene­ladan Maria dan Elisabet. Mere­ka sungguh orang-orang beriman. Kita juga demikian akan menyer­ta­kan iman dalam menghayati liku-liku dan pernak-pernik hidup ini. Per­cayalah, Tuhan akan mem­bimbing. Selamat menyongsong hari Raya Natal. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.