TUAPEIJAT, KEP. MEN­TAWAI – Lawatan Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX ke Paroki Santo Petrus Tuapeijat Kepulauan Mentawai, 6 – 9 November 2021 merupakan kun­jungan perdana setelah tahbisan episkopal. Kunjungan ini atas prakarsa bupati Kepulauan Men­tawai (Yudas Sabaggalet). Keda­tangan Mgr. Vitus bersama rom­bongan termasuk bupati disambut pastor paroki, P. Samuel Anton Situmorang, OCarm.

Di depan gerbang gereja paroki, Mgr. Vitus beserta rombongannya dikalungi manai (kalung khas Mentawai – Red) dilajutkan penyam­butan dengan turu’ laggai (tarian daerah Mentawai – Red). Sore harinya, bertempat di gereja paroki, Mgr. Vitus mendampingi rekoleksi bagi anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP), Aparatur Sipil Negara (ASN) Katolik di lingkungan Pemkab Mentawai, dan tokoh umat setempat. Pada kesem­patan ini Bapa Uskup menyam­paikan beberapa hal terkait pelak­sanaan sinode Keuskupan Padang. Selain itu, Bapa Uskup juga banyak mendengarkan aneka masalah, usul, masukan menyang­kut masalah sosial dan pengem­bang­an iman bagi umat Katolik di Mentawai. Usai pemaparan materi dilanjutkan dialog dan tanya jawab.

Saat sesi dialog, selain berisi perkenalan, beberapa tokoh umat mengungkapkan persoalan dan harapan terhadap Bapa Uskup serta para gembala umat yang melayani di Kepulauan Mentawai. Tokoh umat setempat Dominikus Sababa­lat menjelaskan perkembangan paroki, perbedaan, dan kemajuan dibandingkan ketika masih stasi dari Paroki Santo Yosef Sioban. Seiring berjalannya waktu, setelah otonomi daerah, Kepulauan Mentawai menjadi kabupaten dan Tuapeijat menjadi ibu kota kabupaten, wilayah ini menjadi paroki sendiri.

Sr. Hiromina Batuara, KSFL menjelaskan tentang keberadaan komunitas suster Ponipen Rekole Caritas Alet Por Alen (PRCA) di Tuapeijat. Di paroki ini ada empat suster yang berasal dari empat tarekat, yaitu: Tarekat FCA dari Palembang), Tarekat SFS (Sukabumi), Tarekat KSFL (Pematangsiantar), dan Tarekat FSE (Medan). Empat suster ini membentuk komunitas dengan nama Maria Mater Dei (MMD). Keempat suster dari tarekat ber­beda berkarya di bidang pendi­dikan, melayani anak-anak asra­ma, di TK dan SD Santo Petrus.

Sementara itu, ketua Wanita Katolik RI Cabang St. Petrus Tuapeijat, Karolina Pasti Sirirui mengungkapkan berbagai persoal­an yang dialami ormas perempuan yang dipimpinnya. Melihat sosok uskup baru ini, Karolina menyata­kan bahwa pilihan paus tidak sia-sia, karena memilih Pastor Vitus sebagai pemimpin di Keuskupan Padang. Dari perwakilan Orang Muda Katolik, Ketua OMK Paroki 2021-2025, Desentinus Ajik Sadodolu menjelaskan bahwa di pusat paroki ini ada 80-an OMK. Desentinus berharap kehadiran Bapa Uskup baru ini juga membangkitkan semangat OMK di Tuapeijat. “Kami pun akan bersemangat untuk mendukung Bapa Uskup” katanya.

Dari bidang pendidikan, Kepala TK dan SD St. Petrus Tuapeijat di km. 5, Sr. Debora Hasugian, FSE menjelaskan tentang kondisi sekolah yang dipimpinnya. Jumlah peserta didik TK sebanyak 25 orang dan SD (197 orang). Sr. Debora berharap selalu ada peningkatan kapasitas baik sarana dan tenaga untuk mendukung pendidikan anak-anak ada di wilayah ini.

Tidak ketinggalan, katekis senior dan tokoh umat Sipora, Sergius Saleleubaja unjuk bicara. Sebagai pelaku dan saksi sejarah perkembangan Gereja Katolik Sipora, Sergius menyatakan tahu betul sejarah dan perjuangannya yang penuh suka dan duka. Sergius memahami keunikan dan sulitnya medan wilayah pelayanan pastoral, pandangan umat yang beragam di setiap paroki menjadi “salib” tersendiri bagi Mgr. Vitus. Sergius berharap untuk memper­kuat Gereja, perlu pembinaan lebih khusus bagi pembina dan pengurus stasi. Perlu diperbanyak adanya katekese, pendalaman iman sehingga ada pertumbuhan iman. Umat pun diharapkan kompak untuk menyusun dan melaksanakan program pembinaan di paroki. “Soal pendididikan, terutama keterampilan, Gereja memiliki sarana sebagai pelatihan untuk siap ke lapangan. Alat-alat itu mesti dimanfaatkan kembali jangan dibiarkan rusak,” katanya.

Umat Stasi Betumonga, Fransis­kus Xaverius menyatakan kedatangan Bapa Uskup baru ini merupakan angin segar untuk umat. Semoga Bapa uskup men­dukung pembangunnan Gereja Katolik di Stasi St. Stefanus Betumonga. Umat berharap pembangunannya segera selesai tahun 2022 serta diresmikan Bapa Uskup. Fransiskus menjelaskan kondisi stasinya. Betumonga merupakan stasi ter­jauh dari Paroki Tuapeijat, lokasi­nya di belakang pulau Sipora (pantai barat – menghadap Samu­dera India) ombaknya eksotik dan besar, medan pastoralnya menan­tang. Jumlah umat stasi ini 56 KK.

Silaturahmi Kebangsaan

Mata acara penting dalam jadwal kunjungan Uskup Vitus Rubianto Solichin ke Paroki St. Petrus-Tuapeijat adalah berkenalan dan bersilaturahmi dengan sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), pemuka antarumat beragama serta tokoh masyarakat Kepulauan Mentawai, Senin (8/11).

Acara yang digagas Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, SE, MM ini berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Bupati Yudas memberi bobot tersendiri kesempatan perdana kunjungan Uskup Vitus dengan menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Silaturahmi Kebangsaan”. Pada kesempatan ini, selain pejabat struktural peme­rintahan kabupaten, hadir Kepala Kepolisian Resor Mentawai, per­wa­kilan Komandan Distrik Militer, pejabat Kantor Kementerian Aga­ma Kanwil Wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Selain Bapa Uskup, tampak hadir Pastor Paroki St. Petrus-Tuapeijat dan beberapa anggota rombongan keuskupan.

Ketua DPRD Kabupaten Kepu­lauan Mentawai, Yosep Sarogdok, A.Md. mengungkap kebhinekaan yang ada di Kepulauan Mentawai, sebagaimana di tingkat nasional. Kebhinekaan menyangkut latar belakang agama, suku, golongan. Yosep berharap silaturahmi kebangsaan ini dapat menjadi ‘modal’ memajukan Mentawai di berbagai bidang kehidupan, baik di bidang ekonomi, pembangunan fisik maupun rohani-spiritual.

Sebagai penggagas, Bupati Yudas mengamini sambutan Ketua DPRD Mentawai tentang situasi yang ada di kepulauan ini. “Walaupun wilayah Kepulauan Mentawai termasuk kecil dan ‘agak terpencil’, namun punya modal yakni persatuan dan kesatuan. Selama hampir dua periode sebagai Bupati Mentawai, saya tidak menemukan adanya bibit-bibit maupun gesekan-gesekan yang berpotensi menjadi pemecah dan merusak kedamaian di Kepulauan Mentawai. Kepulauan Mentawai sebagai satu-satunya daerah 3T, namun kami optimis maju di waktu mendatang. Uskup baru Keuskupan Padang pun menjadi ‘kekuatan’ kita membangun Kepulauan Mentawai. Persaudaraan dan kehidupan di sini lintas batas serta menembus sekat beragam perbedaan. Kita didukung institusi kepolisian dan militer agar tercipta situasi aman tenteram.”

Tatkala mendapat kesempatan menyampaikan sambutannya pada kesempatan yang sama, Uskup Vitus mengisahkan saat terpilih sebagai uskup. “Banyak hal berubah, apalagi tahu wilayah yang sedemikian luas, membentang dari Kepulauan Mentawai hingga pantai timur Provinsi Riau, dan sebagian ujung wilayah Provinsi Jambi. Tantangan tugas untuk pelayanan dan penggembalaan di daerah seluas itu, sebagaimana diem­bankan Bapa Suci. Saya setuju pemaparan Bupati Yudas, kita bersaudara! Bapa Suci pun mena­ruh perhatian yang sama untuk menggalang kerja sama dengan penganut agama lainnya, seperti tertuang dalam Dokumen Abu Dhabi. Kita bisa membangun bersama dalam kebhinekaan. Gereja pun hadir, mau bekerja sama dengan semua pihak, terma­suk pemerintah – yang memikirkan kepentingan serta kesejahteraan umat dan masyarakat.

 

(Alb & Hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.