Hari Minggu Adven III
12 Desember 2021
Zef 3:14-18a; Mzm 12:2-3.4bcd.5-6;

 

BACAAN INJIL Minggu Adven III mengisahkan Yohanes Pembaptis yang sedang memberikan nasihat pembaharuan diri. “Berto­batlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” katanya. Men­dengarkan pewartaan tentang pertobatan ini, orang-orang mulai gelisah dan khawatir, mere­ka pun meminta dibaptis oleh Yohanes sambil menyatakan niat mau memperbarui diri.

Ada tiga macam kelompok orang yang datang kepada Yohanes, yaitu: orang kaya, pemungut cukai, dan prajurit. Meskipun secara sosial mereka ini “kaum terhormat” dalam masyarakat, namun secara religius sering di­anggap terpisah jauh dari kehidupan keagama­an orang Yahudi. Mereka dinilai sebagai kaum egois, orang-orang tamak, dan kawanan pemeras. Namun demikian, Yohanes menerima mereka. Sikap ini mau mengatakan bahwa orang-orang yang biasanya dianggap sudah tak tertolong lagi pun masih diberi kesempatan.

Ketiga macam kelompok orang ini bertanya tentang apa yang harus dilakukan untuk mela­ku­kan pertobatan: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Yohanes Pembaptis mem­berikan jawaban yang sederhana: “Perto­bat­an diukur dengan sikap terhadap sesama.” Nasi­hat semacam ini juga akan dikatakan oleh Yesus sendiri: “Bukan setiap orang yang ber­seru kepada-Ku”

Yohanes memberi nasihat tentang cara-cara pembaharuan hidup yang sejalan dengan kehidupan masing-masing orang. Hal itu bukan­ syarat berat yang tak mungkin dilaksanakan. Pemungut cukai dianjurkan untuk menarik pajak dengan jujur, tidak memanipulasi aturan. Para prajurit yang memiliki kekuasaan dan senjata tidak mempraktekkan kekerasan. Da­lam nasihat-nasihat itu, Yohanes mau menga­takan bahwa mumpung masih ada waktu, ada kesempatan, perbaharuilah hidupmu: kekuasa­an harus dijalankan sesuai dengan maksudnya, begitu pula kelebihan materi menuntut kemau­an untuk berbagi, bukannya terus menerus menimbun bagi diri sendiri saja. Jawaban Yo­ha­nes Pembaptis itu selaras dengan pewar­taan para nabi. Nasihat ten­tang praktik keadil­an, berbagi, dan tanpa kekerasan meru­pakan tema-tema favorit para Nabi. Karena Yohanes benar-benar berperilaku seperti seorang Nabi, orang-orang pun mulai bertanya-tanya: Apakah dia ini adalah seorang Mesias? Akhirnya mun­cul juga pertanyaan dari orang banyak ini yang sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias (Luk 3:15).

Jawaban Yohanes atas pertanyaan ini sangatlah tegas: “Bukan, saya bukan Mesias, tetapi saya beri tahu Ia akan datang, keda­tangannya sudah dekat. Ia yang lebih berkuasa dari padaku.” Dengan demikian, Yohanes Pem­baptis memberitakan Kabar Gembira kedatang­an Mesias kepada orang banyak. Yohanes pun mendefinisikan Mesias dengan dua cara: pertama, Mesias adalah Dia yang membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api. Kedua, Dia datang untuk melaksanakan penghakiman Tuhan.

Pada hari Minggu Adven III ini. Paulus memberi nasihat: “Tuhan sudah dekat, jangan­lah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga” (Flp 4:5-6). Nabi Zefanya pun menasi­hatkan: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lunglai. Tuhan Allahmu ada di tengah-tengahmu sebagai pahlawan yang memberi kemenang­an. Ia bersukaria karena engkau, Ia memba­­rui engkau dalam kasih-Nya” (Zef 3:16-17). Arti dalam nasihat ini supaya kita bersuka cita, tidak perlu khawatir dan tidak perlu takut tersebut bukanlah ajakan supaya ber­santai-santai berkubang dalam dosa, namun justru ajakan: mumpung masih ada waktu, masih ada kesempatan, maka mari menyusun langkah-langkah pembaharuan hidup. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *