“Saat menjalankan tugas dan tanggung jawab seba­gai ketua stasi dan kepala dusun, sempat muncul rasa putus asa mengha­dapi pola pikir umat. Meski begitu, saya berusaha tegar dengan prinsip ‘kalau tidak saya, siapa lagi?’ Saya hadapi semua de­ngan sabar kalau ada persoalan,” aku Nursani Setiawan Siribere (46).

Lelaki kelahiran Sima­talu Masaba, Siberut Barat, 26 November 1975 ini saat terpilih sebagai Ketua Stasi St. Markus Penginjil-Limu, Paroki Stella Maris-Betaet, Siberut Barat sejak Agustus 2019 memimpin 330 jiwa umat Katolik. Sebagai kepala dusun Limu, Desa Simatalu, Siberut Barat sejak Mei 2018, dirinya memimpin 330 umat Katolik ditambah satu umat Muslim.  Sebelumnya, ayah empat anak (tiga lelaki satu perem­puan) ini pernah sebagai kepala du­sun periode 2008-2011.  Meski ka­dang timbul masalah, suami Diana Samoilanggan (36) ini mengaku menjadi ketua stasi (baja’ Gereja) ternyata juga meng­asyikkan juga. Alasannya, berkesem­patan mendalami pengetahuan agama dan menggereja. “Apalagi, ketua stasi diberi mandat oleh pastor paroki memimpin kegiatan sakramentali. Selain memimpin umat, ketua stasi mesti mela­porkan data umat ke paroki, memberikan pe­ma­haman hidup meng­gereja pada umat agar menjadi orang Katolik sejati (sipulelek) dan berbuah.” katanya.

Nursani menya­dari sebagai ketua stasi dan kepala dusun  tidak luput dari kritik dan nada miring, bah­kan ce­moohan serta caci maki. “Masya­rakat maupun umat yang be­ragam pola pi­kirnya, terutama kalau berbicara soal upah dalam bertugas bermacam-ma­cam. Saya sadar se­buah pekerjaan butuh biaya, namun yang paling utama kualitas peker­jaannya, apalagi kalau pekerjaan itu untuk masya­rakat atau umat itu sendiri,” tandasnya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *