Tanggal 10 Oktober 2021, Bapa Suci, Paus Fran­siskus telah membuka Sinode Para Uskup di Roma yang akan ber­langsung pada Oktober 2023. Tahapan dan proses Sinode Gereja Universal ini bermula dari bawah diawali dari Gereja Basis – akar rumput (grass root), bukan top down, tetapi bottom up. Hasil sinode merupakan hasil dari refleksi Gereja Lokal di semua keuskupan lalu dirang­kum di tingkat nasional dalam Kon­ferensi Waligereja Indonesia (KWI). Selanjutnya dibawa ke tingkat regional (kontintental – benua) dalam Fede­rasi Para Uskup se-Asia (FABC), hingga memuncak pada Sidang Para Uskup di Roma.

Persiapan Keuskupan Padang

Bagaimana persiapan di Keuskup­an Padang? Sebelum Mgr. Vitus ditahbiskan 7 Oktober 2021, telah mendapat ‘tagihan’ dari Sekretaris Eksekutif KWI, Mgr. Antonius Bunyamin, OSC (Uskup Bandung) berkaitan dengan Sinode Para Uskup di Indonesia. Hanya saja saat itu, Keuskupan Padang belum mem­punyai perangkat. Hal ini mem­buat uskup terpilih, Mgr. Vitus saat itu bingung memilih personil yang dianggap cocok menjadi peng­hubung di tingkat keuskupan maupun nasio­nal. Disadari ber­sama bahwa pelaksanaan sino­de keuskupan tidaklah gam­pang. Seiring berjalannya waktu, Mgr. Vitus berkunjung “tidak resmi” ke Pastoran Paroki Katedral Padang menyam­paikan maksud dan tujuan itu. Bapa Uskup memilih saya sebagai Sekretaris Keuskupan sekaligus menjadi nara hubung ke tingkat nasional. Jujur, saya sendiri merasa perlu lebih memahami tentang sinode yang dimaksud Bapa Uskup. Saat itu tengah sibuk-sibuknya persiapan tahbisan episkopal, sebelumnya Vesper Agung (6/10) dan Misa Pontifical (10/10). Sementara pembukaan Sinode di Vatikan oleh Paus, 10 Oktober 2021, sedangkan pembukaan Sinode Keuskupan Padang dirancang 10 hari setelah tahbisan uskup, pada 17 Oktober 2021.

Saya sempat bingung dengan tugas sebagai nara hubung (keuskupan dan nasional). Di keuskupan lain, sinode sudah dulu dibuka, karena mempunyai perangkat lengkap. Beda dengan Keuskupan Padang saat itu, agak agak telat memu­lainya karena situasi. Saya berpacu dengan waktu, tidak mau keting­galan. Bapa Uskup memasukkan saya ke dalam grup nara hubung sinode nasional sehingga bisa membaca dan mempelajari semua hal berkaitan dengan Sinode Para Uskup Sedunia 2023. Begitupun tugas-tugas sebagai nara hubung keuskupan.

Ternyata, cukup berat tugas dan tanggung jawabnya, karena dituntut berhubungan erat, bekerja sama, berkoordinasi, memantau, memandu, mengajak, merangkum semua paroki; tidak hanya para pastor paroki, tetapi juga harus mengetahui semua proses sinode yang berlangsung di tingkat keuskupan hingga ke tingkat rayon/lingkungan/kring. Selain itu, juga mesti didengarkan dan diberi ruang bagi semua kalangan, termasuk mereka yang miskin, terpinggirkan, termar­jinalkan, tersakiti, yang tidak pernah disentuh dan didengar­kan selama ini; bahkan yang selama ini dikucilkan oleh Gereja. Kelompok ini mungkin saja tidak berani bersuara dalam komunitas umat.

Setelah berproses, ternyata tidak selalu lancar untuk berkoor­dinasi dengan para pastor di paro­ki-paroki. Penyebabnya antara lain karena faktor perbedaan usia sehingga berbeda ‘kecepatan’ dalam berpikir dan melangkah. Sangat diharapkan nara hubung di tiap paroki haruslah orang yang siap sedia di parokinya dan mesti memenuhi syarat, sebagaimana dikehendaki KWI; yakni umat yang secara rohani dewasa dan beriman, mampu bekerja sama, komunikator yang efektif dan mampu mensintesis berbagai informasi, mampu berinteraksi baik, punya pengalaman dengan struktur dan cara kerja keuskupan, rendah hati, terbuka, mampu bekerja sama dengan rekan dan pimpinan – khususnya dengan Bapa Uskup beserta tim.

Siap Bersinode
Proses selanjutnya merancang, membentuk tim, dan terus menjalin koordinasi dengan Bapa Uskup. Penting sekali bagi tim ini untuk memahami “apa yang dimaui dan dikehendaki Bapa Uskup dengan Sinode Keuskupan Padang”. Terkadang, memang tidak dinyatakan dengan tegas, tetapi tim adalah pentung menangkap yang dimaui Bapa Uskup. Kemampun ini mesti harus juga dimiliki nara hubung di semua paroki.

Pada 17 Oktober 2021, Bapa Uskup menerbitkan Surat Gembala Uskup (SGU). SGU disampaikan ke paroki-paroki, setelah tanggal itu sudah bisa membuka sinode di parokinya, termasuk membacakan SGU.
SGU menjadi semacam panduan, pedoman, bahkan sebagai ajakan maupun seruan bagi umat dan Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang.

Lagi pengalaman yang terjadi, di kalangan pastor di paroki ada yang update, ada yang tidak update; ada yang membaca dan tidak membaca pesan pesan dari panitia. Aneka macam alasan terungkap, terutama sudah sibuk dengan program-programnya. Ada pastor paroki yang belum mendapatkan nara hubung di parokinya. Soal kesiapan ini lebih kentara lagi zoom meeting dengan para nara hubung paroki, ada yang menyatakan “tidak tahu” dan “belum siap” (menjadi nara hubung). Panitia Inti tiada lelah minta paroki menyiapkan nara hubungnya.

Waktu memang sangat sempit, tetapi syukurlah ada penyesuaian dan kelonggaran waktu yang diumumkan Sekretariat Sinode di Vatikan, hingga pertengahan Agustus 2022. Mengacu jadwal sebelumnya, bahan sudah harus dikumpulkan Februari 2022, namun jadwal baru memberti waktu hingga Mei 2022. Dengan demikian pelaksanaan sinode di tingkat lokal, keuskupan, dan nasional menjadi nyaman sehingga lebih fokus dalam penyusunan bahan, koordinasi, dan sosialisasi.

SGU sebagai pedoman sebenarnya tidak ada lagi alasan bagi para pastor untuk menyatakan tidak tahu. Bapa Uskup pun telah menyampaikan dengan tegas supaya para imam berkonsentrasi, memberikan waktu-tenaga-pikiran untuk sinode. Dalam pertemuan para imam se-Keuskupan Padang (sehari setelah tahbisan episkopal), Bapa Uskup Vitus telah menyampaikan hal ini. Juga, telah dibuka Sinode Keuskupan Padang di gereja Katedral Padang, lagi-lagi tidak ada lagi alasan tidak tahu tentang sinode ini.

Bahan persiapan untuk Sinode Keuskupan berbahasa Inggris dibuat Sekretariat Umum untuk Sinode di Vatikan, telah diterjemahkan tim KWI. Pedoman ini membuat yang diingini Bapa Suci! Untuk Keuskupan Padang, bahan Muspas 2019 yang sudah melalui proses penggodokan bisa menjadi semacam gambaran umum. Pertanyaan yang diajukan untuk pertemuan umat rada-rada mirip. Judul Sinode 2023: “Misi-Persekutuan-Partisipasi”. Tiga kata ini ada dalam bahan pendalaman Muspas 2019 sehingga dapat menjadi semacam ‘modal awal’. Dari 10 pertanyaan panduan untuk Sinode 2023, bisa saja difokuskan atau mengerucut pada satu pertanyaan saja di suatu paroki. Tetapi kalau mau dibahas lebih luas, bisa di luar Lima Tugas Gereja!

Bapa Paus tidak mau bersinode yang biasa atau konvensional. Kalau Sinode Keuskupan Padang (1995) inisiatif dari Uskup; mengajak dan mengundang umatnya bersinode maupun ber-Muspas, kali ini berbeda. Dari Sinode sendiri tidak diharapkan menghasilkan dokumen-dokumen tebal, ilmiah, dan formal. Bapa Suci lebih menginginkan umat Katolik berjalan dan bergandengan bersama, sehati-seperasaan sebagai umat Allah untuk bersinode. Seluruh proses tidak memandang perbedaan dan tingkatan, pangkat, jabatan, struktur dan tidak mengabaikan peran masing-masing.

Rekan Kerja di Lapangan

Apa saja yang telah dilakukan Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang? Sebagai nara hubung, saya harus banyak menjalin komunikasi dengan Bapa Uskup, sebagai penanggungjawab utama. Saya hanya perpanjangan tangan Uskup untuk menyampaikan yang ada di dalam pemikirannya.

Langkah pertama saya berkomunikasi, berkonsultasi, dan berkoordinasi dengan Bapa Uskup. Kedua, merancang dan mengonsep langkah-langkah, misalnya seruan kepada para pastor, membentuk tim inti (beberapa orang) – tidak banyak namun mau bekerja. Di dalam tim ada ahli Kitab Suci, Hukum Gereja, kaya pengalaman berpastoral, Vikaris Jenderal, Sekretaris Keuskupan Padang. Panitia Inti dibantu 28 nara hubung setiap paroki. Merekalah rekan kerja Panitia Inti di lapangan, maka mesti selalu berkoordinasi dengan pastor paroki setempat. Nara hubung paroki dapat membuat tim, karena lebih mengenal medan/lapangan parokinya. Ketiga, setelah sosialisasi mengirimi bahan yang dibutuhkan.

Panitia Inti membekali para nara hubung melalui aplikasi Zoom Meeting. Selain berisi sosialisasi juga penegasan dan arahan Bapa Uskup, teks Doa Sinode untuk digunakan hingga Mei 2022. Informasi dalam grup WhatsApp nara hubung selalu diperbarui. Karena Pandemi Covid-19 belum berakhir, para nara hubung di paroki mencari cara efektif agar bahan sinode tersampaikan kepada umat. Banyak cara dapat ditempuh baik secara konvensional – tatap muka – maupun virtual (zoom). Bisa juga lewat surat biasa, surat elektronik (e-mail), media ekspresi misalnya: melukis (pendapat tentang Gereja, perasaan tentang Gereja, Lima Tugas Gereja), puisi, drama, dan lain sebagainya. Bapa Paus melalui sinode ini mau mendengar jeritan orang yang terpinggirkan, termarjinalisasi, miskin, tak berdaya. Inilah tantangan nara hubung untuk dapat melakukan hal demikian. Para nara hubung diharapkan tahu dan peka dengan para pihak yang terlibat: tidak dalam posisi menghakimi, mempermasalahkan, namun berjalan bersama, menawarkan solusi untuk keselamatan.

Soal tenggat waktu, saya sudah koordinasi dengan nara hubung dan sudah disetujui Bapa Uskup adanya jadwal masa prasinodal. Pertemuan para imam pada Januari 2022 dan Mei 2022 sungguh dimanfaatkan untuk memutakhir­kan bahan sinode. Pada Mei 2022 akan disusun sintesis, bekerja sama dengan tim perumus untuk menghasilkan paling banyak 10 halaman rumusan dari semua bahan yang dibicarakan di paroki dan rayon. Notulen, semacam lampiran laporan, diharapkan dikirimkan berbarengan. Tim tentu saja sangat menghargai semua bahan yang masuk, termasuk jeritan dari kalangan (umat) terpinggirkan.

Sebagai nara hubung keuskupan, saya berharap semua pihak berjuang bersama untuk menda­patkan yang dikehendaki Bapa Paus dan Bapa Uskup. Semua pihak terlinat menyukses­kan Sinode Keuskupan, sehingga tidak proses dan hasilnya hanya bergaung di tingkat atas, elitis, atau lewat begitu saja; namun juga sungguh melibatkan dan suara akar rumput (grass root) – terutama mereka yang miskin, terpinggirkan, cacat (disabilitas), selama tidak didengarkan suaranya, dan sebagainya. Kita tidak bisa selamat, kalau hanya ‘berjalan sendirian’. Marilah kita membangun Gereja, Kerajaan Allah di dunia lewat persekutuan dan partisipasi. Inilah spirit Sinode Gereja kita. ***

 

RD. Yakobus Ganda Jaya Nababan
Nara Hubung Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.