PESTA PEMBAPTISAN TUHAN
2 Januari 2022
Yes 40:1-5,9-11; Mzm 104:1b-2,3-4,24-25,27-28,29-30;
Tit 2:11-14;3:4-7; Luk 3:15-16,21-22

 

Pesta Pembaptisan Tuhan memiliki makna mendalam dalam hidup pengikut Kristus. Kita mengakui sebagai peng­ikut Tuhan Yesus Kristus karena menerima sakra­men Baptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sakramen ini membuka jalan menuju kepada kekudusan dan kehidup­an ke­kal bersama Bapa di Surga.

Yesus adalah Putera Allah yang da­tang ke tengah-tengah dunia dan banyak orang di sekitar sungai Yordan. Dia adalah Pribadi yang digambarkan Yohanes Pembaptis: “Aku mem­baptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan mem­buka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”. Allah Roh Kudus turun ke atas kepala Yesus Sang Putera dalam rupa burung merpati. Maka Allah sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus mewah­yukan diri-Nya secara sempurna dalam diri Yesus Kristus.

Tuhan Yesus tidak dibaptis saat bayi. Yesus dibaptis saat berusia 30 tahun. Ia datang sendiri ke sungai Yordan dan meminta Yohanes untuk membaptis-Nya. Yohanes Pembaptis saat itu sudah mendapat pembinaan dari kaum Esseni di sekitar Qum­ran. Pada saat yang tepat, ia menyiapkan orang-orang dengan seruan tobat dan pembap­tisan untuk pengampunan atas dosa mereka. Dia adalah suara yang berseru, yang rendah hati di hadapan Yesus dan membawa murid-murid-Nya untuk lebih dekat dengan Yesus sang Anak Domba Allah. Yesus sendiri tinggal bersama ibuda-Nya Maria di Nazaret dan bekerja sebagai tukang kayu. Ia meninggalkan Nazaret dan memulai pelayanan-Nya di depan umum setelah menerima Pembaptisan. Roh Kudus memampukan Yesus untuk berkarya dan bersabda bagi keselamatan manusia.

Bagaimana melukiskan peristiwa pembap­tisan Yesus di sungai Yordan? Ia datang ke sungai Yordan dan meminta Yohanes untuk membaptis-Nya, namun Yohanes menolaknya. Yohanes tahu diri bahwa dia hanya seorang manusia biasa. Namun demikian Yesus men­desaknya untuk membapatis-Nya. Yohanes setuju untuk membaptis Yesus dan terjadilah penguatan dari pihak Allah Bapa dalam suara yang mengakui Yesus sebagai Anak kesa­yangan. Tuhan Yesus datang untuk mengu­duskan air yang nantinya juga akan mengudus­kan semua orang yang mengikuti-Nya.

Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Anak Allah yang mengambil rupa sebagai manusia. Dia tidak berdosa tetapi soli­der dan empati dengan manusia yang berdosa. Hanya dengan demikian maka Ia dapat menja­dikan manusia yang berdosa memperoleh martabat baru sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus menunjukkan rasa solidaritas dan em­pati-Nya dengan manusia berdosa karena kasih. Ia melakukan semua ini karena kasih. Yohanes bersaksi dalam Injil: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Perayaan Pesta Pembaptisan Tuhan mem­bantu kita untuk merenung lebih dalam lagi kasih Tuhan, terutama memperteguh iman kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Dialah Allah yang kita sembah sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus. Satu Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus, Anak Allah. Allah sendiri mewahyukan diri-Nya sebagai Bapa yang menyapa Yesus sebagai Anak kesa­yangan-Nya. Yesus sebagai Anak mengikuti kehendak Bapa dalam Roh Kudus. Iman kepada Allah Tritunggal Mahakudus ini kita imani sejak pertama kali menerima sakramen pembaptisan.

Pembaptisan Tuhan membuka jalan bagi kita untuk mengabdi Tuhan dengan tulus. Yohanes Pembaptis adalah model kita. Tugas kita sebagai Gereja masa kini adalah mem­bawa semua orang kepada Yesus. Artinya semua tugas pelayanan kita haruslah selalu mengarah kepada Yesus bukan mengarah kepada diri sendiri. Nama Tuhan Yesus harus lebih popular dari pada nama kita. Paus Fransiskus mengatakan: “Jangan ada narsisis­me rohani dalam hidup kita. Pikirkanlah, berapa kali kita mengalami narsisisme rohani, menomor­duakan Tuhan dan menomorsatukan diri.

Orang-orang narsis rohani adalah mereka yang suka cari muka, suka menghitung-hitung atau menceri­takan keberhasilan pelayanannya kepada orang lain. Bukankan semuanya untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa? Ini adalah dua hal yang patut kita renungkan bersama pada pesta Pembaptisan Tuhan ini. Mulai saat ini pikiran kita haruslah berpusat pada Yesus karena Yesus lebih agung dan lebih berkuasa. Yohanes Pembaptis berkata: “Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Luk 3:16). Yesus lebih berkuasa bukan diri kita maka marilah kita senantiasa mengarahkan hati dan pikiran kita kepada-Nya. Hanya kepada Yesus puji dan syukur kepada-Nya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *