PASAMAN BARAT – Dalam kunjungan pastoral perdana di Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto, SX menyatakan serasa di rumah atau kampung halaman sendiri. Kesan dan perasaan itu muncul saat penyambutan di halaman gereja, Sabtu sore (27/11), tokoh umat Stasi Mahakarya menyapa Mgr. Vitus, “Berkah Dalem” (Berkat Tuhan – Red). “Saya serasa kampung halaman sendiri, kampung Prembaen, Semarang Tengah yang guyub. Umatnya sering berdoa Rosario, latihan koor, arisan, dan sebagainya,” ungkap Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX, Sabtu (27/11) malam.

Hal tersebut disampaikan Bapa Uskup di depan 50-an tokoh umat dalam acara Temu Ramah di Gedung Pertemuan Stasi Keluarga Kudus-Mahakarya, Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat. Hadir pada kesempatan tersebut Parokus P. Florianus Sarno, Pr – kini dipercaya sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Padang – dan P. Anselmus Tam­pubolon, Pr – pastor rekan yang kini sebagai parokus baru.

Selama dua hari Bapa Uskup di paroki ini. Minggu pagi (28/11) memimpin Perayaan Ekaristi di gereja paroki, siangnya mem­ber­kati dan meresmikan Gereja Stasi Santo Yohanes Pembaptis Ophir yang usai direnovasi dan diperluas hampir dua kali lipat luasnya dari gereja lama.

Sore sebelumnya, Bapa Uskup disambut oleh umat yang ber­kum­pul di halaman gereja paroki. Kelompok Bina Iman Remaja (BIR) menyuguhkan tarian tradisional Jawa kuda lumping dan sajian gamelan Jawa. Hal ini menambah kesan nuansa Jawa. Malam Temu Ramah diawali dengan pemaparan kondisi Stasi Mahakarya dari waktu ke waktu, disampaikan Ketua Stasi Petrus Nyoto Triatmodjo. Dilanjutkan dialog dan tanya jawab.

Dalam dialog dua sesi tersebut mencuat beberapa topik bahasan. Pada sesi pertama, dari umat muncul keprihatinan pada kasus murtad di kalangan keluarga muda dan anak muda Katolik terutama karena perkawinan, sekolah Katolik terasa semakin keting­galan dengan sekolah negeri dan bahkan dari sesama sekolah swasta lain, kecilnya persentase keikutsertaan perempuan Katolik dalam wadah Wanita Katolik RI di cabang dan ranting. Bapa Uskup memberikan tanggapan serta dilengkapi tanggapan P. Sarno, khususnya topik peran penting keluarga sebagai lahan penanaman nilai-nilai positif.

Pada sesi kedua, umat meminta perhatian pada masih kecilnya keikutsertaan dalam aktivitas Legio Maria, sorotan pada makin berkurang bergairahnya aktivitas pembinaan lembaga/komisi keuskupan ke Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat. Begitupun dengan perhatian pada komunitas Suster-Suster Belas Kasihan (SCMM) yang ada serta kunjungan ke rumah komunitas. Dalam dialog ini, terungkap juga kebu­tuhan tenaga katekis untuk berkatekese di paroki seperti waktu-waktu sebelumnya. Keluhan dan usulan dari umat mendapat tanggapan. Salah satunya Bapa Uskup meminta pastor paroki dapat menyelenggarakan Misa Kudus di komunitas SCMM. Keprihatinan Legio Maria dan lembaga keuskupan menurut Bapa Uskup hal itu tidak luput dari pasang surut serta perjalanan waktu. “Hal itu sebagai bukti bahwa kita kerap merasa tidak pernah cukup dan merasa ingin diisi terus,” ucap Uskup Vitus.

Hari kedua kunjungan pastoral uskup Minggu (28/11) pagi diawali dengan Perayaan Ekaristi. Mgr. Vitus sebagai selebran utama didampingi pastor paroki (P. Florianus Sarno, Pr) dan pastor rekan (P. Anselmus Tampubolon, Pr). Diperkirakan 400 umat mengikuti Perayaan Ekaristi ini. Misa Kudus semakin semarak dengan dukungan kelompok paduan suara dan peserta didik SD Keluarga Kudus yang memainkan angklung.

Usai Misa Kudus di gereja stasi – pusat paroki, Bapa Uskup melanjutkan perjalanan kunjungan pastoral ke Stasi Santo Yohanes Pembaptis Ophir. Di stasi ini ada dua peristiwa bersejarah, yaitu: pemberkatan – peresmian gereja baru hasil renovasi dan serah terima jabatan pastor paroki (parokus). Kalau di pusat paroki penyambutan rombongan Bapa Uskup kental bernuansa Jawa, di stasi Ophir kental bernuansa Batak. Ibu-ibu stasi menyambut rombongan Bapa Uskup dengan tor tor.

Prosesi pemberkatan gereja stasi diawali dari luar gereja. Setelah gereja dibuka, semua yang hadir berarak masuk ke dalamnya. Di awal perayaan Ekaristi, Bapa Uskup memberkati altar gereja stasi ini. Dalam homilinya, Bapa Uskup menyatakan adalah suatu hal yang membanggakan karena pembangunan gereja yang indah ini merupakan hasil dari perjuangan dan jerih payah umat setempat. Terasa betul perjuangan dan jerih payah umat untuk memiliki gereja yang diharapkan. “Pemberkatan gereja Stasi Ophir bertepatan dengan tahun liturgi yang baru dengan ‘rumah yang baru’ pula adalah sesuatu yang jarang kita alami.

Dalam Gereja Katolik, tahun baru liturgi dimulai pada akhir tahun, sungguh berbeda di kala banyak orang akan libur tutup tahun dan sibuk untuk tutup buku laporan. Hal demikian merupakan suatu hadiah dari Tuhan. Bahkan, gereja yang indah dan cukup megah ini tetap masih terasa sempit tatkala umat masuk ke dalam gedung gereja, seolah-olah tidak ada PPKM. Yang penting, dalam situasi pandemi ini, kita menjaga diri dengan protokol kesehatan saat berada di dalam gereja,” ucap Uskup Vitus.

Menurut Bapa Uskup Perayaan tahun baru liturgi berlangsung selama empat minggu selama masa advent. Pelan-pelan lilin advent dinyalakan sampai penuh untuk mengantarkan mempersiapkan hati menyambut kedatangan Sang Juru Selamat. Seperti puncak perayaan ini untuk memakai rumah baru Tuhan ini masih harus kita membuat PR yang tidak pernah selesai, mempersiapkan hati orang-orang yang mengisi gereja ini untuk berjaga dan berdoa sampai kedatangan Tuhan. “Percuma merayakan Natal setiap Tahun, kalau Tuhan Yesus tidak lahir di dalam hati kita dan menemukan palungan di dalam hati setiap umat. Setiap pemberkatan dan peresmian gereja baru, kita diingatkan Gereja yang sesungguhnya adalah batu-batu yang hidup, yaitu Anda sekalian – umat Tuhan. Keguyuban umat tidak datang otomatis, tetapi perlu terus dipupuk,” tandasnya.

Asyik “Berpolitik” Lupa Membangun Gereja

P. Sarno dalam sambutannya menjelaskan kronologis pelaksanaan pengerjaan renovasi gereja stasi ini. Imam Diosesan Padang memuji umat stasi setempat yang berjuang bersama untuk membiayai renovasi gereja ini, bahkan saat pemberkatan ini iuran untuk pembangunan terus berjalan, berjuang untuk mandiri. Dalam proses pembangunan gereja ini, P. Sarno mengaku dirinya hanyalah “pelengkap penderita” yang berperan utama adalah umat. Kalau mengukur uang yang dimiliki umat saat itu hanya Rp 45 juta, rasanya mustahil bisa merenovasi bangunan hingga semegah ini. “Saya tegaskan kalau kita sungguh-sungguh memuliakan Tuhan dengan ketulusan, segalanya bisa terjadi. Maka jangan ragu. Jalan Tuhan pasti ada. Contohnya ada donatur dari Pekanbaru yang saya tidak di mana orangnya menyumbangkan seperangkat sound system, ada juga penyumbang patung,” katanya.

Berbicara tentang visi Gereja Keuskupan Padang yang “Mandiri dan Berbuah”, menurut P. Sarno, umat stasi Ophir mampu menangkap gaya penggemba­laan­nya sebagai pastor paroki. Hakikat Gereja yang Mandiri dan Berbuah adalah tidak bergantung pada pastor parokinya, tetapi justru umat yang mesti berbuah dan buahnya kelihatan. Bukan hanya aspek bangunan, tetapi juga pembinaan umat. “Saya berharap umat di stasi-stasi lain jangan asyik berpolitik sehingga lupa membangun Gereja. Kalau asyik berpolitik hanya akan saling menyalahkan sana-sini yang akhirnya sumbangan untuk me­mu­liakan Tuhan hanya menya­lahkah. Kalau umat menyudut­kan sana sini, maka sumbangan­nya hanya menyalah­kan. Coba­lah menang­kap gaya dan pemi­kiran yang akan diraih oleh pastor, terus umat menyambut dengan berbuat. Saya tidak merasa membangun gereja stasi Ophir ini,” tegasnya.

Moment ini bagi P. Sarno sekaligus untuk perpisahan dengan umat karena mendapatkan tugas pelayanan baru sebagai Vikaris Jendral (Vikjen) atau wakil uskup. Maka dalam Perayaan Ekaristi ini juga berlangsung serah terima jabatan (sertijab) pastor paroki. Terkait tugas baru dan pembebasan tugas sebagau pastor paroki, P. Sarno mengharapkan agar umat mampu menangkap gaya dari pastor paroki yang baru. Soal tenaga pelayanan pastoral, selagi belum ada imam yang membantu Rm. Ansel di Pasaman, dirinya masih dengan senang hati untuk membantu melayani umat pada Sabtu dan Minggu.

Sebelum sertijab, dibacakan Surat Keputusan Bapa Uskup mengenai pembebasan tugas Pastor Sarno sebagai pastor paroki. Pada kesempatan sama, dibacakan Surat Keputusan Uskup Padang tentang pengangkatan Pastor Rekan, P. Anselmus Tampubolon sebagai Pastor Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat yang efektif berlaku mulai tanggal 29 November 2021.

Upacara didahului dengan pengakuan iman dilanjutkan kesediaan P. Anselmus Tampubolon sebagai pastor paroki. P. Anselmus menyampaikan janji di depan uskup dan umat. Setelah pelantikan parokus dipimpin Bapa Uskup, berlangsung penandatanganan berita acara sertijab disertai kunci gereja, Buku Kanonik, Buku Laporan Keuangan.

Acara ramah tamah berlangsung usai Perayaan Ekaristi dan santap siang bersama di aula stasi yang terletak di samping gedung gereja. Di kesem­patan ini, selain acara hiburan juga dimanfaatkan untuk berdialog dengan Bapa Uskup. Sebagai parokus baru, P. Anselmus dalam sambutannya menyatakan dirinya merasa tidak layak menerima tugas mulia untuk menggembalakan umat Paroki Keluarga Kudus Mahakarya Pasaman Barat, karena masih banyak pastor yang lebih senior daripadanya.

Namun sejak saat kedatangan Bapa Uskup ke paroki ini dalam perbincangan pribadi mendengarkan langsung alasan ditunjuknya dirinya sebagai parokus, terjawab semua pertanyaan dan kegalauan hatinya sehingga semakin bersedia menerima tugas mulia ini. “Saya dipandang bisa mendampingi dan melayani umat. Gereja di Pasaman Barat ini sudah mandiri dan berbuah. Maka keberadaan saya di Pasaman Barat untuk mendam­pingi umat supaya semakin mandiri dan berbuah. Selama setahun dua bulan di paroki ini membuat saya semakin bersemangat untuk melayani umat. Maka saya akan menerus­kan yang telah dimulai para pendahulu di paroki ini,” katanya.

Mgr. Vitus dalam sambutan­nya menyatakan selama di Pasaman bisa merasakan umat yang berdinamika, pastor hadir untuk mendampingi. Untuk memperkuat tenaga imam di paroki ini, Bapa Uskup menyatakan tidak akan membiarkan Rm. Ansel sendirian. Akan ditugaskan seorang pastor yang datang dari Padang setiap Sabtu atau Minggu. Namun demikian, Bapa Uskup tidak menyebutkan nama pastor yang dimaksudkan. Terkait penunjukan sebagai parokus, Bapa Uskup menyatakan, “Panggilan dan penunjukkan kadang terlalu besar, sehingga membuat kita tidak pantas. Hal yang sama juga saya rasakan,“ kata Mgr. Vitus.

 

(hrd & ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *