Dipercaya sebagai ketua stasi, saya jalani bagaikan air mengalir!” ungkap Ignatius Maryono (68), Sejak tahun 2019, lelaki kelahiran Yogyakarta 1 Desember 1953 ini sebagai Ketua Stasi St. Yohanes Pembaptis-Ophir, Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat Jabatan sama pemah diembannya tahun 1999-2005. Meski beretnis Jawa, suami Yovita Nursriani (59) ini memimpin umat stasi yang mayoritas (80%) etnis Batak. Data Desember 2020, umat stasi ini 134 keluarga (489 jiwa).

Merunut keberadaannya di Pasaman Barat, alumni SPG Pangudi Luhur, Yogyakarta (1972) ini berkisah karena ajakan Yayasan Prayoga Padang. Tahun 1973, ada tawaran menjadi guru SD dan katekis. Maryono menerimanya. Sebelum bersama Pastor Corvini ke Pasaman, ia seminggu tinggal di asrama Don Bosco Padang. Penempatan pertama sebagai guru di SD Perinitis-Sumber Agung (1973 1978). Karena bermunculan SD Inpres, sekolah) Katolik ini ditutup. Maryono dipindahkan ke SD Budi Setia-Ophir (1979-1980). Maryono pemah mengajar di SD Keluarga Kudus-Kotobaru (1980 1985, 1990-1999). Tahun 1980, Maryono menikahi dengan Yovita Nursriani gadis kelahiran Kendal, Jawa Tengah dikaruniai dua anak. Setelah sepuluh tahun (1999-2009) mengajar di SD Budi Setia, Ophir, Maryono puma bakti (pensiun).

Selain sebagai guru sekolah, kakek dua cucu ini menjadi pendamping Gereja stasi. Bila tidak ada pelayanan pastor, Maryono memimpin ibadat sabda dan doa lingkungan. Saat dua periode pertama sebagai ketua stasi (1999-2005), rencana pem- bangunan gereja stasi menjadi prioritasnya. Kala itu, gereja sederhana, terbuat dari kayu, berukuran sembilan kali dua belas meter. Meski renovasi gere- ja sudah selesai dan menjadi luas (17,5 x 34 me- ter) dan diberkati Bapa Uskup (28/11) masih banyak pekerjaan yang mesti dituntaskan. Menurut Maryo- no biaya renovasi gereja dari swadaya (iuran) su- karela dan sumbangan wajib umat, dari kolekte, dan ucapan syukur umat pada ibadat mingguan.

Menurutnya, proses pembangunan dan renovasi gereja stasi ini tidak mengalami kendala dari peme rintah maupun masyarakat sekitar. Maryono ingin menikmati masa pensiunnya dengan santai, namun umat empat lingkungan di stasi ini menginginkan nya sebagai ketua. la merasa kemampuan fisiknya semakin terbatas. Maryono kini beternak sapi dan berkebun kelapa sawit. Dalam menjalani hidup, guru yang mengajar tiga puluh enam tahun ini menganut prinsip ‘mengalir bagaikan air (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.