Gerakan Sinode (Jalan Bersama) menjadi kesempatan bagi Gereja Lokal untuk “melihat dirinya”.
Kesempatan ini menjadi saat untuk berefleksi – melihat masa lalu, kondisi masa kini, dan merancang arah-langkah ke masa depan.
Bagaimanakah umat basis, paroki, dan Gereja Lokal (Keuskupan Padang) berjalan bersama?

 

Sepuluh hari setelah tahbisan episkopal, Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX membuka Sinode Keuskupan Padang (17/10). Sejak itulah, Keuskupan Padang melaksanakan sinode hingga Februari 2022, sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 01/Skp/KP/D.1.1.Spa/XI/ 2021 tentang Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang yang ditandatangani Uskup Padang pada 5 November 2021.

Namun, sesuai dengan Komunike Pers Sekretariat Jenderal Sinode Para Uskup mengenai “Perpanjangan batas waktu proses sinode tahap pertama” sampai 15 Agustus 2022. Dalam SK tersebut, Bapa Uskup menulis Sinode merupakan bentuk partisipasi atas ajakan Paus Fransiskus untuk semua Gereja lokal di seluruh dunia, dengan tema “Sebuah Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi”. Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang dibentuk untuk mengolah hasil sinode paroki-paroki dan mengoordinir serta bekerja sama dengan paroki se Keuskupan Padang.

Sebelumnya, perihal sinode atau pertemuan para uskup sedunia 2023 disampaikan Kardinal Ignatius Suharyo, SJ saat tahbisan Uskup Padang (7/10/2021). Pembukaan resmi oleh Bapa Suci bertepatan dengan Misa Pontifical Pertama Uskup Vitus (10/10/2021). Dalam sambutannya, Kardinal Suharyo menyatakan, “Baru sekali ini dalam sejarah Gereja Katolik, Sinode Para Uskup diawali dengan sinode-sinode lokal di tiap keuskupan. Kami berharap Keuskupan Padang dapat memberikan sumbangan gagasan yang akan dibawa KWI ke forum para uskup tersebut.”

Untuk merealisasikan sinode di tingkat Keuskupan Padang, sejumlah langkah telah ditempuh panitia inti. Setiap paroki diharapkan segera menunjuk nara hubung dan tim. Berdasarkan pantauan, hingga akhir November 2021, ada beberapa paroki yang ‘telah bergerak dan berjalan, namun ada juga paroki yang tahap pemanasan.

Bergerak Bersama dan Cepat

Dihubungi GEMA lewat media sosialnya, Katekis Paroki Siberut di Wilayah Sagulubeg, Stepanus Sakakadut menginformasikan di parokinya telah dilaksanakan pertemuan dalam rangka Sinode Keuskupan Padang, pada Senin (15/11). Peserta pertemuan pengurus 27 stasi; setiap stasi tiga orang. Pertemuan diawali dengan misa, pembuka, dilanjutkan dengan rekoleksi tentang sinode Pastor Paroki (RP Antonius Wahyudianto, SX). Hari kedua (16/11), usai Misa pagi berlanjut dengan aneka kegiatan berkaitan dengan sinode hingga malam hari. Hasil pertemuan ini (15 18/11) ‘diperas’ oleh Dewan Pastoral Paroki (DPP). Dari bahan yang disiapkan panitia inti tingkat keuskupan, semua dibahas, kecuali bagian B.

Narahubung dari Paroki St. Fransiskus Xaverius-Dumai, Antonius Suharsono mengabarkan pada pekan pertama November (8/11) di parokinya dibentuk tim sinode paroki. Untuk sosialisasi dan gerakan bersama, dicetak spanduk sinode untuk dipasang di gereja stasi dan gereja paroki. Selanjutnya, tim sinode paroki melengkapi tenaga fasilitator dan notulis pertemuan di (stasi, lingkungan, kelompok kategorial, komunitas). Saat Hari Raya Kristus Raja (28/11) dilaksanakan pembukaan sinode paroki, serentak juga di stasi-stasi dalam Misa atau Ibadat Sabda ditandai adanya spanduk. Pastor dan pemimpin ibadat dalam homilinya menyampaikan renungan berasal dari butir-butir Surat Gembala Uskup (SGU). Selanjutnya, Sabtu-Minggu (27-28/11) berlangsung sosialisasi bahan pertemuan bagi para fasilitator.

Suharsono menambahkan sesuai jadwal, dari Desember 2021 hingga Maret 2022 adalah pelaksanaan eksplorasi tema tema terpilih di stasi, lingkungan, dan komunitas. Pada April 2022, tim paroki merumuskan sintesanya dan meneruskannya ke narahubung keuskupan. “Setelah langkah pendahuluan, tim paroki mengolah bahan pertemuan umat dengan mengeksplorasi tema terpilih. Bahan olahan untuk keperluan Musyawarah Pastoral 2019 tidak lagi digunakan, karena bahan Muspas telah dirumuskan Badan Pekerja. Beda dengan sinode kali ini, yang dipandang sebagai ‘jalan bersama’ dengan mendalami dan mengeksplorasi sepuluh tema yang sama sedunia,” ujarnya lagi.

Narahubung Paroki Stella Maris, Betaet, Bartolomeus Terangenung Tapondhaddhai menyatakan pembukaan Di paroki dilaksanakan bertepatan dengan kunjungan pastoral Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, pada 18 November 2021. Barto membeber kan tugas dan tanggung jawabnya sebagai narahubung tingkat paroki. “Sejauh pemahaman saya saat mengikuti pertemuan virtual lewat Zoom Meeting para narahubung paroki sekeuskupan, sumber/bahan berasal dari tim keuskupan yang diteruskan ke paroki perlu ada penyesuaian,” katanya.

Lewat komunikasi Zoom Meeting itu, sambung Barto, dirinya mendapat informasi adanya pembahasan untuk menanggapi sepuluh pertanyaan sebagai bahan bahasan di tingkat lokal (rayon/kring/stasi, dan paroki). “Di tingkat paroki, saya juga membentuk tim guna menunjang pembahasan. Tentu saya tidak bisa bekerja sendiri, mesti berkoordinasi dengan pastor paroki, menyertakan pengurus rayon maupun DPP. Meski kadang terkendala sinyal, bila ada kesulitan, saya sampaikan lewat grup WhatsApp (WA) Narahubung dan bertanya kepada Narahubung Keuskupan,” tukasnya.

Barto mengakui gerak atau langkahnya di Paroki Betaet tidak secepat narahubung di paroki lain. “Kami agak telat karena pada saat nyaris bersamaan, kami menyiapkan berkaitan kunjungan pastoral perdana Bapa Uskup di Kepulauan Mentawai. Ada persiapan untuk pemberkatan tiga bangunan gereja di tiga stasi berbeda, penerimaan Sakramen Krisma (Penguatan) di Stasi Simalibeg dan pusat paroki. Meski agak telat semoga kami bisa segera mengejar ketertinggalan. Saya berkoordinasi dengan pastor paroki merancang jadwal pertemuan- semacam ‘sinode mini’ dengan para ketua rayon/lingkungan/stasi pada minggu pertama atau kedua Desember 2021 ” tandasnya.

Situasi nyaris sama juga terjadi di Paroki St. Ignatius dari Loyola Pasirpengaraian, Riau. Narahubung sinode paroki ini Julius Parno menyatakan pada, Sabtu (27/11) berlangsung sosialisasi separoki. Dalam sosialisasi ini dilaksanakan juga simulasi pertemuan sinode sehingga para fasilitator mendapatkan gambaran dan pengalaman saat melaksanakan pertemuan di tempat masing-masing. Untuk pertemuan di stasi dianjurkan mulai Desember 2021. Pertemuan sinode tingkat stasi dikoordinir oleh pengurus wilayah dan dipantau tim inti paroki.

Untuk jangka pendek, sambung Julius, pada Desember 2021 dijadwalkan pembahasan tema pertama. Hasilnya ditulis oleh sekretaris masing-masing dan dikumpulkan ke tingkat wilayah. Jadwal. rinci belum dibuat karena bersamaan dengan persiapan perayaan Natal. Pihaknya mempersilakan tiap stasi maupun lingkungan melaksanakan pertemuan Adven untuk membahas tema sinode.

Umat Antusias

Sementara itu, narahubung Sinode Paroki St. Petrus Claver Bukittinggi sekaligus narahubung Sinode Paroki St. Petrus Apostolus Padangpanjang, P. Antonius Sutatno, SX (34) menyatakan bahwa pembukaan sinode di dua paroki berlangsung bersamaan, 17 Oktober 2021, bertepatan dengan pembukaan sinode tingkat keuskupan, ditandai pembacaan Surat Gembala Uskup (SGU). “Saya di Paroki Padangpanjang, Pastor Enrique di Paroki Bukittinggi. Hal yang juga dilaksanakan saat Perayaan Sabda di Stasi Batusangkar dan Stasi Panti.” katanya.

Sesuai harapan narahubung sinode paroki se-Keuskupan Padang (5/11) segera bergerak cepat, meski gerakan umat terbatas karena pandemi Covid-19, pastor muda Xaverian ini segera mengumpulkan sebelas ketua rayon, perwakilan Komuni tas Suster OSF, perwakilan DPP di Paroki Bukittinggi. Di kesempatan itu peserta mendapat penjelasan mengenai hal-ikhwal sinode tingkat paroki yang bersumber dari materi Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang. Hal yang sama juga dilakukan di Paroki Padangpanjang.

Dari pertemuan itu, lanjut P. Tatno, peserta Bukittinggi memilih tema nomor 4 (Perayaan Liturgi) dan nomor 6 (Dialog dan Kerjasama di Tengah Umat). Sementara itu, peserta Paroki Padangpanjang memilih tema nomor 1 (Perjalanan Bersama), 4, dan 6. Ada ‘kesamaan’ dua paroki ini, yakni urusan internal Gereja (tema 1 dan 4) serta eksternal Gereja (tema 6). “Setelah sosialisasi dan pembekalan, peserta menyelenggarakan sinode di tempatnya masing-masing, dengan mempertim bangkan waktu dan kebiasaan umat,” imbuhnya.

Meskipun para ketua rayon sudah mendapatkan pembekalan, Pastor Tatno kadang kala membantu langsung di beberapa rayon. Biasanya, kalau ada pastor, umat akan lebih serius bersinode. Beberapa rayon sudah melangsungkan sinode. Ada yang baru pertama kali, ada pula rayon yang memasuki pertemuan kedua. Prosesnya terpulang pada kondisi setiap rayon. “Secara pribadi, saya bersyukur dengan ungkap curah umat dalam setiap pembahasan tema sinode. Dari situ saya dapat mengetahui aspirasi, keinginan umat dalam kehidupan menggerejanya,” ungkap P. Tatno. Dari pengamatannya hingga 8 Desember 2021, P. Tatno menilai umat terlihat antusias untuk bersinode. Hal ini tidak luput dari kemampuan fasilitator dalam menciptakan suasana nyaman bagi peserta saat pertemuan. Fasilitator diharapkan mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa lebih sederhana, karena ada bahan sinode yang menggunakan bahasa teologi ‘tingkat tinggi yang tidak dipahami semua warga. Dalam proses sinode warga tampak senang untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, komentarnya. Umat merasa ada perbedaan antara sinode dulu dan sekarang. “Menurut mereka sinode sinode (Musyawarah Pastoral) dulu terkesan elitis, dilakukan kalangan tertentu. Sekarang ini suara, aspirasi, komentar ditampung tanpa terkecuali,” tukasnya.

Untuk kelompok spesifik (khusus), sambung P. Tatno, di Paroki Bukittinggi ditawarkan sinode khusus bagi kelompok guru, bahkan menjadi kebutuhan mendesak saat kini. Di Paroki Padangpanjang, ditawarkan sinode khusus bagi kelompok Orang Muda Katolik (OMK) tujuannya suara kaum muda terangkat dan didengarkan. Mengenai kendala, P. Tatno mengungkapkan hampir sama di tempat lain, terutama ada umat yang malu bercerita atau berbagi pengalaman. Memang ada satu dua umat yang merasa tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan. “Dalam kondisi ini fasilitator dituntut mampu memancing hingga menggali aspirasi, pendapat, komentar, suara umat. Pertemuan sinode bisa sebagai kesempatan belajar bersama, tidak semata-mata menyelenggarakan pertemuan dan membuat laporan. Sinode ini juga kesempatan dan gerakan bersama memperbaiki Gereja di tingkat kring/rayon, stasi/wilayah, paroki maupun keuskupan hingga Gereja Universal. Dari proses yang sedang berjalan ini, P. Tatno mendapati temuan misalnya kelemahan dalam berkatekese. Terasa saat ini kurang gencar berkatekese. Dalam dialog dan diskusi di rayon hal itu terungkap. Dengan bersinode diakuinya, pastor pun menjadi lebih terbuka dan tahu kebutuhan umatnya.

Konsentrasi Adven dan Natal

Sementara itu, Narahubung Sinode Paroki Santa Maria Bunda Yesus, Padang, B. Karyadi mengabarkan penyelenggaraan sinode di parokinya berlangsung pada Januari-Februari 2022. Pembukaan sinode paroki pada 24 Oktober 2021. Bulan November dan Desember 2021, fokus pada Adven dan Natal.

Narahubung Sinode Paroki St. Fransiskus Asisi Padang, Mathias Herdyanto Sujono mengungkapkan hal yang sama. “Dí paroki kami belum ada pembukaan resmi. Sebelum Natal sedang perumusan bahan (8 pertemuan), pemben tukan tim, dan sosialisasi di tingkat DPP. Kami bersinode pada Januari 2022,” ungkapnya.

Sartoli narahubung Sinode Paroki St. Petrus-Tuapeijat menyatakan di parokinya juga tidak ada pembukaan sinode dalam bentuk misa. “Pembukaan sinode di paroki kami lewat pertemuan Bapa Uskup dalam acara rekoleksi. Rekoleksi menitikberatkan pada pembahasan sinode di Keuskupan Padang,” ucapnya.

Sartoli membeberkan sejumlah langkah yang dilakukannya selaku narahubung. Pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan seluruh pengurus kring dan kelompok kategorial, termasuk para suster, yang dihadiri pastor paroki. Dalam pertemuan itu disepakati pelaksanaan sinode di tingkat kring/kelompok kategorial selama masa Advent. Metodenya diserahkan pada pengurus kring, bisa berselang-seling maupun bersamaan waktunya. Misalnya setelah pendalaman iman dilanjutkan diskusi tentang sinode menanggapi satu atau dua pertanyaan meski beresiko butuh waktu lama. Di Stasi Betumonga, sinode dilakukan saat kunjungan pastor (27 28/11), Stasi St. Paulus Goiso’Oinan, minggu berikutnya. Jumlah pertemuan empat hingga lima kali pertemuan. Untuk merangkum hasil sinode di tingkat basis dibentuk tim formatur. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.