PEKAN BIASA VI (13 Februari 2022)
Yer 17:5-8; Mzm. 1:1-2, 3,4,6; 1 Kor 15:12, 16-20; Luk 6:17, 20-26

 

UNTUK APA HIDUP INI? Apa yang perlu dilakukan selama hidup? Menjadi apa dan melakukan apa selama hidup? Masih banyak pertanyaan bisa diajukan sebagai acuan untuk memaknai hidup. Jawaban atas pertanyaan itu sudah cukuplah untuk mendapatkan gambaran tentang hidup seseorang.

Soal apa dan bagaimana tujuan hidup juga diajukan oleh nabi Yeremia kepada umat Yehuda pada zaman Perjanjian Lama. Nabi Yeremia memberikan pilihan serta jawaban akan dua cara kehidupan yang dilakukan bangsa Yehuda. Yeremia menyatakan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari Tuhan!…… Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!…..”

Yeremia mengajukan pertanyaan itu, karena bangsa Yehuda saat itu meninggalkan Allah dengan mengadakan aliansi militer dengan negara-negara kafir, Asyur dan Mesir. Bukan hanya itu, penduduk Yehuda melanjutkan kebiasaan agama kafir seperti yang mereka telah lakukan pada pemerintahan sebelumnya dan menjadikannya praktek hidupnya. Ada ibadah kepada Baal, ada berhala-berhala pelacuran suci, dan praktek ketidakadilan sosial menjadi gaya hidup yang lazim di Yehuda.

Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri pada kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang yang mengandalkan Tuhan. Ada akibat yang sangat mengerikan jika seseorang lebih mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri. Bukan hanya tidak mendatangkan berkat, melainkan akan mendatangkan kutuk Mereka yang mengandalkan diri pada manusia serta segala yang ada pada mereka, oleh nabi Yeremia dilukiskan sebagai padang gurun penuh semak bulus yang tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Bentuk kepercayaan yang berpusat pada diri manusia pasti akan bermuara pada kekecewaan dan pasti akan lenyap. Mereka tidak akan mengalami datangnya masa kebaikan. Mereka akan menemui hari-hari kehidupan dalam ketakutan, kecemasan dan kebinasaan.

Sebaliknya bagi mereka yang mengandalkan Tuhan ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air. Bisa jadi pohon yang ditanam pada tepi air itu akan mengalami masa yang berat saat masa pertumbuhannya, tapi ia akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan yang membuat akarnya semakin tertancap dalam, berdiri kokoh dan menghasilkan buah. Ini merupakan hal yang serius. Dosa ketidak-setiaan bangsa Yehuda ini telah tertulis (terukir) supaya juga menjadi peringatan bagi kita. Ini menjadi latar belakang dan penegasan dari bacaan pertama hari ini yang menggambarkan dosa Yehuda, ketidaksetiaan dalam hubungan dengan Allah dan konsekuensi yang diterima yaitu dosanya telah tertulis (terukir).

Dalam Injil hari ini juga ada dua tawaran untuk hidup kita, yaitu: terberkati atau terkutuk, berbahagia atau celaka. Pilihan ini tergantung pribadi masing masing. Namun, sebagai seorang beriman, sejatinya memilih menjadi pribadi yang terberkati dan bahagia. Jalan atau cara yang harus diikuti untuk menjadi pribadi yang terberkati dan bahagia adalah dengan mengandalkan Tuhan seperti diserukan Yeremia.

Tuhan Yesus menegaskan salah satu cara untuk menuju kebahagiaan adalah dengan menjadi miskin di hadapan Allah. Artinya, senantiasa mencari TUhan dari waktu ke waktu. Bergantung sepenuhnya kepada penyelenggaraan Tuhan karena tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. Miskin di hadapan Allah, tidaklah dimaknai miskin materi, tetapi merasa rendah hati di hadapan Allah sehingga hidup ini bergantung pada Allah. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.