Hari Minggu Biasa III (23 Januari 2022)
Neh 8:3-5a, 6-7, 9-11; Mzm. 19:8,9,10,15; 1 Kor: 12:12-30
atau 1 Kor 12:12-14,17; Luk 1:1-4, 4:14-21

 

NABI NEHEMIA tampil sesudah bangsa Israel mengalami pembuangan. Nehemia “membangun” Israel sesudah masa pembuangan di Babel, tidak banyak yang mau kembali untuk membangun tanah airnya yang hancur. Mereka trauma dengan kehancuran kerajaan Israel yang dialami sebelumnya. Pertanyaan besar selalu bergelayut di benak mereka: “Mengapa Israel hancur, apakah Tuhan tidak lagi ada di pihak mereka?” Harapan besar waktu mereka membangun kenisah, ternyata tidak terpenuhi. Israel tetap sebagai budak.

Menurut penulis kitab Nehemia, Allah tetap hadir dan berkarya pada zamannya. menurut cara-Nya. Pembicaraan mengenai hukum Taurat merupakan contoh bahwa Allah bisa hadir dan mau hadir serta berkarya di tengah-tengah mereka. Seperti dahulu Allah hadir dan berkarya lewat perjuangan para leluhur dalam iman, demikian pula kini Allah hadir dalam perjuangan orang beriman menanggapi hukum Taurat itu. Pada hari saat bangsa Israel diajak merenungkan kembali peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah dialami nenek moyangnya, Allah hadir dan menuntun kehidupannya. Melalui hukum Taurat, Allah hadir dan menuntun hidup bangsa Israel pilihan-Nya.

Dalam pesta-pesta besar umat Isarel seperti: Paskah, Pentakosta dan Pondok Daun, umat melakukan ziarah untuk merayakan karya agung Allah. Dalam kesempatan itu hukum dan perintah Allah diingatkan, Taurat kembali dibacakan. Tugas para imam dan ahli Taurat ialah menerangkan hukum itu bagi umat. Hukum bukan sekedar peraturan, melainkan petunjuk kehidupan, pengarah hidup. Hukum itu perlu ditafsirkan bagi kehidupan yang nyata. Allah hadir dalam hukum dan perintah-Nya. Bila hukum dibacakan, maka sabda Allah dikumandangkan dan mengajak orang membangun sikap tobat. Sikap itulah yang mengarahkan orang beriman kepada Allah.

Keprihatinan terhadap pengembangan jemaat beriman mendorong St. Paulus untuk menggali kekayaan dan pengalaman yang menyegarkan perjuangan umat dalam iman. St. Paulus menunjukkan bahwa peranan yang berbeda-beda dalam kehidupan dan karunia harus dihargai dan dihayati nilainya bagi seluruh kehidupan. Perhatian St. Paulus terletak pada solidaritas Yesus Kristus dalam hidup jemaat beriman. Yesus Kristus bukan hanya “motor” kepala orang beriman, melainkan yang menjadikan anggota anggota Tubuh-Nya hidup. Maka orang yang bersatu dalam Kristus juga mempunyai peranan ikut menampakkan kemuliaan, kesegaran seluruh tubuh-Nya. Manusia satu sama lain solider bukan hanya karena kodrat sosialnya, melainkan karena anugerah rahmat yang dihidupkan dalam Yesus Kristus ini. Jemaat Kristen membangun kehidupan dalam Yesus Kristus agar seluruh Tubuh sehat. Sebagai tubuh Kristus yang sehat, jemaat perlu memperhitungkan anggota yang memang bisa berperan penting dalam jemaat. Tubuh Kristus dibangun oleh aliran Roh-Nya yang harus diberi kemungkinan dan kesempatan meresapi seluruh Tubuh Kristus sehingga menjadi tubuh yang mulia dan jaya.

Injil hari ini terdiri dari dua bagian berbeda. Luk 1:1-4, merupakan prakata yang berperan sebagai pengantar seluruh Injil. Pada bagian awal ini ditegaskan yang hendak dirumuskan dalam Injil, yakni renungan atas peristiwa kehidupan bersama Kristus berdasarkan kesaksian para saksi mata dan pewarta iman Kristen. Tulisan ini ditujukan kepada Theofilus. Penginjil tidak mau sekedar memberikan kisah tentang Yesus. Tulisan

Lukas adalah proklamasi akan makna dan nilai Yesus Kristus sebagai warta gembira dari Allah. Dalam Luk 4:14-21. digambarkan tentang karya awal Yesus di Nazareth. Dalam pewartaan awal kehidupan dan karya Yesus, penginjil menampilkan pribadi Yesus sebagai pewarta kabar gembira berkat kuasa Allah yang berkarya dalam pribadi ini. Penginjil menampilkan makna dan nilai pribadi ini sebagai warta gembira bagi kaum dina, lemah, miskin dan papa. Warta gembira ini membuka mata semua orang pada saat itu.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.