Sebagai narahubung pelaksanaan sinode Paroki St. Maria a Fatima Pekanbaru, saya merancang lima hal: (1) persiapan, (2) pemahaman, (3) gerak awal, (4) rencana selanjutnya, (5) penghubung gerak sinode.

Persiapan: setelah tahu ditunjuk sebagai narahubung paroki oleh pastor paroki, saya segera memperoleh Surat Gembala Uskup (SGU) berkaitan Sinode 2023. Saya berusaha menemukan ‘benang merah’ atau sari pati SGU. Ternyata ada sebelas butir. Saya mengambil beberapa saja, yaitu: sinode ini mendorong refleksi umat dari bawah (termasuk umat bawah) yang selama ini dikesampingkan, bersinode berarti berjalan bersama Tuhan Yesus di dunia, pola dalam bersinode mendengarkan, mengedepankan dialog, konsultasi, sharing untuk mengumpulkan kekayaan pengalaman hidup, jika mau berjalan bersama Tuhan Yesus, harus siap memberi diri dan melayani serta komitmen setiap saat, dan berusaha mewujudkan Gereja sinodal (persekutuan, partisipasi, misi).

Setelah itu, untuk mengingatkan seluruh aktivitas, saya membuat banner dan dipasang di depan gereja, di luar sekretariat paroki. Tujuannya untuk menyapa umat dan para tamu yang berkunjung ke pastoran. Selanjutnya, saya menyusun/membuat strategi: apa dan kapan mau bersinode! Berdasarkan dokumen dari panitia inti keuskupan, saya membuat lembar-lembar rangkuman yang akan disampaikan kepada tim penggerak dan meminta persetujuan parokus – sebagai bahan presentasi saya kepada tim penggerak. Kemudian saya mengundang anggota DPP harian-dijadikan tim inti sinode dengan surat keputusan parokus. Saya sampaikan 31 lembar bahan presentasi untuk memberikan gambaran tentang sinode dan tanggung jawab tim – yang diketuai Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) beranggotakan semua DPP harian.

Pemahaman: saya mengundang para ketua stasi, lingkungan, kelompok kategorial dan ormas untuk mensosialisasi penyelenggaraan sinode. Merekalah yang menjadi fasilitator di lapangan.

Gerak awal: saya membuat peta pertemuan sinode hingga ke stasi-stasi dan lingkungan, Pemetaan telah disiapkan, namun saya mesti menuntaskan calon fasilitator yang belum paham. Dirancang, pertemuan dan pembahasan tentang sinode di stasi dan lingkungan. Selanjutnya kelompok kategorial dan komunitas lainnya.

Rencana lanjutan: menguji kesiapan fasilitator di lapangan. Sebagai narahubung, saya berusaha membawa “hajatan” ini hingga selesai pada sintesis yang diharapkan oleh paroki dan keuskupan pada Mei 2022. Hingga pertengahan Desember 2021, aktivitas pendalaman iman masa Adven berjalan biasa. Di Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru, pertemuan dan pembahasan sinode dimulai pada Januari 2022, walau di beberapa paroki lain sudah menyelenggarakannya terlebih dulu, bahkan telah mencapai pertemuan kedua (bahkan mungkin ketiga). Mungkin ada sebagian kalangan yang khawatir bakal padat jadwal untuk penyelenggaraan pertemuan sinode, namun saya optimis rencana ini bisa terlaksana.

Dalam konteks sepuluh pertanyaan panduan, saya melihat sejumlah keterkaitan dengan keunikan paroki ini, yakni: keterlibatan yang masih perlu digiatkan, regenerasi belum mantap (aktivis masih orang itu-itu juga), kegiatan berkaitan kesaksian di tengah masyarakat belum tampak jelas, umat ber anggapan sebagai minoritas, fenomena per pindahan ke agama lain di kalangan orang muda, belum sepenuhnya transparan kebi jakan pastoral, dan pembinaan diri dalam sinodalitas masih terasa kurang. (hrd)

 

Didik Warsito
Narahubung Paroki Santa Maria A Fatima, Pekanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.